Nairobi (SIB)- Pemerintah Kenya mengatakan Mohamed Mohamud alias Dulyadin alias Gamadhere adalah dalang dari pembantaian brutal di Universitas Garissa yang menewaskan 148 orang. Pemerintah menawarkan hadiah besar untuk siapapun yang bisa memberi informasi keberadaan Mohamud.
Seperti dilaporkan situs CNN, Senin (6/4), Kementerian Dalam Negeri Kenya menawarkan hadiah tinggi bagi siapapun yang bisa memberi informasi keberadaan Mohamud. Hadiahnya tak tanggung-tanggung, yakni 20 juta Shilling, atau sekitar USD 215.000. Jika dikonversi ke rupiah nilainya sekitar Rp 2,7 miliar.
Pemerintah Kenya memang menaruh nama Mohamoud sebagai orang yang paling dicari untuk mempertanggungjawabkan aksi kejinya. "Kami menyerukan kepada siapapun dengan info tentang #Gamadhere untuk berbagi dengan pihak berwenang yang relevan dan badan-badan keamanan," cuit pihak Kementerian Dalam Negeri Kenya lewat akun Twitter resmi mereka.
Mohamud disebut sebagai komandan regional Al-Shabaab yang bertanggung jawab atas wilayah Juba. Dari dokumen yang didapat CNN, ia disebut memiliki jaringan teroris yang luas di Kenya, termasuk di kamp pengungsi Daab. Menurut data PBB, kamp ini adalaah kamp pengungsi terbesar yang dihuni ribuan orang.
Mohamud merupakan warga negara Kenya yang juga keturunan Somalia. Dia tidak ikut serta secara fisik dalam serangan brutal di Universitas Garissa, namun dia yang mendalangi pembantaian keji ini. Dia juga menjadi buronan atas serangkaian pembunuhan di perlintasan perbatasan Kenya-Somalia serta pembunuhan di wilayah Kenya bagian utara.
Sementara itu satu dari empat pelaku pembantaian Universitas Garissa, Kenya yang tewas, telah berhasil diidentifikasi. Terungkap bahwa salah satu pelaku merupakan anak seorang pejabat pemerintahan Kenya. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Kenya, Mwenda Njoka menyatakan salah satu pelaku yang tewas diidentifikasi sebagai Abdirahim Abdullahi. Dia disebut merupakan warga negara Kenya keturunan Somalia.
Belakangan, ayah Abdullahi diketahui merupakan seorang pejabat pemerintahan di wilayah Mandera, dekat perbatasan Somalia. Namun tidak disebut lebih lanjut jabatan yang dipegang ayahnya. "Ayahnya telah melapor kepada agen keamanan bahwa putranya menghilang dari rumah... dan dia membantu polisi untuk melacak anaknya ketika serangan teror di Garissa terjadi," terang Njoka kepada Reuters.
Secara terpisah, seorang pejabat di Garissa menuturkan, pemerintah Kenya sebenarnya menyadari Abdullahi bergabung dengan militan Somalia, Al-Shabaab. Abdullahi pernah kuliah jurusan hukum di University of Nairobi dan dia bergabung dengan Al-Shabaab setelah lulus kuliah pada tahun 2013 lalu.
"Dia seorang murid yang brilian. Tapi kemudian dia mendapat ide-ide gila," sebut pejabat yang enggan disebut namanya tersebut. Dalam keterangannya, Gubernur Mandera Ali Roba menyebut Kenya memiliki masalah radikalisasi yang besar. "Tidak hanya di wilayah distrik, tapi di seluruh negara," imbuhnya.
Sedangkan Presiden Kenya Uhuru Kenyatta menyebut para perencana dan penyandang dana setiap serangan teror semacam ini sebenarnya tertanam mendalam di masyarakat Kenya. Presiden Kenyatta mendorong warganya, terutama warga muslim untuk memerangi radikalisasi.
Sementara Al-Azhar yang merupakan organisasi muslim Sunni ternama di Kairo, Mesir mengecam keras pembantaian brutal di Universitas Garissa, Kenya. Pembantaian yang didalangi militan Somalia, Al-Shabaab ini disebut Al-Azhar sebagai aksi terorisme keji.
"Al-Azhar mengecam keras aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok teroris Al-Shabaab asal Somalia di Universitas Garissa, Kenya, yang menewaskan sekitar 150 orang dan melukai puluhan mahasiswa tak bersalah," demikian pernyataan Al-Azhar dalam akun Facebook-nya.
Serangan brutal ini tercatat sebagai serangan paling mematikan di Kenya, setelah pengeboman Kedubes AS di Nairobi pada tahun 1998 lalu. Banyak pihak mengecam pembantaian keji ini, mulai dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama hingga Paus Fransiskus yang menyebut pembantaian ini sebagai kebrutalan tak bermoral.
Pembantaian brutal di Universitas Garissa ini menewaskan sedikitnya 148 orang, yang sebagian besar merupakan mahasiswa non-muslim. Sebanyak 79 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang diklaim oleh militan Al-Shabaab ini. Keempat pelaku yang langsung menyerbu kampus itu, tewas saat polisi mulai melakukan penggerebekan. Ada laporan yang menyebut para pelaku tewas bunuh diri dengan meledakkan bom yang dipasang pada badan mereka. Hingga saat ini, otoritas Kenya telah menangkap 5 pelaku lainnya yang diduga terkait serangan dan perencanaannya. Sedangkan otak di balik pembantaian ini, yakni seorang mantan guru bernama Mohamed Mohamud masih terus diburu.
Bombardir 2 Kamp Militan Al-ShabaabAngkatan Udara Kenya membombardir dua kamp militan Al-Shabaab di Somalia. Serangan ini merupakan respons militer pertama dari Kenya setelah pembantaian brutal di Universitas Garissa. Menurut sumber dari Kenya Defence Forces (KDF),jet tempur Kenya menyerbu kamp Al-Shabaab di wilayah Gondodowe dan Ismail, yang sama-sama berada di wilayah Gedo, Somalia dekat perbatasan Kenya.
Namun karena awan yang tebal, sulit diperkirakan seberapa besar kerusakan yang dipicu oleh serangan ini. Jumlah korban luka maupun korban tewas akibat serangan ini juga tidak diketahui pasti. "Kami menargetkan dua area karena menurut informasi yang kami dapat, mereka (anggota Al-Shabaab) datang dari sana untuk menyerang Kenya," sebut sumber yang enggan disebut namanya tersebut.
Selama ini, otoritas Kenya berupaya keras untuk menghentikan aliran militan Al-Shabaab serta penyaluran persenjataan dari Somalia ke wilayahnya. Perbatasan Kenya dengan Somalia diketahui membentang sepanjang 700 kilometer.
Militan Al-Shabaab yang bermarkas di Somalia ini telah menewaskan lebih dari 400 orang di Kenya, sejak April 2013. Pasukan penjaga perdamaian dari Uni Afrika yang juga termasuk tentara Kenya, terus melakukan pertempuran terhadap militan ini di wilayah Somalia. Bahkan pasukan ini telah melakukan serangkaian penangkapan dan penyitaan senjata di kamp Al-Shabaab di Gondodowe pada Agustus 2014 lalu.
(Detikcom/d)