Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Anak Menteri Irak Ketinggalan Pesawat, Pilot Tak Diberi Izin Mendarat

- Sabtu, 08 Maret 2014 12:33 WIB
438 view
Anak Menteri Irak Ketinggalan Pesawat, Pilot Tak Diberi Izin Mendarat
Baghdad (SIB)- Sebuah pesawat terpaksa putar balik karena tak bisa mendarat di tempat tujuan akibat ulah seorang putra menteri Irak. Ini terjadi karena anak sang menteri itu ketinggalan pesawat tersebut. Pesawat Middle East Airlines (MEA) yang bertolak dari Libanon menuju Irak tersebut, terpaksa kembali ke Libanon karena tak mendapat izin mendarat di bandara Baghdad, Irak. Ternyata, Mahdi al-Amiri, putra Menteri Transportasi Irak Hadi al-Amiri telah menelepon otoritas bandara Baghdad agar melarang pesawat tersebut mendarat.

Dikatakan Marwan Salha, Pjs Kepala MEA, penerbangan itu telah tertunda enam menit sementara staf MEA mencari-cari Mahdi dan temannya di ruang tunggu kelas bisnis. "Kami telah membuat pengumuman yang diperlukan dan panggilan-panggilan terakhir," tutur Salha seperti dilansir Daily Mail, Jumat (7/3). Pesawat tersebut akhirnya terbang tanpa Mahdi dan temannya. Menurut Salha, ketika akhirnya Mahdi datang terlambat di gate bandara, dia marah dan berujar: "Saya tak akan biarkan pesawat itu mendarat di Baghdad."

Setelah pesawat mengudara selama sekitar 21 menit, manajer bandara Baghdad menelepon pihak MEA untuk memberitahu bahwa tak ada izin untuk mendarat. Pesawat akhirnya kembali ke Beirut, Libanon dan para penumpang pun disuruh turun dari pesawat.

"Ini sangat mengesalkan karena ini murni nepotisme," cetus Salha seraya mengatakan, penerbangan ke Irak kemungkinan akan dilakukan hari Jumat (7/3) waktu setempat Namun hal ini dibantah Kementerian Transportasi Irak. Kementerian menyatakan, pesawat tersebut disuruh putar balik dikarenakan ada pembersihan di bandara.

"Ada operasi pembersihan di bandara dan langkah-langkah spesifik tengah dilakukan. Kami meminta semua penerbangan untuk tidak mendarat di bandara Baghdad setelah pukul 9 pagi, namun pesawat ini tiba setelah waktu itu, jadi kami memintanya untuk putar balik," tutur Kareem al-Nuri, penasihat media Kementerian Transportasi Irak. Bahkan dia pun membantah bahwa putra sang menteri seharusnya berada di pesawat tersebut.

Namun seorang pejabat bandara Baghdad mengatakan, saat itu lalu lintas udara normal, dengan 30 pesawat mendarat pada Kamis, 6 Maret waktu setempat. Satu-satunya pesawat yang dilarang mendarat adalah yang bertolak dari Beirut tersebut. (Detikcom/w)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru