Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 02 November 2026

Di Tengah Krisis Pandemi Corona, Industri Senjata Tetap Jaya

Redaksi - Selasa, 08 Desember 2020 10:28 WIB
361 view
Di Tengah Krisis Pandemi Corona, Industri Senjata Tetap Jaya
Internet
Ilustrasi
Jakarta (SIB)
Perusahaan senjata Amerika Serikat (AS) dan China mendominasi pasar senjata global, demikian menurut laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis hari Senin (7/12). AS tahun lalu menguasai 61 persen pangsa pasar senjata, sementara China 15,7 persen. Total omset 25 perusahaan teratas (Top 25) dalam bisnis senjata meningkat 8,5 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi US$ 361 miliar (Rp 5,102 triliun).

SIPRI mengatakan, omset “Top 25” tahun 2019, 50 kali lipat lebih besar daripada anggaran tahunan misi perdamaian PBB. Di peringkat 10 besar penjual senjata ada enam perusahaan AS dan tiga perusahaan China. Satu-satunya perusahaan Eropa yang masuk 10 besar adalah perusahaan Inggris BAE Systems, yang menduduki peringkat ketujuh.

"China dan Amerika Serikat adalah dua negara dengan pangsa terbesar dalam perdagangan senjata global," kata Lucie Beraud-Sudreau, direktur program belanja senjata dan militer SIPRI. Amerika Serikat memang telah mendominasi pasar senjata selama beberapa dekade, namun China termasuk pendatang baru. "Peningkatan (China) ini sesuai dengan implementasi reformasi untuk modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat yang sedang berlangsung sejak 2015," kata Lucie Beraud Sudreau.

Perusahaan AS Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon dan General Dynamics berada di peringkat lima tempat teratas, sementara AVIC, CETC dan Norinco China menempati posisi enam, delapan dan sembilan. Perusahaan senjata Inggris BAE Systems menempati peringkat tujuh dan menjadi satu-satunya perusahaan Eropa yang masuk 10 besar.

"Tetapi jika Anda menggabungkan perusahaan-perusahaan Eropa bersama-sama, Anda dapat memiliki perusahaan Eropa dengan ukuran yang sama seperti pabrikan AS dan China,” jelas Lucie Beraud-Sudreau.

Perusahaan Airbus menempati peringkat ke-13, sementara perusahaan senjata Prancis Thales berada di peringkat ke-14. Tetapi kedua perusahaan itu memiliki jaringan internasional terbesar dengan masing-masing terwakili di 24 negara. "Perusahaan Eropa lebih terinternasionalisasi dibanding yang lain,” kata Lucie Beraud-Sudreau.

Untuk pertama kalinya satu perusahaan dari Timur Tengah berhasil masuk ke “Top 25”. EDGE, perusahaan Uni Emirat Arab, yang dibentuk dengan konsolidasi sekitar 25 entitas pertahanan pada tahun 2019. “EDGE menempati peringkat 22 dan merupakan gambaran baik bagaimana kombinasi permintaan nasional yang tinggi untuk produk dan layanan militer dan keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada pemasok asing mendorong pertumbuhan perusahaan senjata di Timur Tengah," kata laporan terbaru SIPRI.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa grup Prancis Dassault telah melonjak dari posisi 38 ke posisi 17, didorong oleh ekspor jet tempur Rafale pada 2019. Sementara itu, dua perusahaan Rusia juga berada di "Top 25", yaitu Almaz-Antey di posisi ke-15 dan United Shipbuilding di urutan ke-25.

Direktur program militer SIPRI Lucie Beraud-Sudreau mengatakan, perusahaan-perusahaan Rusia berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu berkat program modernisasi besar-besaran untuk militernya, tetapi bisnisnya sejak itu "melambat ". (AFP/DPA/DWI/d)
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru