Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Rusia Dituding Selalu Menantang AS dan Memecah NATO

- Senin, 27 Juli 2015 15:57 WIB
297 view
Rusia Dituding Selalu Menantang AS dan Memecah NATO
Aspen (SIB)- Rusia dituduh berupaya menantang Amerika Serikat (AS) dalam setiap kesempatan. Selain itu, Rusia juga dituduh berusaha memecah belah NATO. Tuduhan itu dilontarkan Kepala Komando Operasi Khusus AS, Jenderal Joseph Votel, dalam Forum Keamanan Aspen. Menurutnya, dengan upaya-upaya itu, Rusia telah menjadi ancaman jangka panjang bagi keamanan nasional AS.

”Rusia berusaha untuk menantang kita di mana pun mereka bisa,” ujar Jenderal Votel kepada Fox News, Minggu (26/7). ”Tujuannya adalah untuk menciptakan situasi di mana NATO tidak dapat terus berkembang,” katanya lagi.

Jenderal Votel mengaku tidak memiliki wawasan unik tentang Presiden Rusia, Vladimir Putin. Tapi, dia yakin Putin memantau sepak terjang NATO. ”Sebagai ancaman baginya dan saya pikir apa yang mereka (Rusia) upayakan adalah membuat ini menjadi konflik beku dan menciptakan situasi yang sangat, sangat sulit untuk menyelesaikannya di sepanjang perbatasan mereka,” katanya. Menurutnya, Rusia menggunakan strategi “perang hybrid”. Salah satunya, melakukan operasi informasi atau propaganda dengan menggunakan manipulasi media.

Petinggi militer AS itu mencermati tiga sekutu AS, yakni Yordania, Mesir dan Arab Saudi yang melakukan penjajakan kerjasama energi nuklir dengan Rusia. Hal itu dia anggap sebagai langkah Rusia untuk menantang AS dan pengaruh Washington di Timur Tengah.

Sementara itu Pemerintahan Presiden Barack Obama mengumumkan bahwa mereka berencana memperluas pelatihan pasukan keamanan Ukraina dalam perlawanan mereka terhadap separatis yang didukung Rusia di Ukraina timur.

Untuk itu, AS sudah melatih satuan-satuan pengawal nasional Ukraina dan mulai musim gugur nanti, mereka akan memperluas misi itu untuk mencakup “pelatihan satuan kecil” pasukan reguler Ukraina. Pelatihan itu akan diadakan di Ukraina barat dekat perbatasan dengan Polandia. Juru Bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Mark Toner, mengatakan, fokus AS saat ini adalah meneruskan bantuan non-senjata bagi Ukraina dan tidak ada rencana untuk menyediakan senjata.

Gedung Putih mengatakan Wakil Presiden Joe Biden berbicara dengan Presiden Ukraina Petro Poroshenko melalui telefon. Biden mengatakan, ia menyambut baik reformasi anti-korupsi baru-baru ini yang disetujui oleh parlemen dan rencana Poroshenko untuk menciptakan zona bebas militer 30-kilometer yang akan dipantau oleh Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE). Kedua pemimpin mengatakan pemberontak pro-Rusia telah gagal melaksanakan sepenuhnya gencatan senjata bulan Februari dan persetujuan untuk menarik senjata berat dari garis pemisah di timur. (VoA)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru