Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Militer AS-Tiongkok Bersitegang di Laut Tiongkok Selatan

- Jumat, 22 Mei 2015 19:29 WIB
411 view
Militer AS-Tiongkok Bersitegang di Laut Tiongkok Selatan
Washington (SIB)- Angkatan Laut Tiongkok mengeluarkan delapan kali peringatan kepada sebuah pesawat mata-mata AS yang terbang di atas kepulauan buatannya di Laut Tiongkok Selatan, lapor CNN yang turut dalam pesawat itu. Setelah pilot militer AS menjawab peringatan itu dengan mengatakan mereka terbang di wilayah udara internasional, seorang operator radio Tiongkok dengan jengkel menjawab, "Di sini Angkatan Laut Tiongko...Pergi kalian!"

Sebuah P8-A Poseidon, pesawat mata-mata paling canggih milik militer AS, terbang pada ketinggian 15.000 kaki (4.500 meter) pada titik paling rendahnya, lapor CNN seperti dikutip Reuters. Cuplikan yang diambil P8-A Poseidon dan kemudian disiarkan CNN memperlihatkan sebuah kompleks bangunan besar dan aktivitas pengerukan di pulau buatan, yang didekatnya berlabuh kapal perang-kapal perang Tiongkok.

CNN melaporkan untuk pertama kali Pentagon membeberkan video mengenai aktivitas pembangunan Tiongkok serta audio percakapan pesawat militer AS. "Kami baru dihadang 30 menit lalu dan hadangan itu berasal dari Angkatan Laut Tiongkok," kata Kapten Mike Parker, komandan pesawat mata-mata AS yang digelarkan di Asia kepada CNN. "Saya yakin sekali hadangan itu berasal dari darat, fasilitas ini di sini," kata Parker menunjuk stasiun radar peringatan dini di Fiery Cross Reef.

Fasilitas-fasilitas militer di Fiery Cross Reef, termasuk landasan sepanjang 3.000 meter, akan bisa dioperasikan akhir tahun ini, kata salah seorang komandan AS kepada Reuters. Dalam misi P8-A ini, pilot penerbangan Delta Air Line yang tepat berada dalam frekeunsi sama ketika P8-A diperingatkan Tiongkok, juga mendengar hadangan Tiongkok itu, namun dia mengenalkan dirinya sebagai penerbangan komersial. Setelah itu pihak Tiongkok membolehkan pilot melanjutkan terbang dan pesawat maskapai Delta itu terbang tak terganggu, lapor CNN.

Tiongkok mengklaim berdaulat atas sebagian besar wilayah Laut Tiongkok Selatan yang menjadi jalur perkapalan dunia senilai 5 triliun dolar AS per tahun. Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan dan Brunei juga mengklaim berdaulat di daerah ini. Pekan lalu Menteri Luar Negeri Wang Yi menegaskan keberdaulatan Tiongkok atas karang-karang buatan itu dengan mengatakan negaranya akan mempertahankan klaimnya itu dengan sekeras karang.

TIONGKOK PASIF, AS PARANOID

Hubungan kedua negara juga terganggu akan isu spionase. Media pro-pemerintah Tiongkok, Global Times mendesak Beijing untuk merespon tuduhan spionase Amerika Serikat terhadap enam warga Tiongkok. Dalam laporan editorialnya pada Kamis (21/5), Global Times juga menyebut Washington paranoid karena menuduh warga Tiongkok mencuri teknologi yang kerap digunakan dalam sistem militer.

"Kejahatan spionase adalah dakwaan yang paling sering disalahgunakan oleh Amerika," tulis Global Times dalam editorialnya, Kamis (21/5). "Pada saat yang sama, kami berharap pemerintah Tiongkok dan instansi terkait yang terlibat dapat mengeluarkan respon yang diperlukan secepatnya terkait kasus mata-mata warga Tiongkok," tulis Global Times yang merupakan anak perusahaan harian Partai Komunis Rakyat Tiongkok yang pro-pemerintah.  "Kasus semacam ini menunjukkan bahwa AS menjadi paranoid tentang kebangkitan Tiongkok. Namun kesalahan berulang AS soal hal ini tidak membuat masyarakat Amerika introspeksi," tulis harian tersebut.

Departemen Kehakiman AS mendakwa enam warga Tiongkok atas tuduhan mata-mata ekonomi karena mencuri rahasia dari dua perusahaan pengembang teknologi yang sering digunakan dalam sistem militer.  Salah satu terdakwa, Professor Hao Zhang, ditangkap pada Sabtu (16/5) ketika baru mendarat dari Tiongkok. Sementara kelima orang lainnya diyakini masih berada di Tiongkok.

Jaksa penuntut AS juga mendakwa Wei Pang, profesor dan mantan pegawai Avago; serta Jinping Chen, profesor dan anggota dewan direksi ROFS Microsystems. AS juga mendakwa Chong Zhou, mahasiswa pasca sarjana Universitas TIanjin dan disainer teknik ROFS Microsystem; Huisui Zhang yang merupakan mahasiswa seangkatan Pang dan Zhang; serta Zhao Gang, manajer ROFS Microsystems.

Zhang dan dua profesor dari Universitas Tianjin dikenai dakwaan mencuri kode sumber dan informasi lain dari pembuat keping Avago Technologies Ltd dan Skyworks Solution Inc, tempat mereka berdua bekerja.  Dakwaan mengenai spionase ekonomi ini merupakan kali ketiga yang dijatuhkan AS terhadap warga Tiongkok. Kasus semacam ini dianggap sebagai pelanggaran keamanan nasional tingkat tinggi. Pada Rabu (20/5), Kementerian Luar Negeri Tiongkok tengah memeriksa rincian kasus tersebut dan menyatakan Tiongkok sangat khawatir atas tuduhan tersebut. Namun ini saja, menurut Global Times, tidak cukup. (Ant/Rtr/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru