Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 17 Februari 2026

Hari Bersejarah di KTT Amerika, Obama dan Castro Berjabatan Tangan

- Minggu, 12 April 2015 23:08 WIB
315 view
Hari Bersejarah di KTT Amerika, Obama dan Castro Berjabatan Tangan
Gambar yang dipublikasikan Kepresidenan Panama menunjukkan Presiden Kuba Raul Castro (2 kanan) berjabat tangan dengan Presiden AS Barack Obama disaksikan Sekjen PBB Ban Ki-moon sebelum dimulainya upacara pembukaan KTT Amerika VII di Panama, Jumat (10/4).
Panama City (SIB)- Ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Kuba yang sudah lama muncul diperkirakan akan segera memudar saat presiden dari kedua negara secara resmi akan saling bertemu di KTT Amerika yang dimulai hari Sabtu (11/4) waktu setempat. Pertemuan bersejarah Barack Obama dan Raul Castro diharapkan memberi momentum segar bagi membaiknya hubungan diplomatik kedua negara.

Pertemuan Obama-Castro telah lama dipersiapkan dan mencapai puncaknya saat keduantya saling berjabat tangan menjelang dimulainya KTT Amerika yang berlangsung 10-11 April 2015 di Panama. Selain berjabat tangan, kedua pemimpin tersebut sempat bertukar kata-kata sejenak, sementara Sekjen PBB Ban Ki-moon dan para pemimpin lainnya memandang ke arah keduanya. 

"Kehadiran Raul Castro merupakan angin segar bagi negara lain yang telah lama merindukan hal ini," ujar Ban Ki-moon. Pemandangan langka pada Jumat (10/4) waktu setempat ini, seakan menjadi simbol upaya keduanya untuk menjalin kembali hubungan diplomatik yang putus pada tahun 1961.

Aksi jabat tangan Obama dan Castro menuai pujian dari beberapa pemimpin negara di kawasan Amerika Latin. Salah satunya dari Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos yang memuji sikap Obama itu bisa mendorong perbaikan hubungan bilateral dengan Kuba. Sikap tersebut setidaknya, ujar Santos, bisa menyembuhkan luka yang dialami Kuba paska sanksi yang dijatuhkan oleh Negeri Paman Sam.

Ini juga pertama kalinya bagi seorang pemimpin Kuba menghadiri KTT Amerika selama 21 tahun sejarahnya. Seorang pejabat AS mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (11/4), pertemuan Obama-Castro tersebut merupakan "interaksi informal". "Tak ada percakapan substantif antara kedua pemimpin," ujar pejabat AS tersebut.

Langkah perbaikan hubungan bilateral kedua negara rencananya juga akan diikuti dengan pencabutan sanksi. Hal tersebut turut dipastikan oleh Penasihat Keamanan Nasional Obama, Ben Rhodes. "Kebijakan kami terhadap Kuba, alih-alih mengisolasi Kuba, kami justru mengisolir AS di halaman belakang kami sendiri," kata Rhodes. 

“Saat Amerika Serikat memulai babak baru dalam hubungan dengan Kuba, kita berharap hubungan itu akan menciptakan lingkungan yang meningkatkan kualitas kehidupan rakyat Kuba,” ungkap Obama saat bertemu dengan kelompok-kelompok HAM. 

Sebelum bertatap muka, pada Rabu (8/4) Obama dan Castro juga berkomunikasi melalui saluran telepon untuk membahas upaya normalisasi hubungan kedua negara. "Kami berada dalam wilayah baru sekarang. Alasan kami berada di sini adalah karena presiden sangat percaya bahwa pendekatan yang dilakukan selama ini untuk mengisolasi dan berfokus pada penyingkiran warga Kuba dari Amerika Serikat telah gagal," tutur Rhodes. 

Hubungan diplomatik kedua negara putus sejak tahun 1961 lalu. Kendati begitu, kedua negara tetap mempertahankan kontak melalui bidang-bidang yang menjadi minat Havana dan Washington sejak tahun 1977 lalu. Beberapa tahun belakangan, kedua negara bahkan diketahui meningkatkan kerjasamanya untuk menangkal isu migrasi dan perdagangan narkoba.

Namun, perkembangan yang mulus antara Kuba dan AS, akan terus dibayangi oleh isu keretakan hubungan Venezuela. Sebab, negara yang dipimpin Presiden Nicolas Maduro itu merupakan sekutu terdekat Kuba. Maduro yang juga menghadiri KTT itu untuk menentunt AS mencabut perintah eksekutif bahwa Venezuela adalah ancaman bagi keamanan nasional AS. Maduro bahkan ikut mengumpulkan 10 juta tanda tangan warga Venezuela agar meyakinkan Obama bersedia menghapuskan kebijakan tersebut. (AP/Detikcom/R16/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru