Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 18 Februari 2026

Militan Houthi Sandera 4 Warga AS

- Rabu, 03 Juni 2015 13:28 WIB
245 view
 Militan Houthi Sandera 4 Warga AS
SIB/AP Photo/Hani Mohammed
Asap membumbung tinggi dari gudang senjata yang dikuasai militan Houthi di bukit di pinggiran kota Sanaa, Senin (1/6). Serangan itu berlangsung saat sejumlah warga Amerika Serikat dikabarkan disandera oleh Houthi.
Washington (SIB)- Seiring dengan konflik yang terus berkecamuk di Yaman, sejumlah warga Amerika Serikat dikabarkan disandera oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi di negara itu. Dilaporkan New York Times, menurut sumber dari pejabat AS, sebanyak empat warga AS disandera kelompok yang telah menguasai ibu kota Sanaa itu. Namun, sumber tersebut tidak memberikan informasi tentang identitas warga AS dan rincian atas kasus mereka. Satu orang di antaranya disandera sekitar dua pekan lalu, menurut keluarganya. Para tahanan diyakini disandera di ibu kota Sanaa, dibawah kendali militer Houthi yang terus menerus menerima gempuran serangan udara dari koalisi internasional yang dipimpin Arab Saudi.

The Washington Post, mengutip pejabat yang tak dipublikasikan namanya, melaporkan pada Jumat (29/5) pekan lalu bahwa setidaknya empat orang Amerika diyakini berada dalam tahanan Houthi di Sanaa. Keempatnya dilaporkan tidak bekerja untuk pemerintah AS, dan diyakini memiliki kewarganegaraan ganda, Yaman dan AS. Atas permintaan keluarga, nama para sandera tidak dipublikasikan.

Sejumlah sumber dari Departemen Luar Negeri AS menyatakan mereka tengah berupaya mengusahakan pembebasan keempat warga AS tersebut. Namun, hal ini sulit diwujudkan karena AS bersebrangan dengan Houthi terkait konflik di Yaman.

Pemerintahan Obama mendukung secara terbuka serangan militer koalisi internasional yang dipimpin Saudi untuk memukul mundur Houthi dari ibu kota dan sejumlah kota besar lainnya sejak akhir Maret lalu. Sementara para pemimpin Houthi mengecam peran Amerika Serikat terhadap konflik di Yaman dan dukungan AS terhadap serangan udara Saudi.  Sebelumnya, Reuters melaporkan bahwa tokoh senior kelompok pemberontak al-Houthi sedang melangsungkan pembicaraan damai dengan para pejabat Amerika Serikat di Oman dalam upaya menyelesaikan konflik di Yaman.

Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda kesepakatan damai antara Saudi dan Houthi. Padahal, jumlah korban tewas terus merangkak naik hingga mendekati angka 2.000 jiwa. Tak sedikit warga sipil termasuk di antara para korban.

Pengacara Sharif Mobley, seorang tahanan Amerika yang ditangkap beberapa tahun yang lalu di Sanaa atas tuduhan terorisme, menyatakan kekhawatirannya bahwa serangan udara Saudi membahayakan klien mereka. Tim pengacara menyatakan Mobley ditahan di sebuah penjara di pangkalan pasukan keamanan Houthi yang dibom beberapa pekan lalu oleh Saudi. Mereka meminta para pajabat AS mendesak Saudi untuk menghentikan serangan udara.

"Apakah pemerintah Amerika Serikat mengabaikan permohonan kami untuk mendesak Saudi tidak meluncurkan bom? Atau apakah Saudi mengabaikan desakan AS?," kata Namir Shabibi, kepala tim pengacara dan anggota kelompok pemerhati HAM, Reprieve.

Sementara itu pasukan koalisi Arab Saudi menyerang gudang senjata milik Houthi. Sedikitnya 8 warga sipil tewas akibat serangan ini dan sekitar 20 orang lainnya mengalami luka-luka. Saksi mata setempat menuturkan bahwa serangan udara ini ditargetkan terhadap markas Houthi yang ada di Gunung Noqum, pinggiran Sanaa. Akibat serangan ini, amunisi dan serpihan logam berterbangan hingga ke kawasan permukiman warga. Puing-puing dari ledakan bahkan dilaporkan jatuh hingga ke area sejauh 5 kilometer dari lokasi kejadian. Hal ini memicu eksodus warga setempat ke area yang lebih aman.

Koalisi Saudi terus melancarkan serangan udara terhadap berbagai posisi Houthi di wilayah utara, tengah dan selatan Yaman. Serangan udara terhadap Houthi ini dilakukan sejak Minggu (31/5) waktu setempat dan berlanjut hingga Senin (1/6). Serangan di wilayah utara mengenai markas Houthi di Provinsi Saada yang berbatasan dengan Saudi, sedangkan serangan udara di wilayah selatan mengenai kota pelabuhan Aden, dekat Laut Arab.

Pada 12 Mei lalu, koalisi Saudi juga membombardir markas Houthi di Gunung Noqum. Serangan itu memicu ledakan besar yang menewaskan 69 warga sipil dan melukai 250 warga lainnya. Sedangkan pada 29 April, basis rudal Houthi terkena serangan koalisi Saudi dan menewaskan 38 orang, serta melukai 532 orang lainnya.

Sudah lebih dari 2 bulan ini, koalisi Saudi dan negara-negara Arab melancarkan serangan udara terhadap Houthi di Yaman. Tujuan utama serangan udara tersebut ialah mengembalikan kepemimpinan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi yang kini mengasingkan diri di Riyadh, Saudi.

Saudi yang menganut Sunni juga khawatir bahwa Houthi akan menjadi perwakilan besar Iran, yang menganut Syiah, di wilayah Yaman. Iran sendiri merupakan musuh besar Saudi selama ini. Sejak September 2014 lalu, Houthi menguasai sebagian wilayah Yaman, termasuk ibukota Sanaa. (Detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru