Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Bakal Ada Gempa Lebih Dahsyat Pasca Gempa Nepal

* Sudah 3.218 Orang Tewas, Negara Dunia Mulai Kirim Bantuan ke Nepal
- Selasa, 28 April 2015 13:51 WIB
467 view
Bakal Ada Gempa Lebih Dahsyat Pasca Gempa Nepal
SIB/AP Photo/Altaf Qadri
Seorang ibu menangis saat melepas anaknya dievakuasi ke rumah sakit menggunakan ambulans dari bandara di Kathmandu, Nepal, Senin (27/4). Tim SAR terus berupaya keras mengevakuasi para korban dari sejumlah wilayah terdampak gempa di tengah cuaca ekstrim ya

Hong Kong (SIB)- Gempa 7,9 Skala Richter (SR) di Nepal pada Sabtu (25/4) lalu terjadi karena 2 lempeng saling beradu. Pakar geologi menilai, energi gempa Nepal belum dikeluarkan semua, alias masih ada energi yang lebih besar akan dilepaskan. Para pakar pun memperkirakan, gempa lebih dahsyat akan terjadi lagi di tahun-tahun mendatang. "Tumbukan antara Lempeng India dan Eurasia adalah pertunjukan geologi," jelas geofisikawan dari Universitas Hong Kong, Lung S Chan, seperti dikutip dari Wall Street Journal (WSJ), Senin (27/4). Lempeng India bergerak mendorong ke utara menuju Lempeng Eurasia dengan kecepatan 5 cm per tahun. "Secara geologi, itu termasuk sangat cepat," imbuh Chan.

Saat lempeng itu saling mendorong, gesekan di antara kedua lempeng menimbulkan ketegangan dan energi hingga menimbulkan pecahan retakan, demikian dikatakan Chan menganalogikan dengan ledakan senjata termonuklir. Chan menambahkan, setelah gempa terjadi, lempeng terus bergerak dan jam direset ulang. "Gempa bumi menghilangkan energi, seperti mengangkat tutup panci air mendidih. Tapi itu membangun kembali setelah Anda menempatkan tutup kembali," jelas Chan.

Sedangkan pakar gempa Chinese University Hong Kong, Hongfeng Yang mengatakan, kasus pada gempa bumi Nepal lalu, ada lempeng yang mencuat sekitar 2 meter. Sementara menurut US Geological Survey (USGS), gempa Nepal pada Sabtu lalu terjadi di kedalaman yang relatif dangkal. Gempa serupa cenderung menyebabkan lebih banyak kerusakan dan gempa susulan daripada yang terjadi jauh di bawah permukaan Bumi.

Menurut laporan National Society for Earthquake Technology, catatan dari tahun 1255 di wilayah perbatasan Lempeng India dan Eurasia itu dikenal sebagai zona jahitan Indus-Yarlung, dengan riwayat mengalami gempa berkekuatan 8 SR setiap 75 tahun. Alasannya adalah adanya gerakan yang teratur dari garis patahan yang membentang di sepanjang perbatasan selatan Nepal, di mana anak benua India bertabrakan dengan lempeng Eurasia pada 40 juta sampai 50 juta tahun yang lalu.

Gempa terakhir dengan besaran sama di kawasan Nepal terjadi pada tahun 1934 atau 81 tahun lalu. Gempa bumi umum terjadi di Nepal, salah satu daerah seismik paling aktif di dunia. Gunung-gunung yang ada merupakan konsekuensi dari lempeng tektonik India yang berada di Asia Tengah (lempeng tektonik Eurasia). Kedua lempeng besar tersebut bergerak sekitar 4-5cm per tahun.

Sedangkan Laurent Bollinger dari lembaga penelitian CEA di Prancis dan rekan-rekannya menemukan pola bersejarah gempa saat meneliti di Nepal bulan lalu. Mereka telah memperkirakan gempa besar di tempat terjadinya gempa besar hari Sabtu, demikian seperti dilansir dari BBC.

Tetapi tim penelitian Bollinger dapat memperlihatkan bahwa bagian patahan ini sudah sejak lama tidak bergerak. "Kami memperlihatkan patahan ini tidak menyebabkan gempa besar tahun 1505 dan 1833, dan terakhir kali fault ini berpindah kemungkinan besar pada tahun 1344," kata Bollinger yang menyampaikan temuaannya kepada Nepal Geological Society dua minggu lalu.

"Kami dapat melihat baik Kathmandu dan Pokhara sekarang akan mengalami gempa yang mengubah patahan utama, kemungkinan besar terjadi terakhir kali pada tahun 1344 di antara kedua kota," jelas Paul Tapponnier dari Earth Observatory of Singapore yang bekerja sama dengan Bollinger.

Dan gawatnya, tim peneliti memperingatkan akan terjadi lagi gempa. "Perhitungan pendahuluan mengisyaratkan gempa hari Sabtu dengan kekuatan 7,8 kemungkinan tidak cukup besar untuk mengangkat pecahan sampai ke permukaan bumi, jadi masih ada kemungkinan lebih banyak gaya yang tersimpan, dan kita kemungkinan akan mengalami gempa besar lagi ke arah barat dan timur dari gempa yang sekarang dalam puluhan tahun ke depan," kata Bollinger.

Mulai Kirim Bantuan

Negara-negara dunia mulai mengirimkan bantuan untuk korban gempa bumi 7,9 Skala Richter (SR) di Nepal. Tidak hanya bantuan, beberapa negara juga mengerahkan sejumlah personel serta ahli bencana untuk membantu pemerintah Nepal, yang berusaha keras menangani kekacauan di negaranya.

Seperti dilansir Reuters, Senin (27/4), negara tetangga Nepal, yakni India telah mengirimkan suplai medis dan sejumlah personel dari Satuan Penanggulangan Bencana Nasional. Sedangkan China dilaporkan telah mengirimkan satu tim darurat yang terdiri atas 60 ahli.

Adapun Pakistan telah mengirimkan empat pesawat militer C-130 miliknya yang membawa 30 ranjang untuk rumah sakit. Sejumlah tim SAR Pakistan dan suplai logistik juga dikirimkan ke Nepal. Amerika Serikat mengirimkan satu pesawat militer yang membawa 70 personel ahli untuk membantu korban gempa Nepal. Juru bicara Pentagon menyatakan, pesawat militer AS dijadwalkan akan tiba di Kathmandu pada Senin (27/4) waktu setempat. Tidak mau ketinggalan, Israel juga mengirimkan personel militer dan tim ahli ke Nepal. Tim ini telah berangkat dari Bandara Internasional Ben Gurion pada Minggu (26/4). Tim ini terdiri atas staf medis hingga anggota tim SAR militer Israel (IDF), serta 95 ton bantuan kemanusiaan dan suplai medis untuk korban gempa Nepal.

Sementara itu, Inggris, Selandia Baru dan Australia menyatakan pihaknya telah mengirimkan tim ahli SAR ke Kathmandu, atas permintaan pemerintah Nepal. Secara khusus, Inggris yang ratusan warganya ada di Nepal, juga mengirimkan suplai logistik dan medis.

Pemerintah Indonesia sendiri, melalui Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pada Senin (27/4) ini, akan memberikan bantuan sebesar US$ 1 juta untuk korban gempa di Nepal. Indonesia juga akan mengirimkan tim SAR secara langsung ke Nepal.

Hingga kini, baru sedikit saja bantuan internasional yang tiba di wilayah Nepal. Beberapa pesawat yang membawa bantuan gagal mendarat di wilayah Nepal akibat gempa susulan, yang memicu penutupan bandara utama Kathmandu selama beberapa kali pada Minggu (26/4).

Jumlah korban jiwa akibat gempa di Nepal terus bertambah. Sejauh ini, sudah lebih dari 3 ribu nyawa melayang usai gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) tersebut. Seorang pejabat kepolisian Nepal mengatakan seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (27/4), sebanyak 3.218 orang telah dipastikan tewas akibat gempa yang terjadi pada Sabtu, 25 April tersebut.

Ditambahkan pejabat kepolisian tersebut, sebanyak 6.538 terluka akibat gempa terparah di negeri itu dalam kurun waktu 81 tahun terakhir. Angka ini masih bisa bertambah lagi mengingat luasnya kerusakan akibat gempa ini. Selain merusak ribuan bangunan di Nepal, gempa ini juga telah menimbulkan kerusakan di negara-negara tetangga India dan Bangladesh. Gempa ini juga menyebabkan longsoran salju di gunung tertinggi dunia, Mount Everest dan menewaskan beberapa pendaki. (WSJ/dtc/Rtr/R17/q)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru