Brussel (SIB)- Badan Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengatakan pihaknya akan menggelar pesawat pengintai AWACS untuk berpatroli di Polandia dan Rumania sebagai bagian dari usaha-usaha aliansi itu untuk memantau krisis di Ukraina.
Penerbangan-penerbangan itu "akan meningkatkan kewaspadaan situasional Aliansi itu," kata seorang pejabat NATP dan menambahkan: "Semua penerbangan pengintai AWACS akan dilakukan hanya di wilayah Aliansi itu. "Keputusan ini adalah satu tindakan yang layak dan bertanggung jawab sesuai dengan keputusan NATO untuk menilai dampak dari krisis ini bagi keamanan Aliansi," kata pejabat itu.
Pengumuman NATO dibuat saat Washington dan Moskow terlibat pertikaian menyangkut usul-usul untuk meredakan krisis itu, dengan masing-masing pihak menantang pihak lainnya untuk menunjukkan mereka benar-benar menginginkan satu penyelesaian yang damai.
AWACS -- Airborne Warning and Control System-- akan melakukan missi penerbangan dari pangkalan mereka di Geilemkirchen, Jerman, tempat 17 pesawat itu berpangkalan, dan dari Waddington di Inggris. Pesawat AWACS adalah salah satu dari pesawat-pesawat komando dan pengawas paling canggih dalam persenjataan NATO yang dapat memantau daerah luas dari udara.
Sumber-sumber diplomatik mengatakan AWACS secara rutin digelar dan menyangkut itu, tidak ada yang luar biasa dalam penggelaran ini dalam kasus ini. Akan tetapi tidak biasa bagi penggelaran pesawat itu diumumkan secara terbuka, kata mereka.
Sementara itu Rusia menuduh para aktivis ekstrem kanan di Ukraina dan pemerintah Kyiv yang pro-Barat menciptakan “kekacauan†di bagian timur Ukraina yang berbahasa Rusia, sementara pasukan yang pro-Rusia terus merebut pangkalan-pangkalan militer Ukraina di semenanjung Krimea. Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, yang menyebut kelompok ekstrem kanan Ukraina “Sektor Kanan,†juga menuduh pemerintah negara-negara Barat membiarkan kekerasan itu.
Pernyataan tersebut dikeluarkan sementara Departemen Pertahanan Ukraina mengatakan orang-orang bersenjata yang berpakaian seragam mengepung dan menyita pangkalan angkatan laut Krimea di Chernomorskoye, dan sebuah rumah sakit militer di Simferopol. Harian New York Times mengatakan polisi menghentikan wawancara dengan seorang pria setempat di Chernomorskoye, dan mengancam para wartawan dan menyita catatan mereka.
Perdana Menteri sementara Ukraina Arseniy Yatsenyuk akan bertemu dengan Presiden Barack Obama di Gedung Putih hari Rabu (12/3). Pernyataan Gedung Putih mengatakan kunjungan itu akan menunjukkan dukungan kuat Amerika Serikat bagi rakyat Ukraina, dan akan mencakup pembicaraan mengenai bantuan ekonomi dan persiapan akan pemilu bulan Mei di Ukraina.
Sementara itu Viktor Yanukovych menegaskan dirinya masih tetap presiden sah negara Ukraina dan panglima militer, dan mengatakan ia yakin akan dapat segera kembali ke Kiev. "Saya tetap presiden sah Ukraina dan juga panglima militer," katanya dalam penampilan publik petamanya lebih dari sepekan, di kota Rusia selatan Rostov-on-Don. "Segera setelah situasi memungkinkan-- dan saya yakin tidak akan lama menunggu-- saya pasti akan kemali ke Kiev," tambahnya.
Bertentangan dengan konferensi persnya yang lama ketika ia muncul kembali di Rusia, Yanukovych, yang berbahasa Rusia, hanya memberian satu pernyataan tujuh menit dalam satu ruang konferensi di Rostov-on-Don, berdiri di depan beberapa bendera Ukraina.
Ia menegaskan keyakinannya bahwa kekuasaan di Kiev telah diambil oleh satu "kelompok kaum ultr-nasionalis dan neo-fasis" dan mengatakan pemilihan presiden Mei nanti "sama sekali tidak sah dan ilegal". Yanukovich mengemukakan kepada para penguasa baru yang pro-Barat di Ukraina merebut kekuasaan setelah ia lari ke Rusia bulan lalu bahwa "cepat atau lambat, kemungkinan besar lebih cepat" mereka akan memikul tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka.
"Anda akan bertanggung jawab atas penderitaan rakyat. Ukraina kini sedang melalui waktu yang sulit," katanya. Ia menyalahkan mereka atas fakta bahwa Ukraina tampaknya kehilangan kekuasaan atas Crimea yang diklaim oleh Rusia setelah satu referendum pekan depan.
"Tindakan-tindakan anda telah membawa pada fakta bahwa Krimea melepaskan diri dan penduduk daerah selatan dan timur menuntut dihargai, bahkan menhadapi mesin senjata-senjata," katanya. "Kita akan melalui masalah ini , rakyat yang telah dicurangi oleh keinginan anda akan menyaksikan negara ini akan bangkit dan bersatu," kata Yanukovych.
Tawarkan Bantuan 3 Miliar Dollar ASBank Dunia, Senin (10/3), mengatakan, mereka siap menawarkan bantuan 3 miliar dollar AS untuk Ukraina. Bantuan tersebut untuk mendukung reformasi ekonomi dan pembangunan oleh pemerintah sementara Ukraina. Bank Dunia mengatakan, mereka menerima permintaan dari otoritas di Kiev, Ukraina, yang mengambil alih kekuasaan setelah tergulingnya presiden pro-Rusia, Viktor Yanukovch. "Kami berkomitmen mendukung rakyat Ukraina pada masa-masa sulit dan sangat berharap bahwa situasi di negara itu segera stabil," kata Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim.
"Kami mendukung pemerintah untuk melakukan reformasi yang sangat diperlukan untuk menempatkan perekonomian di jalan menuju keberlanjutan." Bank Dunia mengatakan, perekonomian Ukraina menghadapi beberapa tantangan serius yang butuh tindakan mendesak dalam jangka pendek serta reformasi berkelanjutan untuk jangka panjang. Menurut Bank Dunia, prioritas utama sekarang adalah memulihkan stabilitas makro-ekonomi, menopang bank-bank di negara tersebut, reformasi sektor energi, dan keseriusan menangani korupsi.
Bantuan 3 miliar dollar pada 2014 ini akan berdampingan dengan program investasi dan jaminan multiyear yang dikucurkan Bank Dunia di Ukraina dengan total nilai 3,7 miliar dollar AS. Bank Dunia mendukung pula pembangunan infrastruktur di Ukraina, seperti jaringan pasokan air, sanitasi, listrik, dan jalan.
Tawaran Bank Dunia ini muncul di tengah upaya yang melibatkan, antara lain Dana Moneter Internasional (IMF), Amerika Serikat, dan Uni Eropa, untuk membantu memperkuat otoritas baru Ukraina. Washington menawarkan bantuan 1 miliar dollar AS berupa jaminan pinjaman. Pekan lalu, Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso mengumumkan bantuan tak kurang dari 11 miliar euro.
IMF berada di garis depan dalam upaya mendorong Ukraina melakukan reformasi yang memadai dan transparan atas lembaga keuangannya. Setelah dua hari berbicara dengan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk dan tim ekonominya, Jumat (7/3), Direktur Departemen Eropa IMF Reza Moghadam mengatakan terkesan dengan tanggung jawab dan komitmen reformasi ekonomi Ukraina.
"IMF siap membantu rakyat Ukraina dan mendukung program ekonomi pemerintah untuk menempatkan Ukraina di jalan tata kelola ekonomi yang baik dan pertumbuhan yang berkelanjutan, sekaligus melindungi masyarakat miskin dan rentan," kata Moghadam. Sementara itu, Yatsenyuk mengatakan, dia mewarisi pemerintahan dengan kas yang nyaris kosong dan cadangan devisa sangat rendah.
(Ant/AFP/w)Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.