Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Arab Saudi Minta Pakistan Kirim Pasukan ke Yaman

*Oposisi Houthi Siap Berdialog dengan Koalisi Arab Saudi
- Selasa, 07 April 2015 10:57 WIB
514 view
 Arab Saudi Minta Pakistan Kirim Pasukan ke Yaman
Riyadh (SIB)- Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif, Senin (6/4), mengatakan Arab Saudi meminta Pakistan mengirimkan pesawat-pesawat militer, kapal perang dan tentara untuk menyerang militan Houthi di Yaman. Arif Rafiq dari Intitut Timur Tengah di Washington, sebelumnya mengatakan Pakistan berharap dapat memuaskan harapan Saudi, pada tingkat yang minimal. "Mungkin mereka akan memperkuat perbatasan," kata Rafiq. Namun dari pernyataan Asif, tampaknya Saudi berharap Pakistan terlibat secara langsung dalam operasi militer di Yaman.

Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif berutang pada Saudi, yang secara reguler menggelontorkan bantuan bagi Pakistan, untuk menghindari runtuhnya perekonomian negara itu. Saudi memberikan Pakistan $1,5 miliar pada 2014. Saudi juga memberikan tempat perlindungan bagi Sharif, setelah dia dikudeta pada 1999. Namun terlibat dalam koalisi yang dipimpin Saudi, dapat memicu konflik sektarian di Pakistan.

Seperlima populasi Pakistan adalah Syiah, dan aksi kekerasan terhadap mereka di Pakistan terus meningkat, menyebabkan terus tidak stabilnya negara berpenduduk 180 juta orang itu. Pakistan kerap berkontribusi dalam misi pasukan penjaga perdamaian PBB, namun sebagian publik Pakistan saat ini menentang keterlibatan militer Pakistan, dalam intervensi yang dilakukan Saudi di Yaman. "Harus diingat bahwa Pakistan bukan gundik Saudi," tulis media Pakistan Express Tribune dalam editorial mereka. Sejauh ini para jenderal Pakistan, belum terdengar memberikan pendapatnya.

Namun seorang purnawirawan berpangkat Mayjen, Mahmud Ali Durrani, mengatakan Saudi adalah sahabat pemerintah dan militer Pakistan, namun intervensi di Yaman akan menjadi langkah yang tidak bijak. "Jika itu untuk membela Arab Saudi dari ancaman agresi, saya pikir kami dapat dengan segera mengirimkan pasukan. Mengirimkannya ke negara ketiga, saya pikir itu seperti membabi-buta," ucap Durrani.

Di saat koalisi Arab Saudi melancarkan serangan, seorang komandan Al Qaeda memperlihatkan sejumlah foto foto narsis di sebuah istana pemerintah di Yaman setelah dia dibebaskan para pejuang militannya. Foto-foto itu telah beredar secara online di dunia maya. Dalam salah satu foto, komandan senior Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), Khalid Batarfi, tampak duduk santai di istana gubernur di Kota Al Mukalla, Yaman. Dia berpura-pura menelefon dan memegang senjata.

Batarfi bersama 300 narapidana sebelumnya dijebloskan ke Pusat Penjara Al Mukalla oleh Pemerintah Yaman. Namun, di tengah-tengah kekacauan akibat perang antara kelompok Houthi dan koalisi Arab Saudi, kelompok AQAP menyerbu penjara dan membebaskan para tahanan itu. Kelompok AQAP juga menjarah senapan mesin dan peluncur roket.

Setelah mengambil alih penjara, kelompok menuliskan pesan di Twitter. ”Semua saudara telah dibebaskan, termasuk Komandan Batarfi yang kini berada di antara saudara-saudaranya, segala puji bagi Tuhan,” demikian kicauan kelompok AQAP melalui salah satu akun Twitter. Batarfi dikenal untuk peran pentingnya dalam sebuah pertempuran pada 2011-2012 antara AQAP dengan pasukan pemerintah Yaman. Kala itu AQAP berhasil merebut sejumlah wilayah di selatan dan timur Yaman.

Siap Berdialog

Kelompok pemberontak Houthi mengatakan siap berdialog untuk membicarakan perdamaian di kawasan Yaman dengan Saudi dan pemerintah yang berkuasa. Namun, dengan satu syarat, yakni koalisi militer Arab Saudi bersedia untuk menghentikan kampanye serangan udaranya.

Syarat lainnya yang ditetapkan oleh seorang anggota senior kelompok Houthi yakni negosiasi itu diawasi oleh pihak yang tidak agresif. Beberapa pekan lalu, negosiator dari PBB yang mencoba mendamaikan kedua pihak mengalami jalan buntu.

Penasihat Presiden Yaman, Saleh al-Sammad mengatakan rakyat Yaman sudah tak menginginkan pemimpin mereka kembali ke Yaman. Sebab, Abd-Rabbu Mansour Hadi kadung sudah dianggap berbuat tindak korupsi dan malah melarikan diri ke Arab Saudi.

"Kami akan tetap berpegang kepada posisi kami terkait dialog dan kami menuntut adanya kelanjutan terlepas dari apa pun yang telah terjadi, dengan dasar saling menghormati dan menerima satu sama lain," kata Sammad. Dia menambahkan, Houthi tidak memiliki syarat lainnya kecuali penghentian serangan dan duduk untuk berdialog di meja dengan tenggat waktu yang spesifik.

"Pihak regional atau badan internasional mana pun yang tidak memiliki kepentingan agresif terhadap warga Yaman, maka dapat ikut memantau jalannya dialog," ungkap Sammad, tanpa menyebut secara spesifik siapa pihak tersebut. Selain itu, dia menginginkan proses dialog disiarkan secara luas ke rakyat Yaman. Tujuannya untuk mengetahui dengan jelas siapa yang menjadi pihak yang tidak setuju dengan dialog tersebut.

Tawaran dialog itu disambut oleh Raja Arab Saudi, Salman. Pada hari ini, dia menyebut siap untuk melakukan pertemuan politik dengan Yaman di Dewan Kerjasama Negara-Negara Teluk (GCC). Sementara, lima dari enam anggota GCC tergabung dalam koalisi militer untuk menyerang Houthi.

Kampanye serangan udara Saudi yang telah berlangsung hampir dua pekan mengakibatkan banyak korban jiwa yang jatuh. Data dari PBB mencatat lebih dari 500 orang yang tewas terbunuh, sementara hampir 1.700 orang mengalami luka.

Pihak Iran berulang kali menolak tudingan yang dialamatkan Saudi bahwa mereka telah memasok senjata bagi kelompok Houthi. Samaad menyebut hal itu hanya rumor. "Jika pun memang benar ada dukungan dari Iran, tetap saja hal tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan serangan udara," kata Sammad. (BB/vivanews/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru