New York (SIB)- 2 Anggota New York Police Department (NYPD) tewas ditembak saat mereka berpatroli menggunakan mobil. Pelakunya lalu bunuh diri setelah melakukan tindakan keji itu. Seperti dilansir Associated Press, mengutip New York Times, Minggu (21/12), 2 petugas itu sedang berpatroli di Bedford-Stuyvesant, Brooklyn, New York, sebelum penembakan terjadi.
Wakil Kepala NYPD Kim Royster mengatakan, peluru menembus tubuh bagian atas dua polisi tersebut. "Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dari sisi pintu belakang, lalu ia berlari ke stasiun kereta bawah tanah di dekat lokasi. Kemudian pria tersebut menembak kepalanya sendiri," kata Kim.
Polisi New York mengidentifikasi pria bersenjata itu sebagai Ismaaiyl Brinsley (28) dan mengatakan dia menembak dari kursi penumpang mobil, melepaskan tembakan dengan pistol semi-otomatis. Pelaku kemudian lari ke stasiun kereta bawah tanah terdekat dan tewas di sana karena luka tembak sendiri di kepala.
Senjata api yang digunakan pelaku juga ditemukan di dekat jasadnya.
Mayat pelaku telah dibawa ke Brooklyn Hospital Center. "Meski kami masih mempelajari detilnya, jelas bahwa ini adalah pembunuhan, bahwa para petugas ini ditembak," kata Wali Kota New York Bill de Blasio. Sementara polisi yang tertembak diidentifikasi sebagai Rafael Ramos (40) dan Wenjian Liu (32). Liu baru dua bulan menikah dan Ramos punya anak berusia 13 tahun.
NYPD tengah menghadapi tekanan setelah aksi protes terus terjadi pasca dewan juri pengadilan setempat memutuskan seorang petugas tidak bersalah dalam penembakan pemuda kulit hitam beberapa waktu lalu. Namun motif serangan 2 polisi itu belum diketahui.
Tembak Kekasih
Ismaaiyl Abdullah Brinsley tewas bunuh diri setelah menembak mati dua polisi yang sedang melakukan patroli di New York, Amerika Serikat. Sebelum melakukan aksinya, seperti dilaporkan BBC, Minggu (21/12), Brinsley juga diketahui menembak kekasihnya hingga terluka dan memuat pernyataan anti-polisi di media sosial Instagram.
Dalam unggahan foto yang menampilkan gambar senjata api, Brinsley menuliskan pesan mengerikan. "Aku bakal melakukan hal yang luar biasa hari ini. Mereka ambil salah satu dari kami. Sekarang giliran kita yang mengambil dua dari mereka," tulis Brinsley, seperti dimuat Dailymail, Minggu (21/12). "Ini mungkin akan menjadi unggahan fotoku yang terakhir kali," imbuh dia, diselingi hashtag atau tanda pagar #ShootThePolice #RIPErivGardner (sic) #RIPMikeBrown.
Dari pesan tersebut, aparat setempat menduga kuat bahwa Brinsley ingin melancarkan aksi balas dendam atas tewasnya dua warga kulit hitam oleh aparat berkulit putih di AS beberapa waktu lalu.
Salah satu warga berkulit hitam, Michael Brown (18) ditembak mati oleh polisi bernama Darren Wilson di daerah pinggiran St Louis, Kota Ferguson, Missouri, AS pada 9 Agustus lalu.
Menurut aparat, polisi menembaknya karena Brown menyerang. Namun saksi menyebut Brown tak melawan. Usai diprotes warga, sang polisi mundur dari jabatannya. Namun pengadilan membebaskannya dari dakwaan. Warga kulit hitam lainnya adalah Eric Garner yang tewas dicekik polisi Daniel Pantaleo saat hendak ditahan karena diduga menjual rokok ilegal di Staten Island, New York, 17 Juli 2014.
Garner, berusia 43 tahun dan bertubuh gemuk, memiliki asma dan berulangkali berbisik sambil terengah-engah, "Saya tidak bisa bernapas!". Namun aparat tidak mengindahkannya dan baru menyadari Garner meninggal setelah tubuhnya tak bergerak lagi.
Kasus penembakan terhadap polisi terakhir terjadi di New York pada 2011 lalu. Aparat bernama Peter Figoski ditembak di bagian wajah oleh pelaku, Lamont Pride, yang bersembunyi saat petugas baru tiba di sebuah apartemen. Pelaku kemudian dijatuhi vonis penjara 45 tahun hingga seumur hidup.
Buntut Insiden Rasial?
Beberapa waktu lalu, keputusan dewan juri di pengadilan yang memutuskan tak mengadili polisi kulit putih yang menembak mati Eric Garner--lelaki kulit hitam tak bersenjata--memicu kemarahan publik di New York dan wilayah lain di kota-kota di Amerika. Keputusan dewan juri di New York tersebut ditingkahi pula vonis serupa di Ferguson, Missouri, yang juga memicu kerusuhan di sana dan kota-kota di seluruh Amerika. Di pinggiran St Louis, dua jam dari New York, telah menjadi pusat unjuk rasa dan ketegangan rasial setelah Michael Brown, seorang lelaki kulit hitam berumur 18 tahun, ditembak mati oleh polisi kulit putih pada 9 Agustus 2014.
Bulan lalu, seorang polisi pemula menembak seorang pria kulit hitam bersenjata berusia 28 tahun di tangga salah satu apartemen di Brooklyn. Kasus-kasus tersebut menambah panjang daftar insiden rasial antara polisi dengan warga Afro-Amerika, setelah sebelumnya seorang bocah kulit hitam berumur 12 tahun ditembak mati oleh polisi di Ohio karena bermain dengan pistol mainan bersama teman-temannya di taman bermain.
Presiden Barack Obama, yang memberikan keterangan singkat tentang pembunuhan di New York saat liburan di Hawaii, harus menenangkan ledaka
n kemarahan terhadap ‘kebrutalan’ polisi pada kelompok minoritas di AS.
Penembakan polisi di New York City itu merupakan kejadian yang pertama sejak 2011, demikian seperti dilansir kantor berita Reuters.
(AP/dtc/Rtr/Ant/q)