Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Saudi Kirim Tank, Senjata dan Pasukan ke Yaman

* Turki Bekukan Aset Mantan Presiden Yaman
- Minggu, 09 Agustus 2015 13:50 WIB
317 view
Saudi Kirim Tank, Senjata dan Pasukan ke Yaman
Yaman (SIB)- Arab Saudi telah mengirimkan lebih banyak pasukan dan kendaraan perang untuk membantu pendukung Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi memerangi pemberontak Syiah al-Houthi. Menurut laporan dari lapangan, puluhan tank dan kendaraan perang lain dari Riyadh masuk ke Yaman sejak Rabu lalu via Wadia, perbatasan di sebelah utara. “Puluhan tank, kendaraan perang, dan tentara, termasuk ratusan tentara Yaman yang dilatih di Arab Saudi, tiba di Yaman pada malam hari,” kata seorang sumber militer Yaman dikutip dari RT, Jumat (7/8).

Sumber militer lain mengatakan suplai terbaru ini ditujukan untuk mendukung tentara yang loyal pada Presiden Hadi yang saat ini berada di Riyadh, Arab Saudi. Ia melarikan diri dari Yaman tak lama setelah pasukan koalisi pimpinan Saudi melancarkan serangan udara ke Yaman untuk menggempur Houthi akhir Maret lalu. Peralatan perang itu dilaporkan menuju provinsi Marib dan Shabwa, di mana pertempuan mengusir Houthi masih terus berlangsung. Awal minggu ini, sekitar 2.800 pasukan koalisi Arab tiba di Yaman.

Sementara itu, Yaman menghadapi krisis kemanusiaan yang serius. Menurut PBB, lebih dari 1.600 warga sipil telah terbunuh, lebih dari 3.800 terluka dan setidaknya sejuta lainnya kehilangan tempat tinggal sejak serangan udara dilancarkan.

Bekukan Aset
Pemerintah Turki memutuskan untuk membekukan aset mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh dan empat mantan pejabat negeri itu, demikian laporan media Turki, Jumat (7/8). Pemerintah Turki mengambil keputusan tersebut sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB, setelah persetujuan Kabinet, demikian laporan kantor berita resmi Turki, Anadolu.

Aset mantan presiden Saleh, putranya--Ahmad Ali Abdullah Saleh, dan anggota milisi Al-Houthi Abdulhaleek Al-Houthi, Abdullah Yahya Al Hakeem dan Abdulmalik Al Houthi akan dibekukan, demikian keputusan yang akan berlaku sampai 25 Februari 2016.

Keputusan itu mencerminkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang mensahkan sanksi atas setiap orang yang menghalangi peralihan politik dan melakukan pelanggaran hak asasi manusia, demikian laporan Xinhua.

Aksi perlawanan 2011, yang memaksa presiden Ali Abdullah Saleh meletakkan jabatan, menandai berakhirnya 33 tahun kekuasaannya di negara Arab tersebut. Situasi keamanan di Yaman telah memburuk secara tajam sejak konflik meletus di beberapa provinsi di bagian selatan negeri itu. (RT/CNNIndo/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru