Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Dirjen WHO Bersedia Disuntik Vaksin Corona di Depan Publik

* Vaksinasi Massal Sputnik V Dimulai di Moskow
Redaksi - Senin, 07 Desember 2020 10:57 WIB
427 view
Dirjen WHO Bersedia Disuntik Vaksin Corona di Depan Publik
Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP
Tedros Adhanom Ghebreyesus
Jenewa (SIB)
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan dirinya akan senang untuk disuntik vaksin virus Corona (Covid-19) di depan kamera demi meyakinkan publik. Tedros juga memuji mantan Presiden Amerika Serikat (AS) yang bersedia divaksin di depan umum untuk membuktikan keamanannya.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (5/12), saat ditanyai wartawan soal kesediaan tiga mantan Presiden AS untuk disuntik vaksin Corona di depan kamera demi meyakinkan publik, Tedros menyatakan dirinya menyambut baik. Ketiga mantan Presiden AS itu terdiri atas Bill Clinton, George W Bush dan Barack Obama.

Presiden terpilih AS, Joe Biden, juga sebelumnya menyatakan dirinya “senang” untuk disuntik vaksin Corona di depan kamera untuk tujuan yang sama. "Itu gagasan yang baik... Saya pikir itu sangat baik bahwa mereka telah menunjukkan komitmen mereka. Mereka bisa mempengaruhi (publik)," sebut Tedros. "Mereka adalah para influencer," imbuhnya.

Saat ditanya lebih lanjut apakah dirinya akan melakukan hal yang sama, Tedros menjawab: "Saya akan senang untuk melakukan hal yang sama. Saya akan senang melakukannya."

Namun demikian, Tedros menekankan bahwa dirinya akan mengantre giliran untuk divaksin dan tidak akan mengambil tempat orang lain yang lebih membutuhkan vaksin Corona dibanding dirinya. Hal ini menggarisbawahi seruan WHO agar vaksin Corona didistribusikan secara adil. "Saya perlu memastikan bahwa itu giliran saya. Saya tidak ingin mengambil vaksin milik siapapun," tegasnya.

Diketahui bahwa mulai dari Clinton, Bush, Obama dan Biden juga sama-sama menyatakan bersedia disuntik vaksin Corona di depan kamera pada saat giliran mereka menerima vaksin. Ditegaskan tiga mantan Presiden AS dan Presiden terpilih AS itu bahwa mereka akan mengantre untuk mendapatkan vaksin Corona sesuai dengan prioritas yang ditetapkan otoritas kesehatan AS nantinya.

Pada Rabu (2/12) waktu setempat, Inggris menjadi negara Barat pertama yang menyetujui vaksin Corona, tepatnya vaksin buatan Pfizer-BioNTech, untuk penggunaan umum. Hal ini menambah tekanan pada negara-negara lain untuk segera mengikutinya. Namun, para pakar menyuarakan kekhawatiran soal meningkatnya keraguan publik terhadap vaksin Corona, dengan adanya informasi keliru dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kemajuan ilmiah soal vaksin.

Laporan WHO yang dirilis Jumat (4/12) waktu setempat menyoroti bahwa 'memanfaatkan pengaruh sosial' dengan membuat orang-orang 'sangat dipercaya' agar bersedia disuntik vaksin Corona untuk membantu meningkatkan penerimaan dan penggunaan vaksin tersebut.

Vaksinasi Massal Sputnik V
Sementara itu, otoritas Moskow mulai mendistribusikan vaksin virus Corona (Covid-19) buatan Rusia, Sputnik V, ke sedikitnya 70 klinik setempat. Pendistribusian ini menandai dimulainya vaksinasi massal di wilayah Rusia. Seperti dilansir Reuters, Sabtu (5/12), satuan tugas virus Corona kota Moskow menyatakan bahwa vaksin buatan Rusia pertama-tama akan diberikan kepada para dokter dan pekerja medis lainnya, juga guru dan para pekerja sosial karena mereka memiliki risiko tinggi tertular Corona.

"Anda bekerja di institusi pendidikan dan memiliki prioritas utama untuk mendapatkan vaksin Covid-19, gratis," demikian pesan singkat yang diterima seorang warga Moskow yang berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar (SD) pada Sabtu (5/12) waktu setempat.

Ibu kota Moskow yang menjadi pusat pandemi Corona di Rusia, sejauh ini melaporkan lebih dari 632 ribu kasus Corona. Dalam 24 jam terakhir, otoritas Moskow melaporkan tambahan 7.993 kasus Corona, yang lebih banyak dari tambahan sehari sebelumnya. "Selama lima jam pertama, 5 ribu orang mendaftar untuk disuntik (vaksin Corona) -- guru, dokter, pekerja sosial, orang-orang yang saat ini paling mempertaruhkan kesehatan dan nyawa mereka," sebut Wali Kota Moskow, Sergei Sobyanin.

Untuk vaksinasi massal di Moskow, usai para penerimanya dibatasi hingga 60 tahun. Orang-orang dengan penyakit bawaan atau kondisi tertentu, kemudian wanita hamil dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan selama dua pekan terakhir dilarang ikut program vaksinasi ini.

Rusia telah mengembangkan dua vaksin Corona, yakni Sputnik V yang didukung oleh Dana Investasi Langsung dan satu vaksin lainnya yang dikembangkan oleh Institut Vector di Siberia, dengan uji klinis terakhir untuk kedua vaksin masih belum selesai.

Para ilmuwan menyuarakan kekhawatiran soal terlalu cepatnya proses pengembangan vaksin buatan Rusia. Diketahui bahwa izin regulasi dan vaksinasi massal dilakukan sebelum uji klinis selesai dilakukan untuk memastikan keamanan dan kemanjurannya.

Vaksin Sputnik V akan disuntikkan dua kali, dengan dosis kedua diberikan sekitar 21 hari setelah suntikan pertama. Otoritas Moskow menutup semua tempat umum, termasuk taman dan kafe, dengan pengecualian untuk delivery, sejak akhir Maret lalu. Polisi melakukan patroli di jalanan untuk mencari siapa saja yang melanggar aturan. Pembatasan Corona di Moskow mulai dilonggarkan sejak pertengahan Juni lalu.

Secara keseluruhan, total 2.431.731 kasus Corona kini terkonfirmasi di wilayah Rusia, dengan lebih dari 42 ribu kematian. Pada Sabtu (5/12) waktu setempat, sedikitnya 28.782 kasus baru dilaporkan di Rusia. (Rtr/AFP/detikcom/f)
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru