Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Pemerintah Nepal Mengaku Baltimore (SIB) Tak Siap Hadapi Gempa

- Minggu, 03 Mei 2015 20:04 WIB
242 view
Pemerintah Nepal Mengaku Baltimore (SIB) Tak Siap Hadapi Gempa
Kathmandu (SIB)- Menteri informasi Nepal mengakui bahwa pemerintahnya tidak siap menghadapi bencana gempa bumi yang terjadi, Sabtu (25/4) pekan lalu. Berbicara kepada BBC, Minendra Rijal menyatakan terlalu banyak waktu dihabiskan untuk seminar mengenai kesiapan menghadapi bencana, yang tidak banyak manfaatnya dalam menghadapi bencana sesungguhnya.

Komentarnya disampaikan menyusul kritik yang ditujukan kepada pemerintah Nepal, bahwa pemerintah terlalu lambat dalam menyalurkan bantuan internasional kepada para korban. Penduduk yang tinggal di dekat pusat gempa menyatakan mereka belum menerima bantuan, hampir sepekan setelah guncangan terjadi. Sementara para penduduk di desa kecil berkata bahwa mereka harus mengutang beras dari kota terdekat. Seorang wartawan yang bisa mencapai desa tersebut melihat hampir semua rumah telah hancur; dan ia juga menyaksikan kehancuran serupa di beberapa desa lainnya.
Pemerintah telah meminta kepada dunia internasional agar mengirimkan lebih banyak helikopter untuk menyebarkan pasokan ke daerah-daerah terpencil di pegunungan.

Sementara itu pihak berwenang masih berupaya menemukan sekitar 1.000 warga negara-negara anggota Uni Eropa yang masih belum ditemukan di Nepal. Seorang pejabat Uni Eropa berkata, sebagian besar dari mereka sedang mendaki gunung Everest atau di gunung Langtang yang terpencil.
Masih ada harapan bahwa mereka masih bertahan hidup di daerah-daerah yang terisolasi akibat gempa. Gempa terjadi saat puncak musim pendakian gunung yang amat populer di kalangan para pendaki. Sejauh ini, sebanyak 12 orang warga negara Uni Eropa telah dinyatakan tewas karena longsoran salju yang diakibatkan oleh gempa menimpa kemah mereka di kaki gunung Everest.

Kecil Kemungkinan Ada Korban Selamat

Pemerintah Nepal menyebut kecil kemungkinan untuk menemukan korban selamat lainnya akibat gempa bumi 7,9 SR. Justru korban tewas yang terus bertambah dan sejauh ini mencapai angka 6.621 orang. "Sudah seminggu berlalu semenjak bencana," ujar juru bicara Kementerian Dalam Negeri Nepal, Laxmi Prasad Dhakal kepada AFP, Sabtu (2/5). "Kami berusaha yang terbaik dalam upaya penyelamatan dan pemulihan, tapi sekarang saya pikir sudah tidak ada kemungkinan ditemukannya korban selamat di bawah puing-puing," imbuhnya.

Lebih lanjut, Dhakal menuturkan, korban luka-luka juga mengalami peningkatan drastis hingga mencapai 14.023 orang. Sedangkan lebih dari 100 orang dilaporkan tewas di India dan China, yang merupakan negara tetangga Nepal. Gempa bumi yang melanda Nepal dan sekitarnya pada Sabtu (25/4) lalu, tercatat sebagai gempa paling mematikan yang melanda Nepal dalam 80 tahun terakhir. Gempa ini memicu kehancuran luar biasa di wilayah Kathmandu dan sekitarnya. Banyak rumah warga yang hancur maupun rusak akibat gempa ini, sehingga mereka terpaksa tidur di pinggir jalan atau di tenda-tenda yang ada di pengungsian. Parahnya lagi, penyaluran bantuan dan respons pemerintah Nepal sangat lambat sehingga memicu kemarahan warga setempat.

Banyak tim penyelamat asing dari sekitar 20 negara yang dikerahkan ke Nepal untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan korban gempa. Tim-tim asing datang dengan membawa peralatan canggih seperti perlengkapan pencari hawa panas untuk mencari korban selamat di bawah reruntuhan bangunan dan juga anjing pelacak. Dengan bantuan tim asing, beberapa keajaiban terjadi dengan adanya penemuan korban selamat dari balik puing-puing. Namun sejak Kamis (30/4) malam, tidak ada korban selamat yang berhasil ditemukan. Menurut PBB, sekitar 8 juta orang terkena dampak cukup besar akibat gempa bumi yang melanda Nepal. PBB juga menyerukan dibutuhkannya bantuan kemanusiaan segera untuk korban gempa, mulai dari terpal dan air bersih hingga sabun dan obat-obatan. (BBC Indonesia/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru