Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Afghanistan Klaim Bunuh Pemimpin Tertinggi Taliban

* Polisi Tembak Mati Tokoh Militan Pakistan
- Kamis, 30 Juli 2015 15:13 WIB
209 view
Afghanistan Klaim Bunuh Pemimpin Tertinggi Taliban
Mullah Mohammad Omar
Kabul (SIB)- Pemerintah Afghanistan mengeluarkan pernyataan menggemparkan. Mereka mengklaim pemimpin tertinggi kelompok pemberontak radikal Taliban, Mullah Mohammad Omar tewas. Meski belum ada bukti nyata, klaim Pemerintah Afghanistan didukung oleh beberapa pernyataan dari sejumlah media di negara tersebut. Otoritas setempat berencana menggelar konfrensi pers terkait tewasnya Omar dalam waktu dekat.

Selain itu, Omar diduga telah meregang nyawa dua atau tiga hari lalu. Penyebab kematian buronan paling dicari tersebut pun masih samar. Sampai saat ini belum ada pernyataan dari pihak Omar. Kelompok Taliban masih bungkam terkait tewasnya Omar.

Omar sudah berada dalam persembunyiannya sejak 2001. Saat itu dia dicari karena dituduh terlibat dalam peristiwa 9/11. Terakhir kali, nama Omar terdengar saat dia mengeluarkan pernyataan soal perundingan damai Afghanistan dan Taliban. Dia mengatakan perdamaian sangat mungkin terwujud.

"Jika kami melihat dalam peraturan agama kami maka pertemuan dan interaksi damai dengan musuh tidak dilarang," ucap Omar beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (29/7). "Semua perundingan harus ditujukkan untuk mengakhiri penjajahan dan menegakan sistem Islam. Semua mujahidin harus yakin dalam proses ini. Saya akan teguh membela hak-hak hukum kaum saya dari sudut pandang mana pun," tutup dia.

Sementara kepolisian Pakistan menembak mati salah seorang pemimpin militan Sunni paling ditakuti dan 13 orang pengikutnya dalam baku tembak. Malik Ishaq, pria yang mengendalikan operasi Taliban Pakistan dan Lashkar-e-Jhanvi, adalah orang yang sangat ditakuti di Pakistan. Dia diyakini sebagai dalang pembantaian minoritas Syiah Pakistan. Malik juga adalah orang yang mampu membuat para hakim bersembunyi dan bahkan menawari pria ini teh atau biskuit dalam sidang pengadilan.

Meski demikian, Malik yang diyakini berusia sekitar 55 tahun itu bebas beroperasi di Pakistan selama bertahun-tahun karena dinas intelijen negeri itu memelihara kelompok-kelompok militan Sunni pada 1980-1990-an untuk melawan ancaman Iran. Rincian penembakan Maliq masih belum jelas, apalagi di Pakistan pembunuhan seorang tersangka kejahatan tanpa proses pengadilan kerap dilakukan polisi setempat, khususnya dalam sebuah penyergapan.

Dua hari sebelumnya, Malik sudah ditahan polisi karena dicurigai terlibat dalam pembunuhan dua orang pemeluk Syiah. Demikian penjelasan seorang perwira polisi, Bakhtiar Ahmed. "Pada Rabu dini hari, saat polisi hendak memindahkan Maliq dari sebuah penjara di kota Multan, sekelompok orang bersenjata menyergap konvoi polisi yang membawa Malik untuk membebaskannya," kata Ahmed.

Penyergapan itu memicu baku tembak yang berujung kematian Malik dan sedikitnya 13 orang pengikut pria itu, termasuk dua putra dan seorang wakilnya, Ghulam Rasool. Dalam pernyataan lain, polisi mengatakan sebanyak 14-15 orang teroris tak dikenal menyerang kendaraan polisi untuk membebaskan Malik Ishak.

Penyergapan itu terjadi saat konvoi polisi kembali dari sebuah kawasan di kota Muzaffargarh setelah melakukan penyitaan senjata api, bahan peledak dan detonator berdasarkan informasi yang diperoleh dari Malik dan beberapa pembantunya.

Seorang pejabat negara bagian Punjab, Shuja Khanzada mengatakan, baku tembak itu juga melukai enam polisi. Sejauh ini, tak ditemukan saksi lain yang menyaksikan tembak-menembak itu. "Malik Ishaq mendalangi berbagai aksi terorisme dan dia dibebaskan pengadilan karena kurangnya bukti. Akhirnya, sang simbol teror menemui takdirnya," ujar Khanzada kepada Associated Press.

Malik pernah ditahan pada 1997 dan dituduh melakukan lebih dari 200 kejahatan, termasuk pembunuhan 70 warga pemeluk Syiah. Namun, negara tak bisa menghukum Malik karena para saksi, jaksa, dan hakim sangat ketakutan sehingga tak bisa menjalankan tugas mereka masing-masing. Meski kekurangan bukti, Malik Ishaq tetap mendekam di dalam penjara selama 14 tahun pada saat para jaksa memeriksa kasus-kasusnya dengan perlahan-lahan.

Pada 2009, Malik menunjukkan manfaatnya kepada tentara ketika dia diterbangkan dari penjara untuk bernegosiasi dengan berbagai kelompok militan yang menyerbut markas militer di Rawalpindi dan menyandera beberapa orang.

Pemerintah Pakistan kemudian dengan diam-diam membuat kesepakatan untuk membawa Malik ke kehidupan politik atau setidaknya memastikan dia tak menyerang pemerintah. Kesepakatan inilah yang membuat Malik bebas dari penjara pada 2011. Sejak saat itu Malik sudah berulang kali berurusan dengan polisi. (VoA/kps/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru