Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Kepolisian Baltimore Bubarkan Warga Penentang Jam Malam

- Kamis, 30 April 2015 10:47 WIB
175 view
Kepolisian Baltimore Bubarkan Warga Penentang Jam Malam
SIB/YahooNews
Seorang bocah menawarkan minuman dalam kemasan kepada anggota polisi yang mengawal satu area di Baltimore menyusul aksi kerusuhan, yang dipicu kematian seorang tahanan kulit hitam dalam tahanan Kepolisian Baltimore, Maryland, Amerika Serikat.
Baltimore (SIB)- Kepolisian Baltimore, Rabu (29/4), menembakkan bom asap dan peluru merica ke arah para pengunjuk rasa yang melanggar jam malam yang diberlakukan sejak Selasa (28/4) malam oleh pemerintah kota itu.

Pemerintah Baltimore menerapkan jam malam darurat sejak Selasa pukul 22.00 sebagai upaya untuk menghentikan kerusuhan setelah ratusan orang menjarah toko dan menyerang polisi pada Senin lalu. Namun, ratusan pengunjuk rasa menentang jam malam yang diberlakukan pemerintah kota dan melakukan pembakaran di dekat perpustakaan umum kota.

Polisi kemudian merespons dengan menembakkan peluru merica dan bom asap. Dengan cepat, polisi bisa membubarkan massa yang mencoba melakukan unjuk rasa itu. Kendaraan taktis polisi dikerahkan untuk memastikan warga menaati jam malam, yang berakhir pada pukul 05.00 setiap hari selama sepekan ke depan. Setidaknya satu orang ditahan dalam peristiwa ini. "Para penentang jam malam mencoba melawan perintah petugas untuk meninggalkan tempat mereka berkumpul. Saat ini jam malam darurat sudah diberlakukan," demikian pernyataan kepolisian Baltimore.

Pasukan Garda Nasional juga sudah dikerahkan untuk membantu polisi mengamankan kota pelabuhan berpenduduk 620.000 jiwa itu. Kerusuhan terjadi di kota itu setelah Freddie Gray (25), seorang pemuda kulit hitam yang tewas dalam tahanan polisi setelah mengalami cedera tulang belakang, dimakamkan pada Senin lalu. Sebelumnya, Presiden AS Barack Obama mengecam kerusuhan yang terjadi di Baltimore sembari mengingatkan bahwa berbagai insiden rasial beberapa bulan belakangan ini memunculkan pertanyaan terkait kebijakan terhadap komunitas kulit hitam di AS. (AFP/kps.com/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru