Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Rusia Duduki Unit Pertahanan Rudal Ukraina

* Ukraina Tingkatkan Pengamanan di Fasilitas Nuklir
- Kamis, 06 Maret 2014 09:55 WIB
1.179 view
Rusia Duduki Unit Pertahanan Rudal Ukraina
SIB/rtr
KAPAL PERANG RUSIA : Seorang warga melihat pergerakan dua kapal perang Rusia saat memasuki perairan pelabuhan Crimea, Rabu (5/3). Rusia dilaporkan telah menduduki satu unit pertahanan rudal Ukraina di Semenanjung Crimea, yang disikapi pemerintahan Kiev de
Sevastopol (SIB)- Kementerian Pertahanan Ukraina, Rabu (5/3), menyatakan pasukan Rusia menduduki satu unit pertahanan rudal Ukraina di Semenanjung Crimea. Meski demikian, Kemenhan Ukraina menegaskan depot penyimpanan rudal masih berada di bawah kendali militer negeri itu.
Kabar didudukinya basis pertahanan rudal di Cape Fiolent, dekat kota Sevastopol itu menyusul pernyataan awal bahwa sebuah basis rudal di Evpatoria, di wilayah utara Crimea, juga dikuasai pasukan pro-Rusia. Semenjak jatuhnya presiden Viktor Yanukovych, ribuan pasukan bersenjata tanpa identitas membanjiri Semenanjung Crimea dan mengepung sejumlah basis militer Ukraina.

Bahkan, pasukan pro-Rusia yang menduduki pangkalan udara Belbek, sempat memberikan tembakan peringatan ke arah 300 personel militer Ukraina yang tak bersenjata. Meski banyak kalangan pasukan tanpa identitas itu adalah militer Rusia, namun pemerintah Rusia membantah telah memerintahkan militernya memasuki wilayah Crimea.

Dalam sebuah jumpa pers, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan, pasukan bersenjata itu adalah milisi lokal yang khawatir dengan pergantian kepemimpinan di Kiev. Namun, sejumlah pakar militer menduga pasukan yang kini berada di Crimea adalah unit-unit pasukan khusus Rusia, Spetsnaz, jika dilihat dari perlengkapan tempur yang mereka gunakan.

Sementara itu, Ukraina meningkatkan pengamanan terhadap sejumlah pembangkit tenaga listrik sebagai respon atas ancaman Rusia. Demikian isi surat Dubes Ukraina untuk PBB Ihor Prokopchuk kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Tindakan ilegal dari angkatan bersenjata Rusia di wilayah Ukraina meningkatkan ancaman terhadap keamanan Ukraina termasuk terhadap infrastruktur nuklir kami," demikian Ihor Prokopchuk. "Dalam situas ini, pihak berwenang di Ukraina melakukan berbagai langkah yang diperlukan untuk melindungi 15 unit pembangkit di empat lokasi pembangkit nuklir Ukraina," sambung Prokopchuk.

Dia menambahkan, sejauh ini kemungkinan militer Federasi Rusia melakukan invasi terbuka ke Ukraina belum bisa diprediksi. "Berbagai upaya dilakukan pemerintah Ukraina untuk memperbaiki hubungan bilateral dengan Rusia, namun sejauh ini belum mendapatkan respon," ujar Prokopchuk. Sehingga, Prokopchuk mendesak pimpinan IAEA Yukiya Amano untuk menggulirkan isu keamanan nuklir dengan pemerintah Rusia.

Serangan balasan dilakukan, sehingga membuat Amerika Serikat terusik. Bagaimana reaksi Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin?

Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 06 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru