Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Pemerintah Thailand Tangkap Tokoh Oposisi

*Lokasi Demo Oposisi Kembali Dihantam Ledakan, 6 orang Tewas
- Selasa, 11 Februari 2014 18:40 WIB
357 view
Pemerintah Thailand Tangkap Tokoh Oposisi
AP Photo
Sutep Thaugsuban (kiri berkaca mata)memperhatikan untaian uang kertas yang berhasil dia kumpulkan dari para demonstran di jalanan kota Bangkok, Thailand, Senin (10/2/2014)
Bangkok (SIB)- Seorang pemimpin oposisi Thailand yang terkenal ditangkap setelah pengadilan mengeluarkan surat penangkapan atas 19 pemimpin oposisi pekan lalu.

Laporan BBC dari Bangkok, mengatakan Sonthiyan Chuenruthainaitham merupakan tokoh oposisi yang banyak diliput media dan ikut memimpin unjuk rasa jalanan untuk menentang pemerintah Thailand yang sudah berlangsung selama hampir tiga bulan.

Pengadilan mengeluarkan surat penahanan atas 19 pemimpin oposisi dengan dakwaan melanggar keadaan darurat yang diberlakukan di Bangkok dan sekitarnya oleh Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

 Walau sudah diberlakukan keadaan darurat sejak akhir Januari, gerakan Komite Reformasi Demokrasi Rakyat tetap menggelar aksi unjuk rasa dengan menutup beberapa jalan utama dan menghambat pemungutan suara 2 Februari lalu.

 Para pengunjuk rasa menuntut PM Yingluck mundur karena dianggap di bawah bayang-bayang abangnya, Thaksin Shinawatra yang digulingkan militer dari kursi PM tahun 2006.

 Thaksin-yang saat ini mengasingkan diri ke luar negeri- sudah didakwa dengan beberapa dakwaan korupsi.

Penangkapan tokoh oposisi ini bisa menjadi pertanda bahwa pemerintah ingin menerapkan tindakan yang lebih keras.

Meski skala unjuk rasa sudah berkurang, pemimpin pengunjuk rasa Suthep Thaugsuban bertekad menggelar aksi hingga PM Yingluck mundur dan diganti dengan Dewan Rakyat yang tidak dipilih.

Pemerintah masih harus melakukan pemungutan suara ulang di beberapa tempat sementara partai oposisi ingin menggugat ke Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan hasilnya.

SUTHEP CARI BANTUAN
Suthep Thaugsuban, pemimpin anti pemerintah Thailand, bergerak di sepanjang Jalan Sukhumvit, dari Ekamai ke Asoke, pada Senin untuk mencari sumbangan keuangan bagi petani pengunjuk rasa di Bangkok guna menekan pembayaran beras mereka, yang terlambat diberikan.

Dia mengatakan uang itu dihimpun untuk pengeluaran harian petani, sementara di Bangkok mereka melakukan penuntutan terhadap pemerintah.
Petani padi dari berbagai provinsi berunjuk rasa di Kementerian Perdagangan setelah menunggu sia-sia terhadap pemerintah untuk membayar beras yang mereka jual di bawah program subsidi beras.

Suthep mengatakan ia berharap untuk menghimpun lebih dari 10 juta bath dari aksi Senin, yang dimulai di stasiun skytrain Ekamai dan bergerak di sepanjang Jalan Ekamai, New Phetchburi Road, Soi Thonglor dan Jalan Sukhumvit. Asoke, persimpangan di mana salah satu situs unjuk rasa terletak akan menjadi tujuan terakhirnya.

Suthep membagi petani yang berduka menjadi tiga kategori: mereka yang menyampaikan beras tetapi tidak menerima tanda terima resmi dari penggilingan padi, mereka yang menerima tanda terima setelah memberikan beras mereka tetapi belum menandatangani kontrak dengan Bank Pertanian dan Koperasi Pertanian (BAAC), dan mereka yang memiliki penerimaan dan kontrak dengan BAAC setelah memberikan beras mereka, tetapi belum dibayar.

Dia mengatakan, orang-orang pemerintah harus mengatur sesegera mungkin sehingga beras di gudang milik negara akan segera dijual untuk mendapatkan uang bagi petani.

Akanat Promphan, juru bicara Komite Reformasi Demokratis Rakyat anti-pemerintah (PDRC), mengatakan pemerintah dan Partai Pheu Thai yang berkuasa mencoba untuk mendiskreditkan orang-orang yang telah mengorganisir forum untuk serius membicarakan reformasi nasional.

Ia mengatakan protes petani untuk pembayaran beras tidak terkait dengan demonstrasi politik yang sedang berlangsung dan pemerintah harus tidak menyesatkan publik atau mengklaim bahwa mereka  berasal dari provinsi penanaman padi yang bukan petani asli.

Petani keluar di jalan-jalan karena mereka berada dalam kesulitan keuangan yang mendalam akibat skema beras pemerintah, katanya.

LEDAKAN KEMBALI TERJADI
Aksi demo antipemerintah terus berlangsung di Bangkok, Thailand. Sebuah ledakan kembali terjadi di lokasi demo anti pemerintah. Sedikitnya enam orang terluka dalam insiden itu.

Pejabat kepolisian, Nopparuj Jitman mengatakan seperti dilansir News.com.au, Senin (10/2), ledakan terjadi saat para petugas kebersihan jalan tengah mengganti tiga pot bunga di jalanan dekat lokasi demonstrasi di Bangkok. Ledakan itu berasal dari bom rakitan.

Dinas medis emergensi Erawan menyatakan, dua petugas kebersihan termasuk di antara korban yang terluka. Keduanya dirawat di rumah sakit karena mengalami luka-luka serius.

Bangkok tengah dilanda aksi-aksi protes antipemerintah dalam beberapa bulan terakhir. Para demonstran menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

Aksi-aksi protes itu dipicu pada 31 Oktober 2013 lalu, ketika pemerintahan Yingluck mengusulkan RUU amnesti yang akan memberikan pengampunan bagi kakak Yingluck, mantan PM Thaksin Shinawatra. RUU ini dikhawatirkan oposisi akan digunakan sebagai jalan kembalinya Thaksin ke Thailand.

Thaksin yang digulingkan pada tahun 2006, telah mengasingkan diri di luar negeri sejak tahun 2008 guna menghindari hukuman penjara 2 tahun atas kasus korupsi. (BBC/Ant/dtc/x)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru