Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026
Arab Saudi Belum Berniat Lancarkan Serangan Darat

Iran Ajak Arab Saudi Dialog Hentikan Konflik di Yaman

* 37 Pekerja Pabrik Susu di Yaman Tewas Akibat Serangan Udara
- Kamis, 02 April 2015 11:47 WIB
676 view
 Iran Ajak Arab Saudi Dialog Hentikan Konflik di Yaman
Riyadh (SIB)- Operasi militer Arab Saudi terhadap para pemberontak Syiah Houthi di Yaman, sejauh ini masih terbatas pada serangan udara. Militer Saudi menegaskan, pihaknya hanya akan mengirimkan pasukan darat ke Yaman jika operasi tersebut memang diperlukan.

"Bisa saja ada operasi darat terbatas, di wilayah tertentu, di waktu tertentu. Namun jangan berharap akan ada operasi darat secara otomatis," tutur juru bicara koalisi Arab Saudi, Brigjen Ahmed Asseri. "Saya tak ingin kami berkonsentrasi pada operasi darat seakan-akan itu sebuah keharusan ... jika masih mungkin untuk mencapai tujuan lewat cara-cara lain," katanya seperti dilansir AFP, Rabu (1/4).

Selama enam hari terakhir, serangan-serangan udara Saudi dkk telah menargetkan persenjataan militer yang dikuasai Houthi, mulai dari jet-jet tempur dan tank-tank hingga meriam antipesawat dan rudal balistik. Namun hingga kini, serangan-serangan udara itu belum berhasil mengusir para pemberontak Houthi dari kota-kota dan wilayah-wilayah yang mereka kuasai.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Yaman Riyadh Yaseen, menyerukan Saudi dkk untuk melakukan intervensi darat secepat mungkin, guna menyelamatkan warga Yaman yang berada dalam pengepungan Houthi di sejumlah wilayah.

Konflik di Yaman terjadi setelah kubu pemberontak Houthi melengserkan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi. Hadi kemudian berupaya mempertahankan kekuasaannya dengan mengungsi dari ibukota Sanaa dan mendirikan pusat pemerintahan di kota Aden. Operasi militer Saudi ini dilakukan setelah Houthi terus bergerak mendekati kota Aden, dan ini dikhawatirkan akan mengancam keselamatan Presiden Hadi.

Sepak terjang kaum Houthi telah membangkitkan dugaan Arab Saudi, bahwa aksi mereka disokong oleh pemerintah Iran, yang juga beraliran Syiah. Namun, baik kaum Houthi dan Iran menepis dugaan tersebut. Meski demikian, ada kekhawatiran bahwa operasi militer Saudi dkk akan memicu konflik baru yang menyeret Iran.

37 Pekerja Pabrik

Konflik Yaman kembali menelan korban jiwa. Setidaknya 37 pekerja tewas ketika pabrik susu di Yaman barat dibombardir. Insiden ini terjadi menyusul malam ketujuh berlangsungnya serangan-serangan udara Arab Saudi dan koalisi terhadap pemberontak Syiah Houthi. Sebanyak 80 orang lainnya luka-luka dalam serangan di pabrik yang berada di Hodeida itu. Demikian disampaikan gubernur provinsi setempat, Hasan al-Hai seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (1/4). Namun tidak disebutkan apakah pabrik tersebut terkena serangan udara Saudi dkk atau akibat gempuran udara yang dilancarkan pemberontak Houthi dan sekutunya, pasukan yang setia pada mantan presiden Ali Abdullah Saleh.

Akibat serangan ini, sebagian pabrik hancur. Tim penyelamat saat ini tengah melakukan pencarian korban di antara puing-puing bangunan. Belum ada keterangan lebih detail mengenai bombardir tersebut. Sejumlah saksi mata mengatakan, pabrik susu tersebut terkena serangan udara koalisi Arab Saudi. Namun pihak-pihak lainnya menyalahkan pasukan pemberontak atas serangan udara tersebut.

Sementara itu, setidaknya 62 anak-anak telah tewas dan 30 anak lainnya luka-luka di Yaman dalam sepekan terakhir. Ini terjadi seiring memanasnya situasi di Yaman sejak Arab Saudi dkk melancarkan serangan-serangan udara terhadap pemberontak Syiah Houthi di negeri itu. "Anak-anak sangat membutuhkan perlindungan, dan semua pihak yang berkonflik harus melakukan semampu mereka untuk menjaga anak-anak tetap aman," ujar Julien Harneis, perwakilan badan anak PBB, UNICEF seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (1/4).

Pertempuran kian meningkat di Yaman setelah koalisi Saudi melancarkan serangan-serangan udara terhadap pemberontak Houthi sejak enam hari lalu. UNICEF mengatakan, pertempuran antara pasukan Yaman dan pemberontak Houthi tersebut telah merusak layanan pendidikan dan kesehatan, dan memperburuk kondisi sulit yang dialami anak-anak, yang menghadapi krisis pangan dan kekurangan gizi yang akut.

Secara terpisah, Sekjen PBB Ban Ki-moon menyatakan sangat prihatin atas laporan jatuhnya korban jiwa warga sipil akibat operasi militer yang dilancarkan Saudi dkk. Gempuran udara pada Senin, 30 Maret itu menghantam kamp pengungsi, hingga menewaskan puluhan warga sipil Yaman, termasuk wanita dan anak-anak tak bersalah. Ban mengingatkan semua pihak yang terlibat dalam operasi militer di Yaman, agar mematuhi kewajiban sesuai hukum kemanusiaan internasional guna memastikan perlindungan warga sipil.

Ajak Saudi Dialog

Pemerintah Iran mengimbau semua pihak yang bertikai di Yaman untuk tenang dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah. Iran juga mengajak Arab Saudi untuk berdialog bersama untuk mencari titik temu dalam konflik di negara itu. "Iran dan Arab Saudi bisa bekerja sama untuk menyelesaikan krisis Yaman. Kami mengimbau seluruh pihak di Yaman untuk tetap tenang dan berdialog," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir Abdollahian, Selasa (30/3).

Kendati Iran mengajak berdialog, namun Abdollahian terdengar sangsi bahwa negara itu memiliki jalur komunikasi dengan Saudi. Kepada Reuters, dia hanya mengatakan "Kami sedang mencoba" membuka jalur komunikasi, namun tidak memberikan rincian apapun. Selain itu, saat ditanya apakah Iran memiliki rencana untuk mengakhiri perang di Yaman, dia hanya mengatakan: "Kami punya usulan."

Iran telah mengirimkan bantuan non-militer untuk Yaman, yang pertama kali sejak koalisi Arab pimpinan Saudi menyerang pemberontak Houthi di negara itu pekan lalu. Menurut Bulan Sabit Merah Iran, mereka mengirimkan 19 ton obat-obatan dan perlengkapan medis serta dua ton makanan. Bantuan dikirimkan melalui udara, namun tidak disebutkan ke daerah mana.

Iran membantah terlibat dalam konflik yang dipicu oleh pemberontakan kelompok Syiah Houthi di Yaman itu. Sebelumnya Saudi dan beberapa negara Timur Tengah lainnya mengatakan Iran telah menyokong senjata dan bantuan lainnya untuk Houthi.

Juru bicara Kemlu Iran Marzieh Afkham diberitakan IRNA mengatakan bahwa tuduhan itu tidak benar. Dia berdalih bahwa bantuan yang diberikan Iran hanyalah untuk keperluan medis dan sanitasi.

Iran memang membantah, namun beberapa laporan justru membuktikan sebaliknya. Senin lalu Al Arabiya mempublikasikan video yang menunjukkan tentara Garda Revolusi Iran tengah melatih kelompok Houthi menggunakan jet tempur. Dalam video disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di salah satu bandara militer Yaman, membuktikan dengan gamblang keterlibatan Iran dalam konflik di negara itu.

Dua pekan lalu, masih dikutip Al-Arabiya, seorang sumber pemerintah Yaman mengatakan bahwa kapal Iran telah mengirimkan 180 ton senjata dan perlengkapan militer ke pelabuhan al-Saleef di provinsi al-Hodeida yang dikuasai Houthi.

Saat pengiriman berlangsung, Houthi dilaporkan menutup pelabuhan dan melarang staf masuk. Pelabuhan Saleef disebut sebagai pintu masuk paling vital kedua di Yaman.

Pengiriman itu dilakukan menyusul kesepakatan ekonomi antara Iran dan Houthi, termasuk perjanjian pemenuhan pasokan minyak selama setahun dari Teheran. Iran juga setuju untuk membangun pembangkit listrik 200 megawatt untuk pemerintahan Houthi di Yaman. Sementara itu Saudi dan negara-negara Arab menyatakan tidak akan menghentikan serangan sampai Houthi menyerah dan kekuasaan kembali pada Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi. (AFP/dtc/CNNIndo/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru