Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Dilanda Kekeringan, Malaysia Dihantui Penjatahan Air

- Rabu, 05 Maret 2014 13:53 WIB
655 view
Dilanda Kekeringan, Malaysia Dihantui Penjatahan Air
Kuala Lumpur (SIB)- Untuk mencegah kekeringan berlanjut, Pemerintah Malaysia menyerukan kepada warganya agar hemat menggunakan air. Pemerintah meminta air digunakan hanya untuk memasak, minum dan mandi. Sayang, seruan itu tidak digubris. Beberapa lokasi tempat pencucian mobil di Kuala Lumpur mengatakan, mereka akan tetap beroperasi hingga air di tempat mereka mengering.

Selain dihantui penjatahan air, warga Malaysia kini juga dihadapkan ancaman terkena wabah demam berdarah. Otoritas kesehatan di Malaysia telah mengingatkan warga untuk mengecek tumpukan sampah dan air, agar tidak menjadi lokasi bagi nyamuk aedes aegypti bertelur. Pasalnya di bulan Januari kemarin, sebanyak 36 warga Malaysia meninggal akibat terkena penyakit itu. Sejauh ini sudah ada lebih dari 18 ribu kasus yang dilaporkan. Angka itu meningkat 350 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2013 kemarin. 

Pemerintah Malaysia berniat membuat hujan buatan setelah kekeringan dan cuaca panas melanda negara itu sepekan terakhir ini. Namun hujan buatan diperkirakan masih belum mampu menghapuskan kemarau di Malaysia. Diberitakan Channel News Asia, Senin (3/3), curah hujan buatan itu diprediksi tidak dapat mencukupi ketinggian normal yang ada di bendungan terdekat. Menurut perwakilan dari Departemen Meteorologi Malaysia, Mohd Hisham Mohd Anip, hujan buatan itu juga tidak akan menghapus kabut asap yang kini menyelimuti beberapa kota di Malaysia.

"Untuk pembibitan awan, fokus kami saat ini di beberapa tempat yang menjadi area menampung air seperti bendungan. Jadi, hujan buatan ini tidak akan membuat situasi kabut asap lebih baik. Tetapi kabut asap tersebut akan menghilang dalam kurun waktu dua hingga tiga hari ke depan," ungkap Hisham. Menurut data indeks polusi udara hari Selasa, tingkat kabut asap di tujuh area berada di angka 150. Ketebalan asap demikian sebagian besar menyelimuti Kuala Lumpur dan pusat negara bagian Selangor.

Apabila tingkat kabut asap berada di antara 100 hingga 200, maka hal itu bermakna kualitas udara tidak sehat. Selain itu, jarak pandang di pusat Malaysia kurang dari satu kilometer pada Selasa ini. Bahkan lambang ikon Kuala Lumpur, Menara Petronas, turut diselimuti kabut asap. Penyebab asap tersebut pun sudah diklarifikasi oleh Departemen Meteorologi Malaysia bukan dari Indonesia, melainkan oleh kebakaran hutan di area mereka sendiri. (CNA/vvn/w)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru