Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

PBB Didesak Tindak Myanmar Terkait Imigran Rohingya

* Thailand Tangkap Gembong Jaringan Penyelundupan Manusia
- Rabu, 20 Mei 2015 18:34 WIB
191 view
PBB Didesak Tindak Myanmar Terkait Imigran Rohingya
Banda Aceh (SIB)- Puluhan orang dari berbagai organisasi berunjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh. Mereka mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersikap tegas terhadap Pemerintah Myanmar yang tak mengakui warga Rohingya.

"Kami meminta PBB bersikap tegas terhadap Pemerintah Myanmar agar bersedia menerima kembali warga Rohingya dan memberikan lagi hak-hak politiknya," kata koordinator aksi, Darlis Aziz, dalam pernyataan sikapnya di aksi tersebut, Selasa (19/5). Darlis menilai Myanmar perlu belajar dari Indonesia, khususnya Aceh. Di Aceh sendiri, kaum minoritas tetap diperlakukan dengan baik tanpa diskriminasi. "Kita di sini bisa hidup berdampingan dengan minoritas, 

memperlakukan minoritas dengan baik, kenapa Myanmar tidak bisa melakukannya," tuturnya.

Pemerintah Indonesia juga harus mendesak PBB, OKI, dan ASEAN agar bersikap dalam kasus Rohingya. Pemerintah juga diminta tak memulangkan dulu imigran Rohingya, karena situasi di negaranya belum menjamin kehidupan mereka. "Biarkan mereka tinggal di Aceh dulu untuk sementara waktu," ujar Muhammad, seorang peserta aksi.

Ketua HAKKA Aceh, Khoi Khie Siong, mengatakan, komunitas Tionghoa di Aceh ikut mengutuk aksi penindasan terhadap warga Rohingya. Dalam orasi tersebut, ia mengajak semua umat beragama ikut mengawal dan membantu warga Rohingya. Aksi massa yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya ini turut prihatin atas kehidupan warga Rohingya yang berbondong-bondong mengungsi dari negaranya karena gejolak politik di Myanmar.

Dalam 10 hari terakhir ribuan imigran Rohingya dan Banglades terdampar ke Aceh serta Sumatera Utara. Sebagian besar mereka kini ditampung di Aceh Utara dan Langsa, Aceh. Sisanya di Langkat, Sumatera Utara. Selain menggelar unjuk rasa, Aliansi Masyarakat Aceh Peduli Rohingya juga membuka posko #SaveRohingya di Anjungan Kota Langsa, Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh, untuk menerima berbagai bantuan dari masyarakat. Mereka juga menggelar aksi turun ke jalan untuk menggalang bantuan. Bantuan yang terkumpul nantinya disalurkan ke imigran Rohingya yang ditampung di Aceh Utara dan Kuala Langsa.

Sementara itu otoritas Thailand berhasil menangkap gembong jaringan penyelundupan manusia yang baru-baru ini, memicu krisis kemanusiaan di wilayah perairan Asia Tenggara. Gembong yang ditangkap ini merupakan mantan pejabat daerah di wilayah Satun, Thailand bagian selatan. Kapal imigran gelap dari Bangladesh dan Myanmar masuk ke wilayah perairan Indonesia dan Malaysia. Ribuan imigran gelap lainnya masih terombang-ambing di lautan. Demikian seperti dilansir Reuters, Selasa (19/5).

Myanmar menyalahkan negara-negara tetangganya karena masih mempekerjakan buruh dengan upah murah, sehingga mendorong aliran imigran gelap besar-besaran. Padahal di sisi lain, Myanmar sendiri mendapat tekanan untuk menghentikan penekanan terhadap warga etnis muslim Rohingya, yang disebut-sebut mendorong warga Rohingya melarikan diri ke luar, namun malah menjadi korban jaringan penyelundup manusia.

Kepolisian Thailand berhasil menangkap Patchuban Angchotipan yang diyakini sebagai bos jaringan penyelundupan manusia yang cukup luas di Thailand. Patchuban yang ditangkap polisi pada Senin (18/5) ini, diketahui merupakan mantan pejabat pemerintah provinsi Satun. "Di Provinsi Satun, dia (Patchuban) pejabat tinggi," tutur Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Jenderal Somyot Poompanmuang. "Dia adalah pemimpinnya. Dia memiliki banyak anak buah," imbuhnya.

Patchuban yang memiliki nama panggilan Kor Tong ini dijerat dakwaan berlapis, mulai dari penyelundupan manusia, menyelundupkan pekerja migran ilegal ke Thailand, melakukan penyanderaan hingga berujung melukai orang-orang lain, hingga menyandera orang lain demi uang tebusan. Patchuban menyangkal seluruh dakwaan tersebut.

Penangkapan Patchuban ini masih berkaitan dengan temuan sejumlah kamp penyelundupan manusia dan kuburan massal di sekitarnya pada awal bulan ini. Sedikitnya 33 jasad manusia, yang diyakini imigran gelap dari Myanmar dan Bangladesh ditemukan di dalam kuburan massal yang ada di dekat perbatasan Malaysia tersebut.

Dua minggu terakhir, otoritas Thailand menangkap sekitar 30 orang terkait jaringan penyelundupan manusia. Wakil kepolisian nasional Thailand, Letnan Jenderal Jaktip Chaijinda menyebut, sekitar 35 tersangka lainnya masih dalam pengejaran.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Thailand, Malaysia dan juga Indonesia dijadwalkan akan menggelar pertemuan di Kuala Lumpur pada Rabu (20/5). Pertemuan ini, menurut Kementerian Luar Negeri Malaysia, akan fokus membahas upaya penangkalan penyelundupan manusia. (Detikcom/okz/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru