Kuwait (SIB)
Israel menyerang wilayah Rafah Palestina yang padat penduduk. Jika perang terus berlanjut, dikhawatirkan akan jatuh banyak korban jiwa.
Karena itu, Sekretaris Jenderal
PBB Antonio Guterres pada Minggu (12/5) menyerukan gencatan senjata di
Gaza segera dan mengembalikan sandera yang masih ditawan.
"Saya mengulangi seruan saya, seruan dunia untuk segera melakukan gencatan senjata kemanusiaan, pembebasan semua sandera tanpa syarat dan segera meningkatkan bantuan kemanusiaan," kata Guterres dalam pidato video di konferensi donor internasional di Kuwait.
"Tetapi gencatan senjata hanya akan menjadi permulaan. Ini akan menjadi jalan panjang dari kehancuran dan trauma perang ini," imbuh dia, dikutip dari AFP.
Serangan
Israel terhadap
Gaza berlanjut pada hari Minggu setelah
Israel memperluas perintah evakuasi ke Rafah.
Serangan militer
Israel ke wilayah timur kota tersebut, secara efektif menutup jalur bantuan utama.
"Perang di
Gaza menyebabkan penderitaan manusia yang mengerikan, kehidupan yang hancur, perpecahan keluarga dan menyebabkan banyak orang kehilangan tempat tinggal, kelaparan dan trauma," terang Guterres.
Ucapan Guterres itu disampaikan pada pembukaan konferensi di Kuwait yang diselenggarakan oleh Organisasi Amal Islam Internasional (IICO) dan organisasi koordinasi kemanusiaan PBB OCHA.
Pada hari Jumat, di Nairobi, Sekjen PBB memperingatkan
Gaza akan menghadapi bencana kemanusiaan yang besar jika
Israel melancarkan operasi darat skala penuh di Rafah.
Mengungsi
Terpisah,
Israel meminta warga Palestina di lebih banyak wilayah di kota Rafah di selatan
Gaza mengungsi dan menuju ke tempat yang mereka sebut sebagai wilayah kemanusiaan di Al-Mawasi pada Sabtu (11/5).
Ini merupakan indikasi lebih lanjut bahwa militer akan meneruskan rencananya melakukan serangan darat ke Rafah.
Militer
Israel juga meminta penduduk dan pengungsi di daerah Jabalia di
Gaza utara keluar dari wilayah tersebut.
Mereka mengatakan akan kembali beroperasi di sana setelah melihat Hamas berusaha mendapatkan kendali atas daerah tersebut.
Dilansir Reuters, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan, setidaknya 37 warga Palestina, 24 di antaranya berasal dari wilayah tengah
Gaza, tewas dalam serangan udara, termasuk di Rafah, kota paling selatan di Jalur
Gaza yang berbatasan dengan Mesir.
"Mereka melemparkan brosur ke Rafah dan berkata, dari Rafah ke al-Zawayda aman, orang-orang harus mengungsi ke sana, dan mereka melakukannya, dan apa yang terjadi dengan mereka? Mayat yang terpotong-potong? Tidak ada tempat yang aman di
Gaza," kata salah seorang warga, Khitam Al-Khatib.
Dia telah kehilangan setidaknya 10 kerabatnya dalam serangan udara di sebuah rumah keluarga pada Sabtu pagi. Al-Zawayda adalah kota kecil di Jalur
Gaza tengah yang dipenuhi oleh ribuan pengungsi dari seluruh wilayah kantong.
Militer
Israel mengatakan pesawatnya menyerang puluhan sasaran di
Gaza selama beberapa hari terakhir. Pasukan daratnya juga telah melenyapkan sekitar 30 pejuang di Zeitoun.
Serangan udara
Israel menewaskan sedikitnya tujuh orang di sebuah rumah di kota Beit Lahiya di Jalur
Gaza utara, semuanya berasal dari keluarga yang sama.
Warga mengatakan tank
Israel telah ditempatkan di kota tersebut. Di Rafah, di mana kementerian kesehatan mengatakan 16 orang tewas, warga mengatakan bahwa perintah evakuasi baru oleh militer
Israel mencakup wilayah di pusat kota.
Tidak ada keraguan bahwa
Israel berencana memperluas serangan daratnya di sana.
"Situasinya sangat sulit, orang-orang meninggalkan rumah mereka dengan panik," kata Khaled, 35, seorang warga lingkungan Shaboura, sebuah daerah di mana perintah baru untuk keluar telah dikeluarkan.
Melarikan Diri
Pasukan
Israel terus menyerang Rafah meski dunia mendesak gencatan senjata segera dilakukan.
Israel juga menutup jalur bantuan utama dan menghentikan lalu lintas di jalur lain.
Israel telah memperluas perintah evakuasi di Rafah timur. Mereka juga menyebut 300.000 orang telah meninggalkan kota tersebut sejak tentara
Israel mendesak orang-orang untuk meninggalkan Rafah awal pekan ini.
Juru bicara militer
Israel Daniel Hagari mengatakan 'kami telah melenyapkan puluhan teroris di Rafah timur' dan tentara
Israel mengklaim sedang memerangi 'teroris bersenjata' di perbatasan dan telah menemukan 'banyak terowongan bawah tanah'.
MarahSementara itu, dilaporkan terpisah, Duta Besar
Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Gilad Erdan, menyampaikan pidato dengan nada marah dalam sesi khusus Majelis Umum PBB. Dia juga memasukkan salinan
Piagam PBB ke dalam mesin penghancur kertas berukuran kecil yang dibawanya.
Dilansir AFP dan BBC, Minggu (12/5), peristiwa itu terjadi saat Erdan bicara dalam sesi khusus Majelis Umum PBB mengenai upaya Palestina untuk menjadi anggota penuh PBB di Markas Besar PBB, New York, pada Jumat (10/5) waktu setempat.
"Anda mencabik-cabik
Piagam PBB," ujarnya.
Majelis Umum PBB diketahui telah memperkuat hak-hak Palestina dalam organisasi tersebut dan menyerukan agar Palestina diterima sebagai anggota. Hal itu yang membuat Erdan marah-marah.
Erdan terlihat membawa mesin penghancur kecil di hadapan depan majelis. Dia lalu memasukkan salinan
Piagam PBB ke dalam mesin itu. Salinan
Piagam PBB itu kemudian terlihat terpotong-potong.
Palestina diketahui mempunyai status negara pengamat non-anggota sejak tahun 2012. Status itu memungkinkan beberapa hak untuk tidak menjadi anggota penuh.
Gilad Erdan dengan lantang menolak resolusi Majelis Umum yang menyetujui untuk mempertimbangkan kembali agar Palestina menjadi anggota penuh organisasi tersebut.
Erdan menuduh negara yang mendukung resolusi itu sama saja mendukung Hamas yang ia samakan seperti kelompok "Nazi zaman modern".
"Saya ingin dunia menyaksikan tindakan amoral ini (voting). agar kalian semua juga berkaca bahwa (voting) ini, tindakan Anda semua, telah menghancurkan
Piagam PBB. Kalian memalukan," kata Erdan di depan podium sambil menghancurkan kertas bertuliskan '
Piagam PBB' yang ia pegang.
Dikutip Associated Press, Erdan juga membawa foto pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, saat berpidato.
Ia mewanti-wanti PBB jika dunia mengizinkan Palestina menggelar pemilu dalam waktu dekat, Hamas akan memenangkannya.
Menurut Erdan, memberikan izin menggelar pemilu kepada Palestina sama saja "memberikan hak istimewa kepada negara teroris Hamas di masa depan."
"Seorang teroris yang tujuannya adalah genosida Yahudi akan menjadi pemimpin Palestina di masa depan," kata Erdan sambil mengangkat foto Sinwar di podium pidato.
Sebanyak 143 negara mendukung Palestina dalam pemungutan suara yang digelar Majelis Umum PBB untuk menentukan keanggotaan Palestina.
Sementara sembilan negara, termasuk Amerika Serikat dan
Israel menolak, dan 25 lainnya abstain.
"Dunia bersama rakyat Palestina," kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyambut hasil pemungutan suara tersebut.
Resolusi Majelis Umum PBB in memberikan "hak dan keistimewaan" baru kepada Palestina dalam organisasi tersebut.
Selain itu, resolusi ini juga berisikan permintaan agar Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan kembali pengajuan Palestina untuk menjadi anggota penuh ke-194 PBB.
Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) memveto draf resolusi DK PBB terkait upaya Palestina untuk menjadi anggota penuh organisasi tersebut. Rancangan resolusi tersebut digagas oleh Aljazair yang saat ini menjadi anggota tidak tetap DK PBB.
Resolusi DK PBB yang diveto AS tersebut akan membuka jalan bagi keanggotaan penuh Palestina di PBB, sebuah tujuan yang sudah lama diupayakan oleh Palestina dan dijegal
Israel. (**)