Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 21 Maret 2026

Singapura Pamer Kapal Perang Berotak AI, Bisa Kendalikan Drone

Redaksi - Kamis, 30 Oktober 2025 12:33 WIB
2.392 view
Singapura Pamer Kapal Perang Berotak AI, Bisa Kendalikan Drone
Foto: Singapore Ministry of Defense
Ilustrasi Victory, kapal perang Singapura, dirancang untuk mengendalikan drone laut, udara, dan bawah air secara terpadu menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Singapura(harianSIB.com)

Singapura meluncurkan kapal perang terbesarnya, Victory, yang disebut-sebut menyerupai kapal luar angkasa dalam film fiksi ilmiah Battlestar Galactica. Kapal ini merupakan unit pertama dari enam Multi-Role Combat Vessel (MRCV) yang dirancang untuk mengendalikan drone laut, udara, dan bawah air secara terpadu menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Upacara peluncuran digelar di galangan kapal ST Engineering Benoi Shipyard pada Selasa (21/10), dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing.

"Ini bukan sekadar kapal perang biasa, tetapi kapal yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan dan memiliki 'otak' yang terus berevolusi," ujar Chan.

Dengan bobot mencapai 8.000 ton dan panjang 150 meter, MRCV menjadi kapal tempur permukaan terbesar dalam sejarah Angkatan Laut Republik Singapura (RSN). Kapal ini kini akan menjalani tahap penyelesaian, integrasi, dan uji laut di galangan Gul Yard milik ST Engineering.

Baca Juga:
Proyek MRCV yang dikontrak pada Maret 2023 ini menggabungkan konsep fregat dengan "kapal induk mini" bagi sistem tak berawak. Artinya, satu MRCV dapat mengoordinasikan misi yang biasanya memerlukan beberapa kapal berawak. "Konsep operasinya mengingatkan saya pada film-film fiksi ilmiah," kata Chan.

"Bukan tentang memiliki jumlah tetap drone atau kapal permukaan tak berawak. Saat jenis misinya berkembang, sistem senjata dan kemampuan kapal ini juga akan ikut berevolusi," tukasnya.

Kapal pertama MRCV dijadwalkan diserahkan pada 2028, menggantikan enam kapal rudal Victory-class berbobot 595 ton yang telah beroperasi sejak 1990-an.

Menariknya, keenam kapal baru ini akan mewarisi nama yang sama dengan kapal pendahulunya. Adapun MRCV memiliki jangkauan hingga 7.000 mil laut, dengan ruang misi yang dapat memuat delapan kontainer berukuran 20 kaki.

Desain modular ini memungkinkan kapal beralih dari misi tempur ke misi kemanusiaan seperti bantuan bencana dengan cepat. Di buritan, terdapat sistem untuk menaikkan dan menurunkan kapal kecil atau drone permukaan, sementara derek di sisi kapal berfungsi memindahkan peralatan.

Dek terbang luas di bagian belakang juga mampu menampung drone udara dan helikopter berukuran sedang. Persenjataan dan teknologi siluman Kapal tempur canggih ini dipersenjatai dengan meriam laut Leonardo Strales kaliber 76mm, dua stasiun senjata kendali jarak jauh Rafael Typhoon MK 30-c, serta berbagai rudal pertahanan udara MICA dan Aster.

Meski belum diumumkan secara resmi, rudal anti-kapal yang akan digunakan diduga kuat adalah Blue Spear buatan Proteus — jenis rudal yang juga digunakan oleh beberapa angkatan laut Eropa.

MRCV hanya membutuhkan kurang dari 100 awak kapal, berkat sistem otomasi canggih dan kecerdasan buatan yang mengatur navigasi, senjata, dan sensor. Bahkan, jembatan komando dapat dioperasikan hanya oleh dua orang dalam kondisi darurat.

Sistem propulsi listrik penuh bertegangan tinggi juga membuat kapal lebih efisien dan senyap, sekaligus menyuplai daya bagi sensor dan persenjataan modernnya. "Kami membutuhkan kapal yang bisa terus berevolusi mengikuti kebutuhan operasional," kata Chan. "Inilah cara baru kami beroperasi dan bertempur di masa depan."

Hasil dari Kolaborasi Global

Selain ST Engineering, proyek ini melibatkan perusahaan Swedia Saab, yang menyumbang desain kapal serta memproduksi bagian superstruktur komposit serat karbon. Menurut Lars Kaddik dari Saab Kockums, bahan tersebut 50 persen lebih ringan dari baja, tidak berkarat, lebih sulit terdeteksi radar, dan membantu menjaga stabilitas kapal.

"Serat karbon memberikan isolasi pada peralatan di dalam tiang dan mengurangi berat bagian atas kapal, sehingga meningkatkan kestabilan lambung," jelas Kaddik.

Saab telah memproduksi panel superstruktur di Singapura dan berharap dapat meniru kerja sama internasional semacam ini di negara lain. Saat ini, Saab dan ST Engineering juga mempromosikan kapal misi pesisir berbobot 1.200 ton buatan Singapura kepada Estonia.

Meski berpenduduk hanya sekira enam juta jiwa, Singapura memiliki salah satu armada laut paling modern di Asia Tenggara. Bila seluruh proyek selesai, RSN akan memiliki enam kapal selam type 218SG, enam kapal perang, enam MRCV, enam fregat, delapan kapal misi pesisir, empat kapal pendarat, dan berbagai kapal kecil pendukung.

Baca Juga:
"Dulu, peran angkatan laut mungkin hanya untuk mempertahankan wilayah pesisir," ujar Chan. "Kini, garis komunikasi strategis kita membentang jauh. Karena itu, kita memerlukan kemampuan baru untuk memastikan tidak ada pihak berniat jahat yang mengganggu kehidupan sehari-hari kita," tandasnya. (**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
beritaTerkait
Wisatawan Mancanegara ke Sumut Agustus Tembus 30 Ribu
MDIS Konfirmasi Gibran Berkuliah di Singapura, Sabet Gelar Sarjana
Lisa Mariana Minta Tes DNA Pembanding di Singapura, Ini Jawaban Bareskrim
Ekspor Sumut Naik 21,99 Persen, Impor Turun 5,43 Persen
Kepala BNN Ungkap Kemungkinan Larangan Vape di Indonesia
Fenomena 'Zombie' di Jalanan Orchard: Singapura Nyatakan Perang, Samakan Vape Etomidat dengan Narkoba
komentar
beritaTerbaru
Kebakaran Landa SD Laguboti

Kebakaran Landa SD Laguboti

Toba (harianSIB.com)Kebakaran terjadi di kompleks Sekolah Dasar (SD) Negeri Negeri 173551 (SD3) Laguboti Kecamatan Laguboti Kabupaten Toba