Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 15 Februari 2026

Ukraina Terus Berjuang "Rebut" Crimea dari Rusia

- Senin, 10 Maret 2014 11:26 WIB
568 view
Ukraina Terus Berjuang
Kiev (SIB)- Menteri Luar Negeri (Menlu) sementara Ukraina Andriy Deshchytsia mengatakan tidak akan menyerah untuk "merebut" kembali Crimea dari Rusia. Pihaknya pun akan terus mengerahkan kekuatannya untuk mengakhiri secara damai.

Seperti dilaporkan Reuters, Minggu (9/3), Andriy Deshchytsia juga menginginkan Rusia memperbolehkan warga asing masuk ke Crimea dan membina kembali hubungan internasional untuk mendiskusikan krisis antarwilayah tersebut. "Crimea adalah dan akan tetap menjadi wilayah Ukraina dan kami tidak akan menyerahkan Crimea kepada siapapun," tegas Deshchytsia.

Penegasan mempertahankan wilayah Ukraina juga ditegaskan PM Arseniy Yatsenyuk dengan mengatakan tidak akan menyerahkan satu centimeter pun wilayah negaranya. “Ini tanah kami. Kami tidak akan memberikan satu centimeter pun tanah Ukraina,” tegas Yatsenyuk kepada kerumunan orang yang berkumpul di depan patung Taras Shevchenko.  Setelah menggelar pertemuan kabinet luar biasa, Yatsenyuk mengumumkan akan terbang ke Amerika untuk mengadakan pembicaraan tingkat tinggi membahas “resolusi situasi di Ukraina.”

Seperti diketahui, kondisi di wilayah Crimea, Ukraina masih dalam keadaan tegang setelah Februari lalu Viktor Yanukovych dilengserkan dari kekuasaanya. Sejak saat itu, Rusia mengirim ribuan pasukannya ke Crimea dan melakukan pengepungan terhadap pangkalan militer serta mengambil alih kendali bandara.

Rusia berdalih bahwa pasukan mereka diperlukan untuk melindungi warga sipil yang berada di Crimea. Sebagian besar dari warga Crimea adalah etnis yang berbahasa Rusia dan menyambut baik intervensi militer Rusia di wilayahnya.

Menurut Rusia, rakyat Crimea dalam kondisi terancam oleh kelompok ultra-nasionalis sejak revolusi Ukraina berlangsung. Rusia sendiri menolak pemerintah sementara Ukraina yang dipimpin oleh Presiden Oleksandr Turchynov yang dibantu oleh Perdana Menteri (PM) sementara Arseny Yatsenyuk. Ukraina memerintahkan mobilisasi penuh dari pasukannya untuk menghadapi intervensi militer dari Rusia. Namun hingga saat ini belum ada terjadi baku tembak di wilayah tersebut.

Bahkan Rusia memperkuat cengkramannya di Crimea dengan mengirim pasukan tambahan. Presiden Rusia Vladimir Putin dan menteri luar negerinya menolak berunding dengan pemerintahan baru Ukraina yang dianggapnya sebagai bonek kelompok ekstrimis.

Sebuah konvoi yang tampak seperti kendaraan-kendaraan militer Rusia masuk ke sebuah pangkalan militer dekat ibukota Krimea, Simferopol. Wartawan melaporkan rombongan kendaraan itu termasuk truk-truk tanki bensin, delapan kendaraan lapis baja dan dua ambulans. Konvoi itu masuk ke dalam kompleks lapangan terbang militer yang mengibarkan bendera Rusia.

Dalam  sejarah modern, Ukraina merupakan bagian dari Rusia atau Uni Soviet dan setelah pecahnya Uni Soviet, banyak warga Ukraina yang berbahasa Rusia terus menganggap Rusia sebagai tanah airnya. Namun sejak 1991 tampaknya ada perubahan generasi yang besar, kata eksekutif periklanan Amerika Michael Willard, yang punya usaha agen iklan di Kyiv. Ia mengatakan pemuda Ukraina berkiblat pada Eropa dan menginginkan kesempatan ekonomi. Tampaknya Putin salah dalam membaca Ukraina. Ukraina sudah berubah total sejak 20 tahun yang lalu. Generasi muda menginginkan kesempatan. (AP/R15)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru