Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Trump Bertekad Berjuang Mati-matian Pertahankan Jabatannya

Redaksi - Rabu, 06 Januari 2021 10:41 WIB
453 view
Trump Bertekad Berjuang Mati-matian Pertahankan Jabatannya
Foto: AP
Para pendukung Presiden Donald Trump saat menggelar aksi pada 12 Desember 2020, di Washington, D.C, AS.
Georgia (SIB)
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, belum juga mengakui kekalahannya dari Presiden terpilih AS, Joe Biden, dalam pilpres 2020. Dia bahkan menyatakan dirinya akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan kursi kepresidenan. Tidak hanya itu, Trump juga menyerukan kepada para anggota parlemen Partai Republik untuk membalikkan kekalahannya atas Biden saat mereka menggelar sesi gabungan Kongres AS pada 6 Januari mendatang untuk mengonfirmasi hasil voting Electoral College.

Sebelumnya diketahui hasil voting Electoral College dimenangkan Biden dengan perolehan 306 electoral votes melawan Trump dengan 232 electoral votes. Seperti dilansir Associated Press, Selasa (5/1), tekad Trump untuk berjuang sekuat tenaga itu disampaikan saat dia menghadiri kampanye untuk pemilu Senat di negara bagian Georgia pada Senin (4/1) malam waktu setempat. "Mereka tidak akan mengambil Gedung Putih ini, kita akan berjuang mati-matian, saya memberitahu Anda sekarang," tegas Trump yang disambut sorakan para pendukungnya.

Kehadiran Trump dalam kampanye di Georgia ini dimaksudkan untuk mendongkrak dukungan bagi kandidat Senat Partai Republik yang akan berhadapan dengan kandidat Partai Demokrat dalam pemilu putaran kedua di Georgia pada 5 Januari waktu setempat. Namun pada praktiknya, Trump lebih banyak mengeluhkan kekalahannya dalam pilpres 3 November -- yang masih diyakininya dimenangkan oleh dirinya.

"Ngomong-ngomong, tidak mungkin kita kalah di Georgia. Tidak mungkin. Itu dicurangi, itu pemilihan yang dicurangi, tapi kita masih memperjuangkannya dan Anda akan melihat apa yang terjadi," cetusnya. "Anda tahu, saya menjalani dua pemilihan. Saya memenangkan keduanya. Itu luar biasa," tegas Trump lagi.

Sebelumnya di Washington DC, Trump menekan para anggota parlemen dari Partai Republik untuk secara resmi menolak sesi gabungan Kongres AS yang akan mengonfirmasi kemenangan Biden pada Rabu (6/1) waktu setempat. Konfirmasi dari Kongres AS menjadi pengukuhan kemenangan Biden.

Tidak diketahui secara jelas seberapa jauh para pemimpin Partai Republik di Kongres AS akan mampu mengontrol sesi bersama pada Rabu (6/1) waktu setempat, yang bisa berlarut-larut, meskipun gugatan pilpres sudah pasti akan gagal. Trump sendiri mendorong pendukungnya untuk menggelar aksi di dekat Gedung Putih saat sesi gabungan Kongres AS itu digelar.

Trump berulang kali melontarkan tuduhan soal kecurangan pilpres, yang telah dibantah oleh para pejabat pemilu AS -- baik Partai Republik maupun Partai Demokrat di setiap negara bagian -- dan mulai dari pengadilan hingga Mahkamah Agung. Mantan Jaksa Agung AS, William Barr, bahkan menegaskan tidak ada bukti kecurangan yang bisa mengubah hasil pilpres.

Secara terpisah, Biden yang juga menghadiri kampanye untuk kandidat Senator Partai Demokrat di Atlanta, Georgia, menyebut Trump 'menghabiskan lebih banyak waktu untuk merengek dan mengeluh' daripada bekerja untuk mengatasi pandemi virus Corona (COVID-19). "Saya tidak tahu mengapa dia masih menginginkan jabatan itu -- dia tidak mau melakukan pekerjaannya," cetus Biden merujuk pada Trump.

Garda Nasional Dikerahkan
Sementara itu, Pentagon menyetujui permintaan walikota Washington DC untuk mengerahkan pasukan Garda Nasional DC (DCNG) ke pusat kota, pada Senin (5/1) waktu setempat. Persetujuan diberikan oleh Pejabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Christopher Miller, untuk mendukung otoritas lokal selama demonstrasi pro-Trump, yang dijadwalkan di kota itu minggu ini.

Melansir CNN pada Selasa (5/1), Walikota Washington DC Muriel Bowser membuat permintaan pada Kamis (30/12), dalam surat yang ditujukan kepada Mayor Jenderal William J Walker, komandan Jenderal Garda Nasional DC. Walikota juga merujuk protes di kota pada bulan November dan Desember yang mengakibatkan gelombang besar massa, kekerasan dan aktivitas kriminal.

"Tidak ada personel DCNG yang akan dipersenjatai selama misi ini, dan personel atau aset DCNG tidak akan terlibat dalam pengawasan domestik, penggeledahan, atau penyitaan orang-orang AS," tulis Bowser, seorang Demokrat, dalam surat itu.

Kepala Polisi DC Robert Contee mengatakan kepada wartawan pada Senin (4/1), Garda Nasional akan membantu dalam "manajemen kerumunan" dan pengendalian lalu lintas. Jadi, petugas polisi kota dapat fokus pada potensi tindakan kekerasan dan masalah keamanan lainnya. Protes yang direncanakan minggu ini akan terjadi ketika dua peristiwa politik penting berlangsung, yaitu pemilihan Senat AS di Georgia pada Selasa (5/1), yang akan menentukan keseimbangan kekuasaan di majelis.

Selain itu, pertemuan kongres pada Rabu (6/1), untuk mengesahkan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden atas Presiden Donald Trump. Berbicara dalam konferensi pers pada Senin (4/1), Bowser meminta pengunjuk rasa agar menahan diri dari kekerasan, terlepas dari pandangan politik mereka. (AP/dtc/CNNI/c)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru