Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Takut Senjata Nuklir, Israel Ancam Habisi Ilmuwan Iran

- Senin, 10 Agustus 2015 11:42 WIB
317 view
Takut Senjata Nuklir, Israel Ancam Habisi Ilmuwan Iran
Tel Aviv (SIB)- Israel mengeluarkan ancaman terselubung terhadap para ilmuwan nuklir Iran karena takut mereka membuat bom atom. Menteri Pertahanan Israel, Moshe Yaalon, secara eksplisit memberi sinyal bahwa Israel akan menghabisi para ilmuwan nuklir Iran. Negara Yahudi tersebut, kata Yalon, berhak untuk membela diri. Dia blak-blakan mengatakan tidak bertanggung jawab atas keselamatan nyawa para ilmuwan Iran.

Ancaman Menteri Pertahanan Israel itu disampaikan dalam wawancara dengan Der Spiegel yang dilansir Minggu, (9/8).”Ambisi nuklir Iran harus berhenti pada satu cara atau cara lain,” katanya. ”Kami ingin ini dilakukan melalui perjanjian atau sanksi,” katanya lagi. ”Tapi akhirnya, Israel harus berada dalam posisi untuk membela diri.”

Ditanya khusus tentang ancaman untuk menargetkan para ilmuwan Iran atau upaya sabotase, Yalon berujar; ”Saya tidak bertanggung jawab atas kehidupan para ilmuwan Iran.” Beberapa ilmuwan Iran telah dibunuh. Situs nuklir Iran juga kerap jadi target peretasan atau serangan cyber. Iran selama ini menyalahkan Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai pelakunya.

Iran dan enam negara kekuatan dunia yakni, AS, Inggris, China, Prancis, Jerman dan Rusia, telah mencapai kesepakatan nuklir untuk memastikan bahwa program nuklir Iran tidak untuk membuat bom atom. Sebagai kompensasinya, sanksi terhadap Iran dicabut secara bertahap. Yaalon mengatakan, jika Iran tidak menghormati kesepakatan nuklir itu, Israel bisa melancarkan serangan udara.

Sementara itu pengakuan mengejutkan disampaikan keluarga salah seorang narapidana Palestina, Mohammed Allan. Pria tersebut saat ini ditahan di salah satu penjara di Israel. Menurut sang ayah, Nasser Allan, putranya melancarkan mogok makan. Akibatnya, kondisi kesehatan dari Mohammed menurun drastis. "Kesehatannya mengerikan usai mogok makan selama 56 hari terakhir," kata Nasser.

Nasser menambahkan, mogok makan dilakukan putranya adalah bentuk protes keras terhadap Pemerintah Israel. Hal ini disebabkan, anak bungsunya merasa diperlakukan tak adil. Sebab, Mohammed ditahan dalam waktu yang begitu panjang. Penahanan ini pun dilakukan tanpa dakwaan jelas. Dia menjelaskan, Otoritas Israel sebenarnya sudah memaksa anaknya untuk makan memberi obat atau vitamin. Namun, Mohammed menolak dan memilih hanya minum air putih.
Keputusan Israel kepada Mohammed merupakan tindak lanjut dari undang-undang baru negara ini. Peraturan baru tersebut menyebut, Otoritas Negeri Yahudi akan memaksa memberi makan bagi narapidana yang mogok makan.

Mohammed ditangkap pada November 2014. Ia dijatuhi hukuman enam bulan selama dua periode atau satu tahun penjara dengan dakwaan yang samar. Sebelumnya pada 2006-2009, Mohammed juga pernah mendekam di balik jeruji besi. Saat itu, Israel menuduh Mohammed adalah bagian dari kelompok ekstrem. (okz)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru