Teheran (SIB)- Seorang perwira tinggi Angkatan Laut Iran mengeluarkan ancaman terbaru terhadap Amerika Serikat (AS). Dirinya bersumpah akan menenggelamkan Armada Kelima AS di Timur Tengah, bila sengaja diprovokasi. Ancaman tersebut dilontarkan Iran setelah mereka mengerahkan kapal perang sebagai respons dari pergerakan kapal perang AS di wilayah Negeri Paramullah. Pengerahan kapal perang itu dikonfirmasi oleh komandan senior Angkatan Laut Iran, Afshin Rezayee.
"Armada Iran mendekatai perbatasan maritim AS dan langkah ini adalah sebuah pesan," ujar Rezayee, seperti dikutip International Business Times, Selasa (11/2/2014). Sikap keras Rezayee ini didukung oleh Komandan AL Garda Revolusi Iran, Ali Fadavi. Dirinya memperingatkan agar AS tidak mendekati wilayah perairannya.
Armada Kelima Angkatan Laut AS bertugas di wilayah Teluk Persia, Laut Merah, Laut Arab dan sebagian wilayah Samudera Hindia. "Amerika akan merasakan bagaimana kapal perang mereka tenggelam berama dengan 5.000 awaknya dalam perang melawan Iran. Mereka akan menemukan tempatnya di dalam laut," jelas Fadavi. Sementara Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehqan juga mengecam provokasi AS. Dehqan bersumpah bahwa kehadiran AS akan disertai dengan respons militer Iran yang keras.
Komandan Divisi Udara Korps Garda Revolusi Islam, IRGC, Brigjen Amir Ali Hajizadeh menyatakan AS tak pernah punya keberanian untuk melancarkan serangan terhadap negaranya. "Bangsa dan Angkatan Bersenjata Iran siap untuk mengambil tindakan terhadap AS dan musuh-musuh yang punya mata serakah terhadap negara ini," cetusnya di depan para mahasiswa Iran di Teheran. Diimbuhkan Hajizadeh, AS telah beberapa kali menunjukkan sikap agresinya terhadap Iran. Karena itu menurutnya, pemerintah Iran tak percaya pada AS dan sekutu-sekutunya. Dicetuskan Hajizadeh, Washington tidak menghormati komitmennya pada Iran dan banyak negara di dunia.
"AS punya sifat agresif, yang telah ditunjukkan beberapa kali dalam sikapnya terhadap Iran. Tiap kali kita ingin mendekat pada mereka (Amerika), mereka menyerang kita dengan tindakan," tutur komandan senior IRGC tersebut.
Sementara itu militer Iran sukses melakukan uji-tembak dua rudal baru buatan dalam negeri, salah satunya adalah rudal balistik jarak jauh. Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Hossein Dehqan mengatakan, rudal balistik itu punya kemampuan menghindari radar.
"Generasi baru rudal balistik jarak jauh darat ke darat dengan hulu ledak yang bisa pecah berkeping-keping dan rudal udara ke permukaan serta permukaan ke permukaan yang dijuluki Bina (Insightful), yang dipandu laser, telah berhasil diuji-tembak," kata jenderal itu sebagaimana dikuti televisi tersebut.
"Rudal Bina mampu menyerang sasaran penting seperti jembatan, tank dan pusat komando musuh dengan tepat." Presiden Hassan Rohani menyampaikan pesan ucapan selamat yang mengatakan, "Anak-anak Iran telah sukses melakukan uji-tembak sebuah rudal generasi baru," lapor televisi tersebut. Iran telah memiliki rudal jarak jauh permukaan-ke-permukaan Shahab dengan jangkauan sekitar 2.000 km (1.250 mil) yang mampu mencapai Israel dan pangkalan militer AS di Tengah Timur. Namun, para pengulas telah menantang beberapa pernyataan militer Iran, dan mengatakan mereka sering melebih-lebihkan kemampuannya.
Panggil Dubes SwissTeheran memanggil duta besar Swiss, yang mewakili kepentingan Washington di Iran, untuk menyampaikan protes mengenai tindakan terbaru AS terhadap pribadi dan perusahaan karena melanggar sanksi terhadap negara itu.
Departemen Keuangan AS pada pekan lalu mengatakan memasukkan mereka ke daftar hitam karena "mendukung program nuklir Iran dan mendukung aktif terorisme", walaupun pihaknya melonggarkan sejumlah sanksi sebagai bagian dari perjanjian sementara menyangkut kegiatan nuklri Teheran.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, yang memanggil duta besar Swiss, mengecam keras AS menyangkut tindakan-tindakan itu. "Sikap Republik Islam Iran mengenai terorisme telah dikenal dan AS, yang secara terbuka mendukung kelompok teroris di kawasan itu, tidak dalam posisi menuduh Iran," katanya. "Kami mengecam keras tuduhan itu," tambah pejabat itu. Pribadi dan perusahaan sasaran Departemen Keuangan AS adalah yang beroperasi di Turki, Spanyol, Jerman,Georgia, Afghanistan, Iran, Uni Emirat Arab dan Liechtenstein.
David Cohen, wakil menteri keuangan urusan terorisme dan intelijen keuangan, mengatakan AS akan melaksanakan pengurangan sementara beberapa sanksi terhadap Iran sesuai dengan perjanjian nuklir itu, tetapi "mayoritas sanksi-sanksi itu tetap berlaku". Negara Barat telah lama mencurigai Iran berusaha secara teselubung untuk memiliki kemampuan senjata nuklir bersama dengan prgram sipilnya. Tuduhan itu dibantah Teheran.
(Detikcom/Ant/AFP/ r)