Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Obama Undang Dalai Lama, China Meradang

- Sabtu, 22 Februari 2014 13:45 WIB
710 view
 Obama Undang Dalai Lama, China Meradang
Sib/ap photo
KSAD AS Jen Raymond Odierno memberikan cinderamata kepada Professor Wang Enge, Presiden Universitas Peking, saat berkunjung ke Beijing, Jumat (21/2). Kunjungan Odierno berlangsung saat Presiden Barack Obama direncanakan bertemu dengan pemimpin spiritual T
Beijing (SIB)- Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan mengadakan pertemuan dengan pemimpin Tibet, Dalai Lama di Gedung Putih. Tak ayal, hal itu mendapat respons keras dari pemerintah China. Pemerintah China mendesak Obama untuk membatalkan pertemuan yang digelar pada Jumat (21/2/2014) waktu setempat tersebut.

"China menentang keras hal ini," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (21/2). "Kami mendesak pihak AS untuk menyikapi keprihatinan China ini dengan serius dan segera membatalkan rencana pertemuan itu," imbuhnya.

Dikatakan Hua, pemerintah China telah menyampaikan protesnya kepada AS mengenai rencana pertemuan Obama-Dalai Lama. "Pertemuan pemimpin AS dengan Dalai merupakan intervensi terang-terangan dalam urusan dalam negeri China, sebuah pelanggaran parah atas norma hubungan internasional dan akan berdampak serius pada hubungan China-AS," cetus Hua. Obama terakhir kali bertemu Dalai Lama di Gedung Putih pada tahun 2011 lalu. Pembicaraan saat itu memicu kemarahan pemerintah China, yang menyebut pertemuan itu telah membahayakan hubungan China-AS.

Saat ini Dalai Lama telah berada di AS. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Caitlin Hayden mengumumkan rencana pertemuan tersebut. "Presiden akan bertemu Dalai Lama dalam kapasitasnya sebagai pemimpin agama dan budaya yang terkemuka secara internasional," tutur Hayden.

Mengingat sensitifnya pertemuan tersebut, event ini dinyatakan tertutup bagi pers. Ditegaskan Hayden, pemerintah AS mendukung pendekatan Dalai Lama namun tetap mengakui Tibet sebagai bagian dari Republik Rakyat China. "Kami tidak mendukung kemerdekaan Tibet," tegas Hayden.

"Amerika Serikat sangat mendukung kebebasan HAM dan beragama di China. Kami prihatin akan terus berlangsungnya ketegangan dan memburuknya situasi HAM di wilayah Tibet, China," tandasnya. Hayden mengatakan, pemerintahan Obama kembali menyerukan pemerintah China untuk melanjutkan kembali dialog dengan Dalai Lama atau perwakilannya, dengan tanpa syarat.

Selama beberapa dekade, pemerintah China telah menentang pertemuan para pemimpin asing dengan Dalai Lama, yang kabur ke India pada tahun 1959 setelah gagalnya pemberontakan melawan pemerintahan China. Dalai Lama bersikeras bahwa dirinya lebih mengharapkan adanya otonomi yang lebih besar bagi rakyat Tibet, bukannya kemerdekaan dari China. Namun pemerintah China menyebut Dalai Lama "seekor musang berbulu domba" dan menuduhnya ingin mengupayakan kemerdekaan Tibet.

Di saat Obama berencana bertemu Dalai Lama, Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Jenderal Ray Odierno bertemu dengan para jenderal senior China di beijing, Jumat (21/2). Odierno menegaskan bahwa Amerika dan China memiliki kesamaan tujuan dan harus meningkatkan kerjasama militer kedua negara.

Odierno menyampaikan kepada sejawatnya Letjen Wang Ning bahwa kedua negara memiliki militer yang sangat profesional yang harus bekerjasama lebih erat, dalam upaya menjalin hubungan yang mengalami pasang surut selama dekade terakhir ini. Wang menimpali bahwa China benar-benar mengharapkan hubungan yang lebih berarti dengan militer Amerika melalui kerjasama praktis.

Kedua pihak juga menyatakan ingin membahas isu-isu keamanan internasional dan regional. Ini mengacu pada sengketa sengit antara China dan dua sekutu Amerika, Jepang dan Filipina, mengenai klaim teritorial di Laut China Timur dan Selatan yang menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya konflik bersenjata. (Detikcom/VoA/x)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru