Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Myanmar Vonis Seumur Hidup 153 Penebang Liar Asal China

- Jumat, 24 Juli 2015 10:54 WIB
235 view
Myanmar Vonis Seumur Hidup 153 Penebang Liar Asal China
Naypyidaw (SIB)- Pengadilan Myanmar memvonis seumur hidup 153 penebang liar asal China. Vonis ini sontak menuai protes melalui nota diplomatik yang disampaikan Beijing. Diberitakan Reuters, Kamis (23/7), ratusan orang itu terbukti bersalah melakukan penebangan ilegal di hutan perbatasan Kachin dekat China. Mereka tertangkap Januari lalu dan baru divonis pekan ini.

Menurut ahli hukum Myanmar, vonis seumur hidup di negara itu bisa berarti penjara 20 tahun. Dua orang dari tersangka yang berumur di bawah 18 tahun diringankan hukumannya menjadi 10 tahun penjara. Pemerintah China langsung melakukan lobi politik pada Myanmar melalui berbagai lapisan di pemerintahan sejak penahanan dilakukan pada Januari namun tidak berbuah hasil.

Media China, Global Times, menuliskan bahwa hukuman itu terlalu berat dan pemerintah Beijing harus turun tangan membebaskan mereka. Menurut media ini, vonis tersebut dijatuhkan atas desakan opini publik Myanmar, bukan berdasarkan hukum.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lu Kang mendesak Myanmar mengadili para tersangka "sesuai hukum, masuk akal dan bisa dibenarkan, serta mengembalikan mereka ke China." Namun pemerintah Myanmar bergeming dengan mengatakan bahwa mereka tidak akan turut campur dalam proses hukum.

"Ketika warga kami melanggar hukum di negara lain, mereka menghadapi hukuman di yang sesuai di negara itu. Kami tidak akan menggunakan diplomasi untuk ikut campur. Saya kira China akan mengerti," kata juru bicara pemerintah Myanmar Ye Htut.

Imigran Gelap

Otoritas Myanmar memulangkan 155 imigran gelap ke Bangladesh. Para imigran tersebut terombang-ambing di lautan sebelum diselamatkan otoritas Myanmar sebulan lalu. Seperti dilansir AFP, Kamis (23/9), otoritas Bangladesh mengakui telah sepakat untuk menampung 155 imigran tersebut, setelah melakukan proses verifikasi kewarganegaraan yang ketat. Semua imigran ini dikategorikan sebagai imigran ekonomi.

"Orang-orang ini merupakan korban perdagangan manusia melalui laut, di wilayah Samudera Hindia," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Bangladesh, Arafat Rahman. "Mereka sebelumnya diselamatkan dalam kelompok 528 orang dari sebuah kapal di perairan Myanmar," imbuhnya.

Sejauh ini, otoritas Bangladesh sudah menerima kembali 342 korban perdagangan manusia dari Myanmar, termasuk rombongan terakhir yang dikirimkan oleh Myanmar. "Proses pemulangan ini merupakan manifestasi jelas dari komitmen dan keseriusan Bangladesh dalam melakukan pemulangan warga Bangladesh yang terverifikasi dalam waktu sesingkat mungkin," tegas Rahman.

Ribuan imigran gelap, yang sebagian besar warga muslim Rohingya asal Myanmar atau imigran ekonomi asal Bangladesh banyak terombang-ambing di perairan Asia Tenggara sejak Mei lalu. Pelaku penyelundupan manusia sengaja meninggalkan mereka di lautan karena otoritas Thailand meningkatkan operasi pemberantasan sindikat penyelundup manusia. (Rtr/AFP/CNN/dtc/W)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru