Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 01 November 2026

Industri Seafood Thailand Masih Pekerjakan Anak-anak

Redaksi - Sabtu, 10 Oktober 2020 11:10 WIB
268 view
Industri Seafood Thailand Masih Pekerjakan Anak-anak
Foto:dok/Int
Chit Su, migran perempuan berusia 15 tahun saat bekerja di pusat pengolahan hasil laut, di Thailand selatan.
Bangkok (SIB)
Chit Su, remaja berusia 15 tahun, telah lebih dari setahun terjebak di dalam bilik kontrakannya, mengupasi kulit kepiting bersama sang nenek. Pekerjaan ini ia lakukan sejak ditutupnya sekolah untuk migran asal Myanmar tahun lalu di Thailand Selatan. Bahkan setelah bekerja bersama neneknya, upah yang mereka hasilkan per harinya masih lebih rendah daripada standar upah minimum.

Sepuluh sekolah untuk para migran di Provinsi Ranong telah ditutup setelah adanya penggerebekan pada bulan Agustus 2019 oleh pejabat Thailand. Razia ini menargetkan guru asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen. Para aktivis mengatakan bahwa penutupan sekolah telah mendorong banyak mantan anak muridnya bekerja secara ilegal di industri makanan laut.

"Pekerjaan ini sulit ... jika saya belajar, saya nantinya bisa melakukan pekerjaan yang tidak terlalu sulit. "Tetapi sekarang, jika saya tidak membantu nenek, kami tidak punya uang," kata Chif Su yang namanya diubah untuk melindungi identitas.

Dia bersama neneknya menghasilkan 240 baht (sekitar Rp 113.000) per hari. Upah ini jauh di bawah standar minimum di Ranong yang besarnya mencapai 315 baht (Rp 149 ribu). Selain untuk kebutuhan sehari-hari, uang itu sebagian besar dipakai untuk melunasi utang keluarga mereka yang jumlahnya mencapai 8,000 baht (Rp 3,77 juta).

Chit Su termasuk di antara 2.800 anak asal Myanmar yang terkena dampak penggerebekan di pusat pembelajaran migran, Ranonghtarni, tahun lalu yang memaksa sekolah tersebut ditutup. Lebih dari 30 orang guru asal Myanmar juga telah ditangkap.

Seperti Chit Su, banyak mantan siswa ini sekarang bekerja di pasar ikan swasta atau di rumah-rumah mengupas kepiting skala industri yang bernilai miliaran dolar. Industri ini sedang diawasi secara global atas tuduhan memekerjakan buruh asal Thailand dan buruh migran secara tidak manusiawi.

Thomson Reuters Foundation mewawancarai 11 buruh anak di Ranong yang bekerja tanpa izin di industri ini. Para aktivis hak-hak anak mengatakan penutupan sekolah pada tahun lalu telah menjerumuskan banyak anak dari sekolah migran ke dalam pekerjaan ilegal dengan bayaran rendah. Kini, pandemi Covid-19 meningkatkan risiko bagi para buruh anak.

Sebelumnya PBB telah memperingatkan bahwa jutaan anak di seluruh dunia terpaksa bekerja karena sekolah tutup dan keluarga mereka berjuang untuk bertahan hidup di tengah terpuruknya ekonomi akibat pandemi.

Masih Diperdebatkan
Di Thailand, pandemi telah menyebabkan pergeseran dari pengolahan makanan laut di pabrik atau gudang pengupas menjadi pekerjaan rumahan yang seringnya dilakukan oleh para migran. Di salah satu lingkungan yang sebagian besar dihuni oleh migran asal Myanmar di distrik Muang Ranong, tidak jarang ditemui anak-anak berusia 10 tahun bekerja menggunakan benda-benda tajam untuk membantu keluarga mereka mengupas kepiting yang setiap hari dibawa oleh pemasok makanan laut.

Thailand melarang anak berusia di bawah 15 tahun untuk bekerja, serta melarang anak berusia di bawah 18 tahun untuk melakukan pekerjaan berbahaya. Dua pengacara ketenagakerjaan mengatakan bahwa bahaya atau tidak, sepenuhnya tergantung pada apa sebenarnya yang dikerjakan.

Meski ada larangan mempekerjakan buruh anak, saat ini terdapat sedikitnya 177.000 anak berusia antara lima hingga 17 tahun yang bekerja sebagai buruh di Thailand, tiga perempatnya bekerja di lingkungan pekerjaan yang dikategorikan berbahaya. (Rtr/DWI/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru