Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Diserang ISIS, Hampir 25 Ribu Warga Ramadi Melarikan Diri

* Cari Sandera Asing, AS Interogasi Istri Pemimpin ISIS
- Rabu, 20 Mei 2015 19:06 WIB
420 view
Diserang ISIS, Hampir 25 Ribu Warga Ramadi Melarikan Diri
Baghdad (SIB)- Hampir 25 ribu orang melarikan diri dari Kota Ramadi, Irak barat, setelah kota itu terus-menerus menerima gempuran serangan dari kelompok militan ISIS. Sebagian besar warga Ramadi menuju ibu kota Baghdad untuk melindungi diri dan keluarga mereka.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Irak memaparkan bahwa PBB dan badan bantuan lainnya mulai mendistribusikan makanan, air dan pasokan medis serta mendirikan kamp dan toilet sementara. Namun, bantuan tersebut hampir menghabiskan seluruh dana untuk operasi bantuan di Irak. Ramadi jatuh ke tangan ISIS sejak akhir pekan lalu. Sebelumnya, sekitar 130 ribu warga Irak barat pada April tahun lalu.

"Ribuan keluarga yang melarikan diri sebelumnya telah kembali ke rumah mereka di Ramadi. Namun, mereka terpaksa melarikan diri untuk kedua kalinya setelah pertempuran pecah lagi," kata Koordinator Kemanusiaan PBB di Irak, Lise Grande, dalam surat pernyataan dari PBB, dikutip dari Reuters, Selasa (19/5). "Tidak ada yang lebih penting sekarang daripada membantu warga yang melarikan diri dari Ramadi. Mereka berada dalam kesulitan dan kita harus membantu mereka," kata Grande melanjutkan. "Ribuan orang harus tidur di tempat terbuka karena mereka tidak memiliki tempat tinggal. Kami dapat memberikan bantuan lebih jika kami memliki dana," ujar Grande.

Sejumlah badan PBB dan organisasi bantuan lainnya memberikan bantuan kepada 2,5 juta orang yang terusir dan terpaksa mengungsi dari Irak. Namun, dana bantuan untuk menolong mereka kini hampir habis. Sebanyak 56 program kesehatan di Irak juga akan berakhir pada Juni mendatang. "Pada bulan Juli, bantuan makanan akan dihentikan," kata Grande.

Kelompok militan ISIS mengklaim kendali penuh atas Kota Ramadi pada Minggu (17/5). Klaim ISIS ini menandakan kekalahan terbesar pemerintahan Irak sejak memerangi ISIS pertengahan tahun lalu. Setelah menguasai Ramadi, militan ISIS langsung bergerak mencari polisi dan para pejuang pro-pemerintah dengan mendatangi rumah-rumah warga.

Menurut warga setempat, para militan ISIS mendatangi rumah ke rumah dengan membawa daftar para milisi simpatisan pemerintah. Mereka juga membobol rumah-rumah polisi dan pejuang pro-pemerintah, khususnya mereka yang berasal dari suku Al Bu Alwan, yang 30 orang di antaranya telah ditahan ISIS. Kelompok ISIS juga membakar rumah-rumah dan menjarah toko-toko milik milisi Sunni pro-pemerintah.

Gedung Putih menyatakan, jatuhnya kota Ramadi ke tangan ISIS jelas merupakan kemunduran. Gedung Putih pun menjamin Baghdad bahwa pihaknya akan membantu pasukan Irak merebut kembali kota tersebut. "Pesawat-pesawat kami sedang mengudara sekarang dan mencari target-target ISIL. Mereka akan terus melakukan itu sampai Ramadi direbut kembali," ujar juru bicara Gedung Putih Eric Schultz. ISIL merupakan nama lain dari ISIS.

Sementara ituotoritas Amerika Serikat akan mulai menginterogasi istri pemimpin senior militan ISIS yang berhasil mereka tangkap. Si pemimpin senior ISIS yang bernama Abu Sayyaf tewas dalam operasi darat tentara AS di Suriah, akhir pekan lalu. Pemerintah AS meyakini Abu Sayyaf terlibat dalam mengurus para sandera asing ISIS, termasuk Kayla Mueller, relawan asal AS yang dilaporkan tewas pada Februari lalu.

Gedung Putih AS menuturkan pada Sabtu (16/5) lalu, tentara AS yang ditugaskan di Irak telah melakukan penyerbuan via darat terhadap persembunyian ISIS di wilayah Suriah bagian timur. Penyerbuan itu bertujuan untuk menangkap Abu Sayyaf dan istrinya Umm Sayyaf.

Umm Sayyaf berhasil ditangkap oleh tentara AS, namun Abu Sayyaf tewas setelah terlibat pertempuran dengan tentara AS. Dalam penyerbuan itu, tentara AS berhasil membebaskan seorang wanita etnis Yazidi yang diduga dijadikan budak oleh Abu Sayyaf dan istrinya.

Menurut pejabat keamanan AS ini, Umm Sayyaf kemungkinan akan diinterogasi oleh anggota High-Value Detainee Interrogation Group (HIG), unit yang dibentuk setelah Presiden Barack Obama menutup program pemberantasan terorisme CIA yang dikritik karena menggunakan penyiksaan dalam interogasi.

Pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Umm Sayyaf, lanjut pejabat keamanan AS ini, akan berkutat soal apa yang diketahuinya terkait penyanderaan warga asing oleh ISIS. AS meyakini bahwa suami Umm Sayyaf melakukan interaksi langsung dengan para sandera asing, termasuk Mueller. Meskipun tidak diragukan lagi bahwa peran Umm Sayyaf sebagai istri tentu terbatas dan tidak seluas Abu Sayyaf. Namun paling tidak ada informasi berguna yang didapat dari Umm Sayyaf.

Pejabat AS dan sumber yang dekat dengan keluarga sandera menyebut, ISIS hingga kini diyakini masih menyandera beberapa warga asing, termasuk jurnalis asal Inggris, John Cantlie. Namun diyakini tidak ada lagi warga AS yang menjadi sandera ISIS. (Detikcom/w)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru