Washington (SIB)- Wartawan investigasi Amerika Serikat membeberkan kebohongan yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat seputar operasi penyerangan yang menewaskan Osama bin Laden. Dalam artikel berjudul The Killing of Osama bin Laden, penulis pemenang Pulitzer Prize, Seymour Hersh, menyebutkan, pejabat-pejabat Pakistan bukan hanya tahu soal keberadaan Osama, namun mereka juga menjadikannya sebagai tahanan.
Dalam artikelnya seperti dilansir Deutsche Welle, Selasa (12/5), Hersh mengatakan, pejabat-pejabat tinggi militer Pakistan tahu soal operasi Pasukan Khusus AS di kota Abbottabad, Pakistan pada Mei 2011, yang menewaskan Osama. Padahal selama ini Pakistan bersikeras bahwa AS bertindak seorang diri tanpa sepengetahuan Pakistan dalam operasi tersebut. Pakistan juga mengklaim bahwa pihaknya tidak tahu-menahu keberadaan Osama. Pemerintah AS pun secara resmi menyampaikan hal yang sama dengan klaim Pakistan tersebut. Namun menurut Hersh dalam tulisannya, sejak tahun 2006 Osama telah berada di bawah kendali Pakistan dan disembunyikan di Abbottabad.
"Kebohongan paling menyolok adalah bahwa dua pemimpin paling senior militer Pakistan -- Jenderal Ashfaq Parvez Kayani, (mantan) kepala staf militer, dan Jenderal Ahmed Shuja Pasha, (mantan) dirjen ISI (badan intelijen militer Pakistan) -- tak pernah diberi tahu soal misi AS," tulis Hersh. "Bin Laden telah menjadi tahanan ISI di Abbottabad sejak 2006 ... Kayani dan Pasha tahu sejak awal soal operasi penyerangan itu dan telah memastikan agar dua helikopter yang mengangkut pasukan Seal ke Abbottabad bisa melintasi wilayah udara Pakistan tanpa menimbulkan kecurigaan," tulis Hersh dalam artikelnya.
Dikatakan Hersh, sebagian besar informasi dalam artikelnya ini disampaikan oleh pensiunan pejabat intelijen senior AS dan Pakistan, yang tahu soal informasi awal mengenai keberadaan Osama di Abbottabad. Disebutkan Hersh, dari pejabat tersebut didapat keterangan bahwa badan intelijen militer Pakistan, ISI mendeteksi keberadaan Osama pada tahun 2006 dengan membayar sejumlah warga lokal untuk mengkhianati Osama. "CIA tidak mengetahui keberadaan bin Laden dengan membuntuti kurir-kurirnya, seperti yang diklaim Gedung Putih sejak Mei 2011, namun dari seorang mantan pejabat intelijen senior Pakistan yang diam-diam berkhianat demi mendapatkan hadiah U$ 25 juta yang ditawarkan AS.
3 Teori Konspirasi
Kematian Osama bin Laden, pemimpin kelompok radikal Al Qaeda, terus menyisakan tanda tanya. Banyak yang tidak percaya dengan klaim Amerika Serikat (AS) soal proses kematiannya. Yang terbaru kini datang dari seorang jurnalis peraih Pulitzer, Seymour Hersh.
Osama ditembak mati pasukan elite khusus AS, SEAL Team 6, di Kota Abbottabad, Pakistan, Senin (2/5) dini hari waktu setempat. Tak lama setelah operasi, Presiden AS Barack Obama memberikan keterangan soal proses kematiannya. Bahkan sampai ada yang membuat film tentang aksi tersebut.
Kala itu, disampaikan bahwa Osama tewas setelah terjadinya baku tembak. Di laporan awal, Osama sempat disebut melawan dan menembakkan senjata, namun belakangan diralat. Osama dipastikan tewas dalam kondisi tak bersenjata.
Sehari setelah tewas, pihak AS mengklaim jenazah Osama dibuang ke laut. AS beralasan hal tersebut untuk menghormati praktik dan tradisi Islam. Dalam ajaran Islam menyerukan jenazah orang yang meninggal harus dikuburkan dalam waktu 24 jam.
Pejabat itu mengatakan bahwa mereka tidak menemukan negara yang mau menerima jenazah teroris paling dicari itu. Sehingga dibuat keputusan untuk membenamkan jasad bin Laden di dasar laut. Operasi yang dilakukan AS juga diklaim dilakukan diam-diam, tanpa melibatkan pihak Pakistan.
Klaim-klaim di atas diragukan oleh beberapa pihak. Mereka membuat teori baru dari sejumlah sumber yang diyakini dipercaya, kemudian membantah keterangan pemerintahan Barack Obama.
Berikut teori-teori konspirasi yang muncul seputar kematian Osama:
Osama Bunuh Diri
Mantan pemimpin kelompok Jihad Islam Mesir, Nabeel Naeem Abdul Fattah menyebut Osama tidak tewas di tangan tentara khusus Amerika Serikat, SEAL, seperti yang selama ini diketahui publik. Melainkan karena Osama meledakkan dirinya dengan bom yang dipasang di pinggangnya.
Nabeel menyampaikan hal tersebut dalam wawancara eksklusif dengan Gulf News, Rabu (29/5). Menurut Fattah, Osama sengaja meledakkan dirinya agar tidak bisa ditangkap tentara AS yang menyerbu persembunyiannya di Abbotabad, Pakistan pada Mei 2011 lalu.
"Kisah pemakaman bin Laden di laut sangat mencurigakan. Presiden AS Barack Obama berbohong ketika dia mengklaim bahwa bin Laden dimakamkan di laut. Tubuh bin Laden terpotong menjadi beberapa bagian, yang sangat sesuai dengan serangan bom bunuh diri agar tidak ada petunjuk sedikitpun bagi tentara AS untuk mengidentifikasinya," jelas Fattah.
Lebih lanjut, Fattah menyatakan, dirinya memang tidak berada di Abottabad saat kematian Osama. Namun dia mengklaim mendengar informasi ini dari kerabat dekat Osama.
Menurut Fatah yang pernah menjadi pengawal pribadi Osama ini, Osama selalu mengenakan rompi bom di tubuhnya sepanjang waktu. Kebiasaan tersebut, menurut Fattah, sudah dilakukan Osama sejak 10 tahun terakhir dalam hidupnya. Osama bertekad untuk tidak menyerahkan diri kepada Amerika Serikat.
Komentar Ahmadinejad
Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad pernah berkomentar mengenai Osama bin Laden. Menurut Ahmadinejad, Osama telah menjadi tahanan AS selama beberapa waktu sebelum tewas diserang pasukan AS. "Saya punya informasi pasti bahwa bin Laden ditahan oleh militer Amerika selama beberapa waktu.... hingga hari mereka membunuh dia, dia itu tahanan mereka," kata Ahmadinejad dalam wawancara di stasiun televisi Iran seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (16/5). "Tolong diperhatikan. Ini penting. Dia ditahan oleh mereka selama beberapa waktu. Mereka membuat dia sakit dan ketika dia sakit mereka membunuhnya," cetus Ahmadinejad.
Ahmadinejad menuding Presiden AS Barack Obama sengaja mengumumkan kematian pemimpin Al Qaeda itu untuk tujuan politik. "Apa yang telah dilakukan presiden AS adalah untuk tujuan politik domestik. Dengan kata lain, mereka membunuh dia untuk pemilihan Obama dan kini mereka sedang mencari untuk menggantikan dia dengan orang lain," tutur Ahmadinejad tanpa menjelaskan lebih rinci maksud perkataannya.
Sebelumnya pada 4 Mei lalu, Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi juga meragukan kematian Osama. Terlebih lagi karena otoritas AS melempar jasad Osama ke laut, bukannya menguburkan di suatu tempat.
Pendapat wartawan pulitzer
Menurut Hersh, AS akan menunda pengumuman kematian Bin Laden selama seminggu dan mengatakan dia tewas dalam serangan pesawat tak berawak di Afghanistan. Namun, kata Hersh, Obama mengingkari perjanjian itu setelah helikopter AS jatuh pada saat serangan itu terjadi dan Gedung Putih khawatir tidak bisa membendung tersebarnya kabar mengenai insiden itu.
Jadi malam itu, Obama mengumumkan bahwa pasukan khusus Angkatan Laut AS melakukan serangan setelah berbulan-bulan mengumpulkan informasi intel rahasia, tanpa sepengetahuan militer Pakistan, dan diakhiri dengan baku tembak yang berujung pada kematian Bin Laden. “Cerita dari Gedung Putih seperti karangan Lewis Carrol,†tulis Hersh di edisi terbaru London Review of Books, merujuk pada penulis buku Alice in Wonderland.
Artikel Hersh diakhiri dengan hujatan kepada kebijakan luar negeri Obama secara keseluruhan. “Pembohongan tingkat tinggi tetap masih menjadi modus operandi kebijakan AS, seperti penjara-penjara rahasia, serangan pesawat tanpa awak, razia pasukan khusus, melangkahi rantai komando dan membungkam mereka yang berani menentang,†tulisnya.
Menurut Hersh juga dalam tulisannya ini, sejak tahun 2006 Osama telah berada di bawah kendali Pakistan dan disembunyikan di Abbottabad. "Kebohongan paling menyolok adalah bahwa dua pemimpin paling senior militer Pakistan -- Jenderal Ashfaq Parvez Kayani, (mantan) kepala staf militer, dan Jenderal Ahmed Shuja Pasha, (mantan) dirjen ISI (badan intelijen militer Pakistan) -- tak pernah diberi tahu soal misi AS," tulis Hersh. "Bin Laden telah menjadi tahanan ISI di Abbottabad sejak 2006 ... Kayani dan Pasha tahu sejak awal soal operasi penyerangan itu dan telah memastikan agar dua helikopter yang mengangkut pasukan Seal ke Abbottabad bisa melintasi wilayah udara Pakistan tanpa menimbulkan kecurigaan," tulis Hersh dalam artikelnya. (DeutscheWelle/AFP/dtc/h)