Washington (SIB)- Polisi Amerika Serikat menembak dua warga AS berkulit hitam di kota Olympia, negara bagian Washington. Kedua pria Afrika-Amerika itu harus dirawat akibat luka tembakan tersebut. Kedua pria kulit hitam itu ditembak saat dikejar polisi karena mengutil. Menurut juru bicara kepolisian, kedua tersangka diduga menyerang pegawai supermarket Safeway setelah mencoba mencuri bir pada Kamis, 21 Mei dini hari waktu setempat.
Kedua pria tersebut tidak bersenjata namun salah satunya menggunakan skateboard untuk menyerang seorang polisi. Polisi itu pun melepas tembakan. Akibat tembakan ini, salah seorang tersangka dalam kondisi kritis di rumah sakit dan seorang lagi dalam keadaan stabil.
Atas insiden ini, Walikota Olympia, Stephen Buxbaum seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (22/5) meminta warga untuk tetap tenang. "Janganlah kita reaktif. Marilah kita dengan penuh kesadaran menanggapi pertanyaan akan apa yang terjadi dengan sebaik mungkin, mencari keadilan dan penyembuhan," tutur Buxbaum pada konferensi pers.
Saat ini, kematian pria-pria kulit hitam akibat ditembak polisi berkulit putih tengah menjadi isu besar di Amerika. Khususnya sejak 9 Agustus 2014 lalu, saat warga kulit hitam bernama Michael Brown tewas tertembak polisi di Ferguson, Missouri. Insiden itu telah memicu aksi-aksi protes di berbagai wilayah AS. Sejumlah aksi demo tersebut bahkan telah diwarnai bentrokan dengan aparat kepolisian.
Sementara itu enam polisi telah dituntut dalam kematian Freddie Gray, kata Jaksa Agung Kota Baltimore Marilyn Mosby dalam satu taklimat pada Kamis (21/5). Mereka akan diadili pada 2 Juli, kata Mosby. Pada awal Mei, Mosby telah mengajukan tuntutan terhadap keenam polisi tersebut dalam kasus Gray.
Tuntutan itu agak berbeda dari yang diajukan oleh Mosby sebelumnya. Beberapa tuntutan awal, termasuk pemenjaraan palsu, dicabut, dan tuntutan baru --meliputi secara sembrono membahayakan nyawa orang-- ditambahkan. "Informasi tambahan ditemukan, dan seperti yang sering terjadi dalam kasus selama penyidikan berlangsung, tuntutan dapat dan mesti diubah berdasarkan bukti itu," kata Mosby, sebagaimana dikutip Xinhua.
Mosby juga telah mengatakan tengkuk Gray patah sebab ia cedera selama diborgol, dibelenggu dan dimasukkan kepala lebih dulu ke dalam van polisi. Wanita jaksa tersebut mengatakan permohonan Gray untuk mendapat perawatan medis diabaikan.
Pada Rabu (20/5), satu rekaman video yang diposting daring memperlihatkan penangkapan kasar terhadap Gray. Meskipun kualitasnya rendah, suara teriakan dapat terdengar di video itu, saat beberapa petugas terlihat berdiri di samping Gray di belakang van putih. Video tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan petugas memborgol tangan Gray dan membelenggu kakinya sebelum mendorong kepalanya lebih dulu dalam posisi telungkup ke dalam van.
Gray (25), warga Amerika-Afrika, meninggal pada 19 April, setelah menderita cedera yang diduga dideritanya selama atau setelah penangkapannya pada pekan sebelumnya oleh polisi. Kematian Gray telah memicu protes selama berpekan-pekan di Baltimore, kota terbesar di Maryland, guna menuntut "keadilan" untuk orang Amerika-Afrika. Baltimore juga telah menyaksikan jam malam lima-hari setelah protes berubah jadi kerusuhan pada April. Puluhan gedung dan kendaraan dibakar, sebanyak 20 polisi cedera dan lebih dari 200 orang ditangkap dalam kerusuhan itu.
Jaksa Agung Loretta Lynch pada April mengumumkan Departemen Kehakiman akan melancarkan penyelidikan federal dalam kematian Gray. Lynch juga telah berikrar akan membantu kota tersebut dalam pembaruan polisi.
(Detikcom/ r)