Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Pemberontak Houthi Tembaki Rumah Presiden Yaman

- Kamis, 22 Januari 2015 15:10 WIB
295 view
Pemberontak Houthi Tembaki Rumah Presiden Yaman
Sana’a (SIB)- Pemberontak Houthi Syiah di ibukota Yaman, Sanaa, menembaki rumah presiden sehingga menggoyahkan kesepakatan gencatan senjata.

Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi dilaporkan berada di dalam rumah tetapi seorang pejabat menegaskan dia dalam keadaan aman. Serangan terhadap kediaman Hadi ini terjadi setelah pemberontak memasuki istana presiden di bagian lain kota sesudah terjadinya konflik dengan pengawal. Yaman -yang
merupakan sekutu penting Amerika Serikat dalam perang melawan al-Qaeda di kawasan- mengalami kerusuhan berdarah selama berbulan-bulan.

Milisi Houthi yang merupakan umat Syiah dan berjuang untuk mendapatkan peningkatan otonomi bagi daerah mereka, menyerang Sanaa pada bulan September lalu. Meskipun demikian gedung kepresidenan di ibukota sampai sejauh ini tidak mereka kuasai.

Menteri Penerangan Nadia al-Sakkaf lewat akun Twitternya menulis rumah presiden ditembaki. Seorang pejabat pemerintah Yaman mengatakan kepada kantor berita Reuters, "Presiden berada di dalam dan dia dalam keadaan aman." Gencatan senjata -yang dilanggar hari Selasa (20/01)- disepakati hanya sehari setelah bentrokan sengit berjam-jam antara pasukan Pengawal Presiden dengan kelompok Houthi.

Serukan Serangan Teror
Militan Al-Qaeda di Semenanjung Arab atau Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP) yang bermarkas di Yaman kembali menyerukan serangan terhadap negara-negara Barat. AQAP mengajak umat muslim dunia untuk melakukan serangan individual atau lone-wolf di wilayah negara Barat. "Jika dia memang mampu melakukan jihad individual di negara-negara Barat yang melawan Islam... maka itu lebih baik dan lebih membahayakan," ucap tokoh senior AQAP, Nasser bin Ali al-Ansi seperti dikutip SITE Monitoring dan dilansir Reuters, Rabu (21/1).

Pernyataan Ansi tersebut menjawab pernyataan apakah umat muslim harus meninggalkan negara Barat untuk tinggal di negara-negara Islam. Ansi menambahkan, AQAP tengah mempersiapkan rencana untuk menyerang target Barat di luar wilayah Yaman. Hal inilah yang membuat AS menyatakan AQAP sebagai sayap jaringan Al-Qaeda paling aktif. "Kami telah melakukan upaya di sektor eksternal dan musuh mengetahui bahaya tersebut... Kami tengah bersiap dan mengintai musuh-musuh Allah. Kami mengimbau mereka yang percaya untuk melakukannya," ujarnya.

AQAP telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan brutal di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis pada 7 Januari lalu yang menewaskan 12 orang. Dua pelaku serangan, yakni Kouachi bersaudara mendapat pelatihan di Yaman pada tahun 2011 lalu.

Sementara itu, aksi penembakan di pangkalan militer Fort Hood di AS pada tahun 2009 lalu, yang menewaskan 13 orang diduga ada kaitannya dengan AQAP. Pelaku yang bernama Nidal Malik Hasan diketahui berhubungan dengan Anwar al-Awlaki, ulama AS yang juga perekrut bagi AQAP. (BBC/Rtr/dtc/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru