Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

6 Bulan Disandera ISIS, Anak-anak Kurdi Kerap Disiksa

* Perangi ISIS di Kobani, Inggris Kirim Pasukan SAS
- Rabu, 05 November 2014 10:52 WIB
768 view
6 Bulan Disandera ISIS, Anak-anak Kurdi Kerap Disiksa
SIB/AP Photo/Vadim Ghirda
Tiga anak-anak pengungsi Kurdi yang melarikan diri dari kota Kobani terpaksa tinggal di kamp pengungsian di Suruc, dekat perbatasan Turki-Suriah, menghindari ISIS.
Damaskus (SIB)- Militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dilaporkan kerap menyiksa anak-anak yang mereka sandera. Anak-anak tersebut dipaksa melihat video pemenggalan keji dan dicambuk dengan kabel listrik. Dilaporkan Human Rights Watch (HRW) dan dilansir Reuters, Selasa (4/11), militan ISIS menculik sekelompok anak-anak pada 29 Mei lalu ketika mereka baru pulang dari Kobane, ke Aleppo usai mengikuti ujian sekolah.

Dari puluhan anak yang diculik, dilaporkan semuanya telah dibebaskan oleh ISIS secara bertahap. Kloter terakhir, atau sebanyak 25 anak-anak dari warga Kurdi di Suriah, dibebaskan pada 29 Oktober. Dari pembebasan tersebut, terungkap perlakuan kasar dan keji ISIS terhadap anak-anak tersebut semasa masih disandera. Menurut HRW, ada lebih dari 150 anak yang disandera selama 6 bulan.

Dari hasil wawancara dengan anak-anak tersebut, HRW menemukan adanya praktik kekerasan dan penganiayaan oleh ISIS. Menurut HRW, anak-anak tersebut menjelaskan bagaimana mereka dipaksa menyaksikan video ISIS bertempur dan memenggal sanderanya. Anak-anak tersebut juga diwajibkan salat lima waktu dan melakukan perintah keagamaan.

"Bagi yang tidak menurut akan dipukuli. Mereka (ISIS) memukuli kami dengan selang hijau atau kabel tebal yang dililiti kawat. Mereka juga memukuli telapak kaki kami," tutur salah satu anak seperti dikutip HRW. "Mereka (ISIS) terkadang menemukan alasan untuk memukuli kami tanpa alasan ... Mereka memaksa kami belajar ayat Alquran dan memukul anak yang tidak berhasil mempelajarinya," imbuh anak tersebut.

Menurut HRW, anak-anak tersebut tidak diberitahu alasan mereka dibebaskan. ISIS hanya menyatakan bahwa pendidikan keagamaan telah berakhir. HRW menambahkan, anak terakhir yang dibebaskan kini berada di penampungan di Tukri.

Sementara itu pasukan khusus Inggris SAS secara diam-diam dikirim ke Suriah untuk memerangi ISIS. Pasukan SAS itu dikabarkan sudah menyeberang dari Irak untuk bergabung dengan pasukan Kurdi dan pasukan elite AS Delta Force untuk menyelamatkan kota Kobani dari serbuan ISIS.

Tugas pasukan SAS di Suriah adalah memantau posisi pasukan ISIS, memberi arahan kepada pasukan Kurdi dan meminta bantuan serangan udara AS dalam upaya untuk mengakhiri pengepungan yang sudah berlangsung selama enam pekan dan menewaskan setidaknya 800 orang itu. "Pasukan SAS sudah berada di sekitar kota Kobani selama beberapa pekan dan perlahan-lahan berhasil mengurangi ancaman ISIS terhadap Kobani," ujar seorang sumber. Pasukan SAS, lanjut sumber itu, seperti biasa bekerja dalam unit-unit kecil namun setiap hari berhasil membuat kalang kabut pasukan ISIS.

Kota Kobani yang terletak di perbatasan Suriah-Turki selama enam pekan terakhir menjadi kancah pertempuran antara ISIS dan pasukan Kurdi Suriah. Akibat pertempuran itu sedikitnya 200.000 warga Suriah terpaksa mengungsi ke Turki.

Dukung ISIS

Sementara militan paling aktif di Mesir, Ansar Bayt al-Maqdis menyatakan sumpah setia pada kelompok radikal ISIS. Militan ini mengaku terinspirasi oleh kiprah ISIS selama ini. "Selain mempercayai Allah, kami memutuskan untuk menyatakan sumpah setia terhadap emir umat beragama Abu Bakr al-Baghdadi, kalifah muslim di Suriah dan Irak dan di negara-negara lainnya," demikian pernyataan militan tersebut seperti dilansir Reuters, Selasa (4/11). Kepada Reuters, militan Ansar mengaku kerap mendapat inspirasi dan mencari nasihat dari ISIS yang kini merajalela di Irak dan Suriah.

Militer Mesir kini menghadapi perlawanan militan yang telah menewaskan ratusan tentara dan polisi setempat. Aktivitas militan semakin meningkat semenjak penggulingan Mohamed Morsi dari kursi presiden Mesir pada tahun 2013 lalu oleh militer.

Pekan lalu, pemerintah Mesir menyatakan situasi darurat selama 3 bulan di sebagian wilayah Sinai Utara, pasca serangan yang menewaskan 33 tentara Mesir di sejumlah wilayah. Atas serangan tersebut, belum ada kelompok atau pihak tertentu yang mengklaim bertanggung jawab. Namun sebelumnya, serangan semacam itu, pernah diklaim oleh militan Ansar. (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru