Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Koalisi Arab Saudi Bombardir Bandara Internasional Yaman, 15 Orang Tewas

* Ratusan Staf Diplomat Asing dan PBB Dievakuasi, * Jalur Udara Yaman Ditutup, Puluhan WNI Berlindung di KBRI
- Senin, 30 Maret 2015 16:12 WIB
490 view
Koalisi Arab Saudi Bombardir Bandara Internasional Yaman, 15 Orang Tewas
Sanaa (SIB)- Pesawat-pesawat tempur Arab Saudi dan koalisi membombardir bandara internasional Yaman di ibukota Sanaa, yang dikuasai para pemberontak Syiah Houthi. Sedikitnya 15 tentara pemberontak tewas dalam serangan udara tersebut. Akibat serangan udara Saudi dkk itu, bandara Sanaa pun lumpuh. Serangan untuk memerangi Houthi dan pasukan yang setia pada mantan presiden Ali Abdullah Saleh ini, kini telah memasuki malam keempat. "Ini pertama kalinya mereka menyerang bandara sejak rangkaian peperangan dimulai," ujar sumber penerbangan seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (29/3).

Serangan ke bandara internasional tersebut dilakukan setelah para diplomat dan staf PBB dievakuasi dari Sanaa "Bandara kini benar-benar tak berfungsi," imbuh sumber tersebut. Saksi mata mengaku mendengar tiga ledakan keras dan melihat kobaran api besar saat bandara dibombardir.

Angkatan Laut Arab Saudi mengevakuasi para diplomat dari negeri itu. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menarik seluruh stafnya, menyusul malam ketiga serangan-serangan udara yang dilancarkan Saudi dan negara-negara lainnya.

Seorang perwira militer Saudi mengatakan seperti dilansir AFP, Minggu (29/3), lebih dari 200 staf dari PBB, kedutaan-kedutaan asing dan organisasi lainnya telah dievakuasi dari negeri itu. Evakuasi dilakukan sementara militer Saudi dkk terus melancarkan serangan udara untuk memerangi para pemberontak Syiah Houthi. Sumber diplomatik Teluk mengatakan, operasi militer ini semula direncanakan akan berlangsung satu bulan. Namun operasi ini bisa saja diperpanjang hingga lima atau bulan.  Sebelumnya, pemerintah Saudi telah menegaskan, operasi militer anti-Houthi ini akan terus dilakukan hingga pemerintahan sah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi kembali berfungsi di Yaman.

Dalam operasi militer di Yaman ini, Saudi mengerahkan 100 pesawat tempur dan 150 ribu tentara. Selain itu, pesawat-pesawat dari Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar dan Bahrain juga ikut serta dalam operasi besar-besaran ini.

Mesir, Pakistan, Yordania dan Sudan saat ini juga siap untuk berpartisipasi dalam operasi pertempuran di darat, jika nantinya perlu dilakukan. "Rangkaian serangan ini tujuannya untuk mencegah para pemberontak Houthi menggunakan bandara-bandara dan pesawat untuk menyerang Aden dan bagian-bagian Yaman lainnya serta mencegah mereka menggunakan roket-roket," tutur Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen.

Sebelumnya dalam statemen bersama, lima negara Teluk Arab: Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Qatar telah memutuskan untuk bertindak melindungi Yaman, dari apa yang mereka sebut sebagai agresi milisi Houthi yang didukung Iran. Kota Aden di Yaman selatan kini menjadi basis Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi setelah meninggalkan ibukota Sanaa, yang sejak Februari lalu dikuasai pemberontak Houthi.

Gudang Senjata di Kota Aden Meledak, 14 Tewas
Sebelumnya, serangkaian ledakan di gudang senjata di kota terbesar kedua di Yaman, Aden, Sabtu (28/3), menewaskan sedikitnya 14 orang. Demikian penjelasan seorang pejabat negeri itu. Ledakan di gudang senjata itu bisa terdengar dari seluruh penjuru kota dan asap hitam terlihat membubung tinggi ke udara dari lokasi gudang senjata yang sehari sebelumnya dijarah warga.

Gudang senjata itu berada di kaki gunung Jabal Hadid yang menghadap ke arah pelabuhan. Sejumlah besar senjata dari masa Uni Soviet disimpan di dalam gudang yang berbentuk gua tersebut. "Sejauh ini kami sudah menemukan 14 korban tewas. Kami mendapatkan informasi masih banyak jasad di dalam namun kami tak bisa masuk ke lokasi karena asap tebal menutup kawasan itu," kata Direkturk Departemen Kesehatan Al-Kheder Lassouar.

Sejumlah saksi mata mengatakan banyak orang berada di dalam atau di puncak Jabal Hadid saat ledakan terjadi. Namun, beberapa orang sudah tewas dalam aksi penjarahan jauh sebelum ledakan terjadi. "Mereka yang masuk untuk menjarah senjata dibunuh orang lainnya yang tak menemukan apa yang mereka cari," kata seorang saksi mata. Saksi lain mengatakan beberapa orang tewas kehabisan nafas setelah menghirup gas beracun yang berasal dari bubuk mesiu yang disimpan di dalam gua itu. 

Hizbullah: Arab Saudi akan Kalah
Pemimpin Hizbullah  Libanon Hassan Nasrallah, mengatakan jika Arab Saudi akan mengalami kekalahan jika tetap menyerang Yaman. “Hasil perang ini sudah jelas, kekalahan akan jadi milik Arab Saudi. Rakyat Yaman akan merasakan kemenangan yang tidak terduga,” ujar Nasrallah, seperti dilansir NDTV, Sabtu (28/3). Nasrallah juga menilai jika serangan Arab Saudi ke Yaman hanya untuk memperluas pengaruh saja. Dia pun meminta agar Arab Saudi segera menghentikan serangan udaranya.

Hizbullah yang merupakan sekutu dekat Kelompok Houthi mengecam segala bentuk serangan di Yaman. Menurutnya jalan dialog adalah cara terbaik untuk menyelsaikan masalah. “Kami selalu membuka pintu untuk berdialog dengan siapapun,” tegas Nasrallah. Namun, Nasrallah tidak menjelaskan lebih rinci apakah Hizbullah akan membantu perjuangan Kelompok Houthi di Yaman. Hizbullah merupakan suatu kelmpok beraliran Syiah dan sejalan dengan Kelompok Houthi di Yaman. Selain itu, kelompok ini juga mempunyai pengaruh yang besar di Lebanon dan dekat dengan Pemerintah Iran.

Puluhan WNI Berlindung di KBRI
Di tengah kecamuk Yaman saat koalisi udara pimpinan Arab Saudi menggempur pemberontak al-Houthi, Kedutaan Besar Republik Indonesia tetap beroperasi dan saat ini menampung puluhan WNI yang akan dievakuasi. Hal itu disampaikan oleh Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWI-BHI) Kementerian Luar Negeri.

“Duta besar juga masih di Sanaa, dengan prioritas untuk evakuasi warga,” kata Iqbal, Minggu (29/3).

Saat ini, masih terdapat 4.159 WNI yang menetap di berbagai kawasan di Yaman. Jumlah tersebut terbagi menjadi 2.686 mahasiswa dan 1.488 pekerja. Sejak pemerintah mengumumkan rencana evakuasi pada Februari lalu, 175 orang mendaftar dan 141 di antaranya sudah tiba di Tanah Air.

“Saat ini, terdapat sekitar 50-an orang yang berada di shelter KBRI, menunggu untuk dievakuasi sementara sedang dicari jalan keluar Yaman yang aman, mengingat jalan darat berisiko dan jalur udara sudah ditutup,” terang Iqbal. “Sementara itu, mayoritas pekerja Indonesia di Yaman bekerja di sektor oil and gas, dan sudah ada pengaturan untuk evakuasi dari perusahaan mereka masing-masing, meski KBRI juga memonitor mereka,” Iqbal melanjutkan.

KBRI, menurut Iqbal, sudah sejak jauh-jauh hari menganjurkan evakuasi KBRI saat kondisi Yaman mulai bergejolak setelah al-Houthi menguasai istana Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi pada Januari lalu, termasuk secara rutin mengeluarkan surat imbauan bagi WNI di Yaman. "Pemerintah Indonesia terus mendorong WNI di Yaman untuk mendaftarkan diri agar dapat segera dievakuasi dari Yaman," tulis Kemlu dalam sebuah pernyataan pada Jumat lalu. 

Seluruh WNI yang masih berada di Yaman juga dapat menghubungi KBRI melalui layanan telepon yang dapat diakses selama 24 jam dengan nomor 967 738 115 555. (AFP/dtc/CNNIndonesia)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru