Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Rusia Persenjatai Irak dan Suriah Melawan ISIS

* Survei: ISIS Lebih Berbahaya Bagi AS
- Jumat, 24 April 2015 16:07 WIB
297 view
Rusia Persenjatai Irak dan Suriah Melawan ISIS
Moskow (SIB)- Otoritas Rusia mengirimkan bantuan senjata kepada Irak dan Suriah untuk membantu melawan militan ISIS. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov menyebut militan radikal tersebut sebagai ancaman utama bagi keamanan negaranya.

"ISIS merupakan musuh utama kami saat ini. Jika hanya karena ratusan warga Rusia, ratusan warga Eropa, ratusan warga Amerika bertempur bersama ISIS," ujar Lavrov dalam wawancara dengan tiga radio setempat, seperti dilansir Reuters, Kamis (23/4). "Mereka sudah kembali... dan untuk menyenangkan diri mereka bisa melakukan aksi keji di rumah," imbuhnya.

Rusia selama ini mengkritik serangan udara yang dilakukan koalisi Amerika Serikat terhadap target ISIS di Suriah dan Irak. Rusia mendorong AS untuk berkoordinasi dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam pertempuran melawan ISIS. "Kami membantu baik Irak maupun Suriah, mungkin lebih efektif dari pihak lainnya, dengan mengirimkan suplai senjata kepada tentara dan penegak hukum," jelas Lavrov, tanpa memberikan penjelasan soal jenis senjata.
Militan ISIS hingga kini masih merajalela di wilayah Suriah dan Irak, meskipun menghadapi perlawanan oleh tentara dan milisi Irak yang dibantu serangan udara koalisi AS. Tidak hanya itu, militer AS juga melatih tentara dan milisi Irak dalam bertempur, agar lebih tangguh dalam melawan ISIS.

Sementara itu, Rusia sendiri masih harus menghadapi kelompok militan yang berbasis di wilayah North Caucasus yang didominasi warga muslim. Bahkan Presiden Vladimir Putin mengingatkan, bahwa negara-negara lain bisa menggunakan kelompok radikal untuk memperlemah Rusia. Sedangkan hubungan antara Rusia dengan negara-negara Barat saat ini berada di titik rendah dalam beberapa dekade terakhir, terutama setelah krisis di Ukraina yang terus berkelanjutan.

Sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan komentar keras terhadap militan ISIS). Erdogan menyebut ISIS sebagai virus yang tengah berusaha menghancurkan dunia muslim. Selama ini, otoritas Turki menuai banyak kritik karena dianggap tidak memiliki niat dan usaha untuk menghentikan pergerakan ISIS dan calon militannya di perbatasannya dengan Suriah. Usai bertemu dengan Presiden Irak Fuad Masum, Erdogan mengatakan bahwa ISIS harus dilawan.

"(ISIS) Merupakan virus yang sedang bekerja untuk memecah-belah dan menghancurkan umat," ucap Erdogan kepada wartawan setempat. "Diperlukan strategi internasional untuk memberantas mereka (ISIS). Bahkan jika Daesh hancur, sesuatu akan muncul dengan nama berbeda," imbuhnya menggunakan nama Arab dari ISIS. "Dari mana datangnya persenjataan dan pendanaan mereka? Kita perlu fokus pada hal ini," sebut Erdogan.

Turki sempat dituding membantu ISIS pada awal militan keji ini muncul di Suriah. Turki dituding menjadikan ISIS sebagai sekutunya dalam melawan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, di mana Erdogan sangat ingin melengserkannya. Atas tudingan tersebut, otoritas Turki telah membantah keras.

Sementara itu, ISIS hingga kini masih merajalela di wilayah Suriah dan Irak, meskipun menghadapi perlawanan dari tentara dan milisi Irak yang dibantu serangan udara koalisi AS. Tidak hanya itu, militer AS juga melatih tentara dan milisi Irak dalam bertempur, agar lebih tangguh dalam melawan ISIS.

ISIS Lebih Berbahaya

Rakyat Amerika memandang ISIS sebagai ancaman yang lebih besar buat AS dibandingkan dengan Iran, Rusia atau negara lain, demikian survei baru yang disiarkan CNN/ORC pada Rabu (22/4). Jajak pendapat tersebut memperlihatkan 68 persen orang yang ditanyai berpendapat ISIS adalah ancaman yang sangat serius, demikian laporan Xinhua. Sementara itu cuma 39 persen responden berpendapat demikian mengenai Iran, 32 persen tentang Korea Utara, dan 25 persen mengenai Rusia. Hampir sembilan dalam 10 orang Amerika memandang ISIS setidaknya sebagai ancaman yang cukup serius.

Sebagian besar di kalangan politikus dan ideologi mengatakan ISIS adalah ancaman yang sangat serius buat AS, termasuk 68 persen politikus Partai Demokrat, 79 persen anggota Partai Republik dan 63 persen tokoh independen.

Pada Minggu lalu (19/4), enam orang Amerika-Somalia dari Negara Bagian Minnesota telah ditangkap oleh Biro Penyelidikan Federal AS karena berusaha bergabung dengan ISIS. Peristiwa tersebut menimbulkan keprihatinan bahwa ancaman yang diakibatkan oleh kelompok itu meningkat dan perang militer melawan ISIS dapat meluas.

Di dalam jajak pendapat CNN/ORC pada Maret, masyarakat masih sangat yakin bahwa upaya AS untuk memerangi ISIS akan berhasil. Angket itu memperlihatkan 79 persen warga Amerika khawatir konflik akan meningkat menjadi perang yang lebih luas yang akan tersebar ke seluruh wilayah tersebut sampai belahan lain dunia. (Detikcom/Ant/AFP/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru