Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Kapal Selam China Berhasil Capai Palung Laut Terdalam Bumi

* China Luncurkan Pesawat Robotik untuk Kumpulkan Batu dari Bulan
Redaksi - Rabu, 25 November 2020 10:42 WIB
1.108 view
Kapal Selam China Berhasil Capai Palung Laut Terdalam Bumi
Foto: Mercopress.com
Kapal selam China “Fendouzhe” bersiap melakukan penyelaman ke dasar Palung Mariana, palung terdalam di dunia yang berada di perairan Samudra Pasifik.
Beijing (SIB)
Kapal selam berawak baru China, Fendouzhe atau Striver, berhasil mencapai dasar Palung Mariana, palung laut terdalam di dunia, pada Jumat pekan lalu. China menyiarkan langsung momen bersejarah itu melalui stasiun televisi negara CCTV. Fendouzhe yang berisi tiga kru kapal berhasil turun lebih dari 10 kilometer ke dalam palung laut yang terletak di Samudra Pasifik itu.

Rekaman gambar dari kamera laut yang terpasang memperlihatkan kapal selam berwarna hijau dan putih bergerak turun ke dasar laut secara perlahan dikelilingi pemandangan gelap dan awan sedimen hingga akhirnya mendarat di dasar laut.

Kapal selam Fendouzhe dilengkapi lengan robotik yang berfungsi mengumpulkan sampel biologis dari dasar laut. Lengan kapal selam itu juga berfungsi sebagai ‘mata’ sonar untuk mengidentifikasi objek di sekitarnya. Fendouzhe membawa begitu banyak peralatan penelitian sehingga para peneliti menambahkan ruang tambahan berbentuk dahi pada kapal yang berisikan bahan apun untuk menjaga keseimbangan.

Tekanan air di dasar palung mencapai delapan ton per inci persegi atau sekitar seribu kali tekanan atmosfer di permukaan laut. Meski begitu, para ilmuwan dalam kapal selam mengatakan menemukan banyak kehidupan yang berada di dasar palung yang gelap dan dingin tersebut.

"Fendouzhe, kapal selam berawak ketiga China sedang mengamati banyak spesies dan penyebaran mahluk hidup di dasar laut," kata para ilmuwan dari dalam kapal selam kepada CCTV seperti dikutip AFP, Selasa (24/11).

Sejauh ini, hanya segelintir orang yang pernah mencapai dasar Palung Mariana, cekungan berbentuk bulan sabit di dasar bumi yang memiliki tinggi lebih dari Gunung Everest dengan panjang lebih dari 2.550 kilometer. Pada 1960 penjelajah pertama berhasil mencapai Palung Mariana. Sejak itu tidak ada misi serupa lagi sampai akhirnya sutradara Hollywood James Cameroon melakukan ekspedisi solo pertama ke dasar Mariana pada 2012 lalu.

Fendouzhe telah melakukan beberapa kali penyelaman. Awal November, kapal itu mencetak rekor nasional dengan berhasil turun ke dasar Palung Challenger Deep sedalam 10.909 meter. Pada tahun 2019, penjelajah Amerika Serikat juga berhasil turun ke dasar Palung Challenger Deep sedalam 10.927 meter.

Dari ekspedisi itu, peneliti menemukan komunitas organisme bersel tunggal yang hidup dari sampah organik yang telah menetap di dasar laut. Namun, para peneliti hanya menemukan sedikit hewan besar yang hidup pada kedalaman laut tersebut.
Kumpulkan Batu dari Bulan

Sementara itu, untuk pertama kalinya selama lebih dari 40 tahun, China meluncurkan pesawat ruang angkasa robotiknya ke bulan, pada Selasa (24/11). Tujuannya adalah untuk mengumpulkan sampel bebatuan bulan dan membawanya kembali ke Bumi. Pesawat ruang angkasa Chang'e-5 dibawa ke luar angkasa oleh Long March-5, roket pengangkut terbesar milik China, yang diluncurkan dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang, pulau Hainan pada pukul 4:30 pagi waktu Beijing.

Komandan peluncuran Zhang Xueyu mengatakan proses lepas landas berjalan sukses. Misi Chang'e-5, yang dikoordinasikan oleh Administrasi Luar Angkasa Nasional China, dinamai sesuai nama dewi bulan China sejarah kuno. Jika pesawat ruang angkasa itu berhasil menyelesaikan tugasnya, maka misi ini akan menjadikan China sebagai negara ketiga di dunia yang berhasil mengambil sampel batuan dan tanah dari bulan, setelah Amerika Serikat dan bekas Uni Soviet.

Pesawat luar angkasa seberat 8.200 kg itu membawa dua kendaraan, yakni pendarat dan ascender (kendaraan pelansir) untuk dikirim ke permukaan bulan dalam waktu sekitar delapan hari dari sekarang. Jika semua berjalan sesuai rencana, alat pendarat itu akan mengumpulkan batu dan tanah dengan lengan robotiknya dan memindahkannya ke kendaraan ascender.

Nantinya, ascender akan lepas landas lagi ke modular yang mengorbit. Di sanalah, sampel akan dipindahkan ke kapsul untuk dibawa kembali ke Bumi dalam waktu sekira 23 hari. Para ilmuwan berharap sampel tersebut akan membantu mereka mempelajari lebih lanjut tentang asal-usul dan pembentukan bulan.

Tahun lalu, misi Chang'e-4 berhasil melakukan pendaratan pertama di sisi gelap bulan. Pada bulan Juli, China juga meluncurkan misi independen pertamanya ke Mars. China juga berencana membangun stasiun luar angkasa sendiri pada tahun 2022 dan mengirim penyelidikan ke Jupiter pada tahun 2029. (Rtr/AFP/CNNI/DWI/f)
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru