Istanbul (SIB)- Ribuan orang melancarkan protes baru anti-korupsi, Sabtu (1/3), di Kota Pantai Turki, Istanbul, mengenai rekaman yang bocor, melibatkan perdana menteri negeri itu dan beredar awal pekan lalu.
Demonstrasi telah dilancarkan dan dihentikan di seluruh Turki sejak rekaman tersebut beredar dan menjadi sorotan masyarakat. Percakapan telepon diduga direkam antara Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan dan putranya Bilal mengenai cara menyembunyikan uang dalam jumlah banyak dari penggerebekan polisi.
Pada Rabu larut malam (26/2), rakyat Turki dikejutkan oleh disiarkannya rekaman audio yang mengungkapkan dugaan percakapan antara Erdogan dan putranya, Bilal.
Di dalam percakapan yang dilakukan itu, Erdogan memerintahkan putranya agar mendepositokan banyak uang tepat setelah penyelidikan korupsi dilancarkan pada 17 Desember 2013.
Penyelidikan korupsi itu telah melibatkan putra pejabat Turki --menteri, pengusaha dan kepala bank negara.
Perdana menteri tersebut membantah keaslian rekaman itu, dan mengatakan rekaman itu dipalsukan secara teknik dan "produksi tak bermoral dan sepenuhnya palsu".
Erdogan telah mengecam para penyadap yang diduga merekam percakapan bahwa ia memberitahu putranya cara menyembunyikan uang dalam jumlah banyak, dan mengatakan rekaman itu dipalsukan secara teknis.
Perdana Menteri Turki tersebut menuduh para penyadap mendirikan "negara paralel" di negeri itu dan merusak demokrasi.
Di Istanbul, demonstrasi diselenggarakan di pusat beberapa kabupaten pada Sabtu, guna menuntut pengunduran diri pemerintah. Di Kabupaten Kadikoy, pemrotes berpawai dengan membawa lemari besi berukuran besar --yang melambangkan uang yang diduga ditemukan di rumah Bilal.
Hampir 1.000 personel polisi anti-huru-hara dikerahkan di Bundaran Taksim, yang bersejarah, dan Jalan Istiklal, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad pagi. Polisi menembakkan gas air mata guna mencegah orang memasuki bundaran itu.
Dalam pawai terpisah untuk memperingati ulang tahun ke-17 kudeta 28 Februari, pengunjuk-rasa di Jalan Istiklal memprotes "struktur paralel di dalam negara", yang mereka katakan dikuasai oleh tokoh agama yang berpusat di AS Fethullah Gulen.
Gerakan Hizmet, pimpinan Gulen, dituduh oleh pendukung pemerintah menjalankan "negara paralel" dan melancarkan pergolakan kekuasaan dengan Partai Pembangunan dan Keadilan --yang memerintah.
Banyak pengulas mengatakan pergolakan kekuasaan itu, penyelidikan korupsi yang berlangsung dan skandal rekaman baru-baru ini telah menambah parah perpecahan di dalam masyarakat Turki.
(Ant/Xinhua/f)