Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Bunuh Salah Satu Sandera Jepang, ISIS Tawarkan Pertukaran Sandera

- Senin, 26 Januari 2015 14:50 WIB
562 view
Bunuh Salah Satu Sandera Jepang, ISIS Tawarkan Pertukaran Sandera
SIB/AP Photo/Asahi Shimbun, Yasuhiro Sugimoto, Pool
Sholchi Yukawa(tengah), orang tua Haruna Yukawa salah satu sandera Jepang yang ditahan ISIS, diwawancarai sejumlah wartawan di kediamannya di Chiba, Tokyo, Minggu (25/1). ISIS membunuh salah seorang sandera Jepang dan memberikan tawaran membebaskan seoran
Tokyo (SIB)- ISIS merilis video yang menunjukkan bahwa salah satu sandera dari Jepang yaitu Haruna Yukawa telah tewas dieksekusi. Permintaan baru berupa pertukaran sandera kemudian diajukan. Video itu dirilis secara online oleh salah satu pendukung ISIS. Sebuah gambar statis memperlihatkan sandera yang masih hidup yaitu Kenji Goto dengan memakai baju tahanan berwarna oranye. Goto memegang foto yang tampaknya adalah Yukawa yang telah dipenggal. Demikian dilansir CNN, Minggu (25/1).

Video ini muncul empat hari setelah pemerintah Jepang dituntut untuk membayar $ 200 juta dalam waktu 72 jam agar para sandera dibebaskan. Setelah batas waktu terlewati, ternyata ISIS benar-benar mewujudkan ancamannya.

Dalam video tersebut, seorang pria yang mengklaim sebagai Goto bersuara dan menyalahkan PM Jepang Sinzo Abe atas kematian Yukawa. Suara itu juga menyampaikan permintaan baru dari ISIS yaitu membebaskan Sajida Rishawi, seorang wanita yang disebut sedang ditawan oleh otoritas Yordania.
"Mereka tidak lagi menginginkan uang, sehingga Anda tidak perlu khawatir tentang pendanaan teroris. Mereka hanya menuntut pembebasan kakak mereka yang dipenjara, Sajida Rishawi," kata suara berbahasa Inggris itu.

"Ini sederhana. Anda memberi mereka Sajida, dan aku akan dibebaskan. Sekali lagi, saya ingin menekankan betapa mudahnya untuk menyelamatkan hidup saya. Anda membawa mereka kakak mereka dari rezim Yordania, dan saya akan bebas segera. Saya untuk dia (Rishawi)," lanjut suara itu.

Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan bahwa pemerintahnya telah mengetahui video terbaru dari ISIS itu. Suga mengatakan bahwa video itu memang memperlihatkan Goto memegang gambar Yukawa yang dibunuh. PM Abe pun menyebut hal itu sangat keterlaluan. "Itu keterlaluan, kekerasan yang tidak dapat dimaafkan," ucap Abe, sambil menambahkan bahwa ia menuntut Goto segera dibebaskan.

PM Shinzo Abe mengatakan kredibilitas video tersebut sangat tinggi. "Kami sudah memeriksa keotentikannya, dan kami harus katakan kredibilitas video itu sangat tinggi. Saya tak bisa berkata-kata mengingat kesedihan dan derita yang ditanggung keluarga korban," kata Abe lewat lembaga penyiaran publik NHK.

"Ini adalah sebuah tindakan teror yang berlebihan dan tak bisa dimaafkan, hal ini menyebabkan saya sangat marah. Saya mengecam tindakan ini dengan keras," tambah Abe. Lebih jauh Abe melanjutkan pemerintah akan terus berupaya mengalisa gambar-gambar dalam video itu untuk benar-benar memastikan keotentikan rekaman tersebut.

Namun, video itu tidak diunggah di laman-laman internet yang selama ini biasa digunakan ISIS untuk mengunggah berbagai video propaganda atau eksekusi sandera. Selain itu dalam video tersebut tak menampilkan satupun bendera hitam khas ISIS. Kejanggalan lain adalah proses eksekusi Yukawa juga tak diperlihatkan berbeda dengan eksekusi yang dilakukan terhadap sandera asal AS atau Inggris.

Para pemimpin dunia mengecam keras dibunuhnya sandera Jepang. “Kembali terjadi pembunuhan brutal, dan ISIS masih akan terus melakukan pembunuhan serta menjadi ancaman bagi perdamaian dunia, “ujar Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

“Amerika Serikat sangat mengutuk aksi ini,” Presiden Barack Obama menambahkan. “Kami akan berdiri bersama Pemerintah Jepang untuk menumpas ISIS, kami akan terus bekerja sama untuk membebaskan warga Jepang lainnya,”ujar Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, Patrick Ventrell. Ventrell menambahkan Amerika Serikat juga telah mengerahkan pihak intelijen untuk terus mencari tahu keberadaan sandera Jepang dan berusaha untuk membebaskannya.(Detikcom/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru