Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Iran Kirim Senjata untuk Syiah Houthi Yaman Sejak 2009

* Pemberontak Syiah Houthi Gempur Perbatasan Arab Saudi
- Sabtu, 02 Mei 2015 10:28 WIB
398 view
Iran Kirim Senjata untuk Syiah Houthi Yaman Sejak 2009
SIB/AFP
Seorang pria Yaman membawa seorang pemuda yang mengalami luka-luka ke satu rumah sakit di Taez, Yaman. Laporan PBB, Jumat (1/5) mengatakan, Iran telah mengirimkan senjata ke suku Houthi Syiah Yaman sejak tahun 2009.
Teheran (SIB)- Laporan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa Iran telah mengirimkan senjata-senjata ke para pemberontak Houthi di Yaman sejak tahun 2009 lalu. Hal ini mengindikasikan, Teheran telah mendukung Houthi sejak tahun-tahun awal pemberontakan militan Syiah tersebut. Laporan yang dibuat panel pakar tersebut telah disampaikan ke komite sanksi-sanksi Iran di Dewan Keamanan PBB pekan lalu. Demikian seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (1/5).

Panel pakar tersebut melaporkan temuan hasil investigasi atas penyitaan kapal Iran oleh otoritas Yaman pada tahun 2013 lalu. Kapal bernama Jihan tersebut membawa persenjataan. "Informasi yang dikumpulkan para pakar menunjukkan bahwa kasus Jihan mirip dengan pola pengiriman senjata ke Yaman via laut yang bisa ditelusuri mundur hingga setidaknya tahun 2009," demikian disampaikan dalam laporan PBB tersebut.

Juga dilaporkan tentang kapal nelayan Iran yang pernah mencoba mengirimkan ratusan roket antitank dan antihelikopter untuk para pemberontak Houthi. "Analisa lebih lanjut menunjukkan bahwa Republik Islam Iran merupakan asal pengiriman ini dan bahwa penerima yang dituju adalah Houthi di Yaman atau kemungkinan dalam sejumlah kasus, adalah para penerima lainnya di negara-negara tetangga," demikian laporan PBB.

"Dukungan militer saat ini kepada Houthi di Yaman adalah konsisten dengan pola pengiriman senjata sejak lebih dari lima tahun lalu hingga sekarang," imbuhnya. Selama ini pemerintah Iran membantah ikut campur dalam konflik di Yaman. Iran juga telah berulang kali membantah mempersenjatai Houthi. Iran bahkan menuding Arab Saudi melakukan agresi militer terhadap Yaman, sejak dimulainya serangan-serangan udara terhadap Houthi di Yaman pada 26 Maret lalu.

Gempur Perbatasan

Para pemberontak Syiah Houthi di Yaman melancarkan serangan ke perbatasan Arab Saudi. Serangan ini mendapat perlawanan sengit dari pasukan Saudi yang memang telah disiagakan. Puluhan militan Houthi tewas dalam pertempuran ini. Kementerian Pertahanan Saudi mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (1/5), tiga tentara Saudi juga tewas dalam baku tembak yang terjadi setelah para pemberontak Houthi menyerang pos-pos observasi mereka. Ini merupakan serangan besar pertama Houthi ke perbatasan Saudi sejak serangan udara koalisi Saudi terhadap Houthi di Yaman dimulai bulan lalu.

Sementara itu di kota Aden, pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman terus berkecamuk dan membuat warga setempat berlarian menyelamatkan diri. Menurut warga Aden, puluhan keluarga telah kabur di tengah pertempuran sengit tersebut. "Lokasinya seperti bencana, bukan cuma di jalan-jalan tempat pertempuran berlangsung, namun juga di dalam rumah-rumah tempat keluarga terjebak dan ketakutan," ujar aktivis setempat Ahmed al-Awgari. "Wanita dan anak-anak telah terbakar di rumah-rumah mereka, warga sipil tertembak di jalan atau terkena ledakan akibat tembakan tank," tuturnya.

Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab untuk membombardir Houthi sejak 26 Maret lalu, terutama setelah Houthi memaksa Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi mengungsi ke wilayahnya. Ketegangan semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir, di tengah munculnya laporan soal konvoi 9 kapal Iran di perairan Yaman, yang dicurigai membawa suplai senjata. Militer AS lantas mengirimkan salah satu kapal induknya, USS Theodore Roosevelt dan juga kapal dengan rudal jelajah USS Normandy ke perairan Yaman.

Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang tewas dalam konflik di Yaman sejak akhir Maret. Sekira 5 ribu orang lainnya luka-luka dalam konflik tersebut. Demikian disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (1/5). Disebutkan bahwa konflik ini telah berdampak pada sekitar 7,5 juta warga Yaman. WHO menyebutkan situasi kemanusiaan di Yaman saat ini memburuk. Khususnya di wilayah Taiz yang terus dilanda pertempuran sengit antara pasukan loyalis Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi dengan para pemberontak Syiah Houthi.

Pertempuran tersebut dan serangan-serangan udara Arab Saudi dan koalisi telah menyebabkan 1.244 orang tewas antara 19 Maret dan 27 April. Demikian menurut data terbaru yang dirilis WHO. Disebutkan WHO, sebanyak 5.044 orang mengalami luka-luka dalam kurun waktu yang sama. WHO menerima angka ini dari fasilitas-fasilitas kesehatan di Yaman. Namun dikarenakan banyak orang yang tak bisa pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, maka angka sebenarnya mungkin lebih tinggi.

Konflik di Yaman memanas setelah Arab Saudi dan koalisi mulai melancarkan serangan-serangan udara terhadap pemberontak Houthi pada akhir Maret lalu. Serangan udara itu dilakukan setelah para pemberontak Houthi terus bergerak mendekati kota Aden, Yaman selatan, tempat Presiden Hadi melarikan diri setelah Houthi menguasai ibukota Sanaa. Hadi pun kemudian mengungsi ke Riyadh, Saudi setelah serangan udara koalisi Saudi dimulai. (AFP/dtc/Ant/d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru