Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

AS dan Jepang Saling Percaya, Tapi Sama-sama Waspadai Tiongkok

- Kamis, 09 April 2015 12:23 WIB
378 view
AS dan Jepang Saling Percaya, Tapi Sama-sama Waspadai Tiongkok
Tokyo (SIB)- Lebih dari tujuh puluh tahun setelah Jepang menyerang Pearl Harbour yang menyeret AS ke kancah Perang Dunia II, AS dan Jepang saat ini berada pada posisi saling mempercayai tapi sama-sama mewaspadai Tiongkok, demikian hasil jajak pendapat yang diumumkan, Rabu.

Bertolak belakang dengan tuntutan Beijing terhadap Jepang agar meminta maaf sehubungan dengan sejarah masa lalu di Perang Dunia II, sekitar dua pertiga warga AS malah yakin bahwa penyesalan dari Tokyo sudah lebih dari cukup sehingga tidak perlu menyampaikan permintaan maaf lagi.

Hasil jajak pendapat, yang dilakukan oleh Pusat Riset Pew yang berpusat di AS itu, dikeluarkan hanya berselang beberapa minggu sebelum PM Jepang Shinzo Abe berkunjung ke AS. Abe akan menjadi perdana menteri pertama Jepang yang menghadiri pertemuan bersama kongres AS.

Pidato Abe akan dipelajari secara seksama untuk mengetahui sikapnya saat memperingati 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II tahun ini, di saat Beijing terus menuntutnya untuk "memperlihatkan penyesalan mendalam" atas sejarah masa lalu.

Jajak pendapat oleh Pew tersebut juga memperlihatkan bahwa sudah tidak ada lagi rasa permusuhan antara rakyat Jepang dan AS meski kedua negara terlibat perang sengit empat tahun sampai 1945, yang berakhir dengan pendudukan AS sampai 1952.

"Bermusuhan dalam Perang Dunia II, bersaing ketat di bidang ekonomi pada 1980-an dan 1990-an, AS dan Jepang tetap saling menghormati," demikian menurut laporan lembaga riset tersebut.

Sekitar 68 persen orang AS mempercayai orang Jepang dan 75 persen orang Jepang mempercayai orang AS, sementara hanya 30 persen orang AS dan tujuh persen orang Jepang yang mempercayai orang Tiongkok.

Enam dari sepuluh orang AS percaya bahwa kebangkitan kekuatan militer dan ekonomi Tiongkok membuat hubungan antara Jepang dan AS menjadi semakin penting.

Pada saat yang bersamaan, ternyata lebih banyak orang AS, terutama generasi muda, yang percaya bahwa lebih penting untuk memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Tiongkok dibandingkan dengan Jepang.

Mengenai sejarah, yaitu bom atom yang meluluhlantakkan dan menewaskan 140.000 warga Hiroshima dan 70.000 warga Nagasaki, masyarakat AS dan Jepang mempunyai pandangan yang kontras.

Dalam survei terakhir, 56 persen warga AS yakin bahwa penggunaan senjata nuklir dibenarkan untuk mengakhiri perang, sementara 34 persen lainnya tidak setuju.

Sementara di Jepang, hanya 14 persen mengatakan pemboman itu dibenarkan, dibandingkan dengan 79 persen yang menolak.

Meski tidak terdapat kesamaan pendapat soal pembenaran pemboman Hiroshima dan Nagasaki, sedikit warga AS dan Jepang yang setuju bahwa Jepang harus menuntut permintaan maaf AS atas sejarah kelam tersebut.

Sebanyak 61 persen warga AS merasa bahwa permintaan maaf Jepang atas perang tersebut sudah cukup, sementara 29 persen menyatakan bahwa permintaan maaf dari Jepang belum cukup atas tindakan mereka selama perang. (Ant/AFP/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru