Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Oktober 2026

Australia Setop Kerja Sama Militer, China Janji Turun Tangan Redakan Situasi di Myanmar

Redaksi - Selasa, 09 Maret 2021 12:57 WIB
396 view
Australia Setop Kerja Sama Militer, China Janji Turun Tangan Redakan Situasi di Myanmar
(Foto: REUTERS/STRINGER)
Penangkapan paksa pedemo anti-kudeta militer oleh Tatmadaw di Myanmar.
Canberra (SIB)
Australia telah menghentikan kerja sama di bidang pertahanan dengan Myanmar, sebagai imbas dari kudeta yang dilakukan oleh junta militer terhadap pemerintah sipil. Menteri Luar Negeri Australia, Marisa Payne mengatakan keputusan tersebut diambil di tengah tindakan keras militer Myanmar menghadapi gelombang demonstrasi besar-besaran selama sebulan terakhir sejak terjadi kudeta militer. "Kami terus mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk menahan diri dan menghentikan kekerasan terhadap warga sipil," kata Payne dalam pernyataan, Minggu (7/3) malam.

Payne mengatakan anggaran kerja sama militer akan dialihkan menjadi bantuan kemanusiaan bagi etnis Rohingya dan etnis minoritas lainnya. "Kami akan memprioritaskan kebutuhan kemanusiaan dan yang paling mendesak dan berusaha memastikan keterlibatan kemanusiaan kami dengan dan melalui organisasi non-pemerintah, bukan dengan pemerintah atau entitas terkait pemerintah," ujarnya.

Mengutip AFP, kerja sama di bidang pertahanan antara Australia dan Myanmar dibatasi pada area non-militer, seperti pelatihan bahasa Inggris. Canberra juga akan terus menuntut pembebasan seorang ekonom dan penasihat pemimpin de facto Aung San Suu Kyi, Sean Turnel yang turut ditahan oleh junta militer sejak kudeta 1 Februari lalu. Selama lebih dari sebulan terakhir krisis politik yang terjadi di Myanmar semakin memperburuk.

Gelombang aksi demonstrasi yang terjadi di seluruh negeri telah menewaskan lebih dari 50 orang. Tidak sedikit negara yang beramai-ramai mengecam hingga menjatuhkan sanksi kepada Myanmar untuk menekan pergerakan junta militer. Sejauh ini sejumlah negara yang telah menyatakan menjatuhkan sanksi antara lain Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Selandia Baru, Kanada, dan Jepang.

China Tepis Terlibat dalam Kudeta
Di pihak terpisah, China berjanji ikut turun tangan dengan semua pihak untuk meredakan situasi yang semakin buruk di Myanmar. Diplomat tinggi China, anggota Dewan Negara Wang Yi mengatakan situasi yang saat ini terjadi di Myanmar tidak seperti yang diinginkan Beijing.

Wang sekaligus menepis rumor di media sosial yang menyebut keterlibatan China dalam kudeta yang berlangsung sejak 1 Februari lalu.

Wang menyampaikan keprihatinan atas kondisi yang saat ini terjadi di Myanmar. China mendukung pernyataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyerukan agar Tatmadaw membebaskan penasihat negara, Aung San Suu Kyi dan tahanan lainnya. "China memiliki hubungan persahabatan jangka panjang dengan semua pihak dan faksi di Myanmar, termasuk Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) dan persahabatan dengan China selalu menjadi konsensus semua sektor di Myanmar," ucapnya.

Berbeda dengan negara-negara lain yang mengutuk keras kudeta militer dan mulai menjatuhkan sanksi terhadap Myanmar, China cenderung lebih berhati hati dengan menekankan pada pentingnya stabilitas.

Seorang pelobi Israel-Kanada yang disewa oleh junta militer Myanmar pada Sabtu (6/3) kepada Reuters mengatakan bahwa para jenderal ingin meninggalkan politik setelah melakukan kudeta. Para jenderal Myanmar berusaha untuk meningkatkan hubungan denan AS dan menjauhkan diri dari China.

Ratusan ribu orang menggelar aksi protes di depan kedutaan besar China di Yangon setelah menuduh Beijing mendukung junta militer. Namun China kerap membantah tudingan tersebut dengan mengatakan bahwa mereka tidak diberi ahu sebelumnya terkait kudeta tersebut. Kecurigaan tersebut bukan tanpa alasan, China selama ini memiliki kepentingan ekonomi dan strategis yang signifikan dan kerap mendukung posisi Myanmar terhadap kritik Barat. (AFP/Rtr/CNNI/d)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru