Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Konflik Yaman Dipicu Iran yang Haus Kekuasaan

* Warga Iran Protes Serangan Udara Arab Saudi
- Rabu, 15 April 2015 13:46 WIB
242 view
Konflik Yaman Dipicu Iran yang Haus Kekuasaan
Sanaa (SIB)- Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi yang ada di pengasingan, melontarkan komentarnya soal konflik yang terjadi di negaranya. Presiden Hadi menyebut kekacauan yang terjadi di Yaman dipicu oleh Iran yang haus kekuasaan. "Negara saya, Yaman, berada di bawah kepungan milisi radikal Houthi yang terus mengkampanyekan kekejaman dan kehancuran yang dipicu oleh dukungan militer dan politik dari rezim Iran yang terobsesi dengan dominasi regional," tulis Presiden Hadi dalam artikel media Amerika Serikat, New York Times dan dilansir AFP, Selasa (14/4). "Tidak perlu diragukan bahwa kekacauan di Yaman dipicu oleh rasa haus kekuasan yang dimiliki Iran dan ambisinya untuk menguasai seluruh wilayah di sekitarnya," imbuhnya.

Presiden Hadi yang melarikan diri dari ibukota Sanaa dan mengasingkan diri ke Riyadh, Arab Saudi sejak Maret lalu, menyerukan dukungan internasional yang berkelanjutan untuk memastikan operasi militer tetap berlangsung di Yaman guna melawan pemberontak Houthi. "Dua minggu lalu, Yaman bagaikan ada di tepi jurang," sebut Hadi.

"Besarnya dukungan negara Arab maupun dukungan internasional membawa kami kembali dari tepi jurang," lanjutnya merujuk pada koalisi militer yang dipimpin Saudi dalam membombardir pemberontak Houthi di Yaman. "Pesan yang mereka berikan sangat jelas: Iran tidak akan bisa memperluas (wilayahnya) dengan mengorbankan integritas dan keamanan negara lain di wilayah tersebut," tegas Presiden Hadi.

Lebih lanjut, Presiden Hadi menegaskan, dirinya memang meminta bantuan koalisi Saudi. "Jika Houthi tidak menarik dan melucuti senjata milisi mereka dan bergabung dengan dialog politik, kami akan terus mendorong koalisi untuk melanjutkan operasi militer terhadap mereka," tuturnya.

Kendati demikian, Presiden Hadi menyerukan kepada Houthi untuk ikut dialog membahas masa depan Yaman. Menurut Presiden Hadi, Yaman masih bisa maju dengan menerapkan konstitusi baru dan transisi ke parlemen yang baru, yang bisa mewakili wilayah utara dan juga wilayah selatan negara tersebut. "Belum terlambat untuk menghentikan penghancuran negara saya. Houthi bisa duduk bersama dalam meja perundingan, bukannya meneror rekan satu negaranya di medan pertempuran," cetus Presiden Hadi.

Warga Iran Protes

Ratusan warga Iran menggelar aksi protes di luar gedung Kedutaan Besar Arab Saudi di ibukota Teheran. Mereka memprotes serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi terhadap pemberontak Syiah Houthi di Yaman. Seperti dilaporkan kantor berita Fars dan dilansir AFP, Selasa (14/4), saksi mata memperkirakan ada sekitar 400 demonstran yang ikut serta dalam unjuk rasa yang digelar pada Senin (13/4) waktu setempat ini. Para demonstran meneriakkan slogan menentang otoritas Saudi, Raja Salman dan keluarga kerajaan Saudi. Demonstran juga menyerukan kepada otoritas Iran untuk menutup kantor Kedubes Saudi dan kantor diplomatiknya. Kepolisian setempat dikerahkan ke lokasi unjuk rasa untuk melindungi staf kedutaan.

Terlepas dari Yaman, Saudi dan Iran merupakan musuh abadi dalam konflik di Suriah, di mana Iran terang-terangan mendukung Presiden Bashar al-Assad dan Saudi mendukung pemberontak yang berniat melengserkan Assad. Ketegangan di Yaman semakin meningkat sejak 26 Maret lalu, ketika koalisi yang dipimpin Saudi mulai membombardir pemberontak Houthi di Yaman, yang diyakini didukung oleh Iran.

Menanggapi tudingan tersebut, otoritas Iran tidak membenarkan maupun membantah. Dalam pernyataannya, otoritas Iran hanya membantah tudingan bahwa pihaknya menyalurkan senjata kepada pemberontak Houthi di Yaman.

Sedangkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengecam keras serangan udara yang dilakukan Saudi dan koalisinya. Bahkan Khamenei menyebut serangan udara tersebut sebagai tindak kriminal.

Sementara itu, pada Sabtu (11/4) lalu, unjuk rasa juga digelar di luar gedung Kedubes Saudi di Teheran oleh ratusan warga Iran. Unjuk rasa ini terkait dengan kasus pelecehan seksual oleh dua polisi Saudi terhadap dua remaja Iran saat pemeriksaan keamanan di bandara Jeddah. Para pelaku pelecehan seksual telah ditangkap dan akan segera diadili. Namun akibat kasus ini, otoritas Iran memutuskan untuk menghentikan penerbangan umrah ke Saudi sepanjang tahun ini. (AFP/dtc/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru