Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Antisipasi Perang Pecah, 1 Juta Pemuda Korut Masuk Militer

- Senin, 24 Agustus 2015 12:07 WIB
494 view
 Antisipasi Perang Pecah, 1 Juta Pemuda Korut Masuk Militer
SIB/AP Photo/Ahn Young-joon
Roket multiguna militer Korsel dikerahkan di Yeoncheon, selatan zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Kores, Minggu (23/8), menyusul ketegangan yang terus meningkat di sepanjang perbatasan meski kedua pihak telah memulai kembali perundingan.
Pyongyang (SIB)- Media Pemerintah Korea Utara, Minggu (23/8), mengabarkan lebih dari 1 juta pemuda telah mendaftarkan diri ke angkatan bersenjata jika konflik bersenjata dengan Korea Selatan pecah. Kantor berita KCNA mengabarkan, para pemuda itu datang dari berbagai penjuru negeri untuk mendaftarkan diri dalam sebuah perang suci untuk mempertahankan negara dan menghancurkan musuh.

Namun, dari pemantauan kantor berita AP, suasana di ibu kota Pyongyang pada Minggu pagi menjelang siang tampak normal dan tenang. Warga kota Pyongyang menjalani rutinitas mereka sehari-hari. Sejumlah truk penuh tentara yang menyanyikan lagu-lagu heroik sesekali terlihat melintas di jalanan kota. Sebuah minibus dengan jaring kamuflase terlihat parkir di dekat stasiun kereta api Pyongyang.

Sementara itu, juru bicara kepresidenan Korea Selatan mengatakan, pembicaraan tingkat tinggi kedua Korea digelar kembali untuk pertama kali dalam satu tahun. Kedua Korea, yang berkepentingan untuk meredakan ketegangan yang kali ini sangat berpotensi untuk memicu perang, bertemu di desa perbatasan Panmunjom pada Sabtu (22/8) petang.

Pertemuan di desa Zona Demiliterisasi, DMZ, terkenal dengan gedung berwarna biru terang dan tentara berwajah kaku, dimulai tidak lama setelah batas waktu ultimatum Korea Utara yang menuntut Seoul menghentikan siaran propaganda ke seberang perbatasan atau menghadapi aksi militer.  Kantor presiden Korea Selatan mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa Utusan ke perundingan ini membicarakan cara memecahkan ketegangan yang terjadi dan meningkatkan hubungan.

Meski kedua Korea memulai kembali perundingan, namun ketegangan masih terjadi di lapangan. Korut dilaporkan melipatgandakan pengerahan tentara di perbatasan dan mayoritas armada kapal selamnya berlayar jauh dari pangkalan. Sedangkan Korsel yang juga telah menyiagakan militernya, tidak ada rencana menghentikan propaganda yang memicu pertikaian kedua negara.

Saling tembak artileri terjadi pada Kamis yang mendorong PBB, Amerika dan satu-satunya pendukung Korea Utara yaitu China, menghimbau kedua negara untuk menahan diri. Seorang pejabat pertahanan Korea Selatan mengatakan militer negaranya masih dalam keadaan siaga meski ada perundingan kedua negara.

Penasehat keamanan Presiden Korea Selatan Park Geun-hye dan menteri unifikasi bertemu dengan Hwang Pyong So, penasehat militer tertinggi Kim Jong Un, dan Kim Yang Gon, seorang pejabat veteran masalah antar-Korea.

“Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk melakukan kontak terkait dengan situasi yang sekarang terjadi dalam hubungan Selatan-Utara,” ujar Kim Kyou-hyun, wakil penasehat keamanan nasional Korea Selatan dalam satu jumpa pers yang disiarkan di televisi.

Pada Jumat Pyongyang mengajukan usul awal pertemuan itu, dan Seoul mengajukan usul yang sudah diubah yang menginginkan kehadiran Hwang.  Kantor berita Korea Utara, KCNA, juga mengumumkan pengumuman itu dengan menyebut Korea Selatan sebagai Republik Korea, satu pengakuan terhadap negara musuhnya itu yang jarang dilakukan. Situasi ini berbeda dengan retorika yang keluar sebelumnya.

“Mereka harus bisa mencapai satu kesepakatan yang bisa membuat kedua belah pihak tidak merasa malu. Itu yang sulit,” ujar James Kim, peneliti di Institut Asia untuk Studi Kebijakan di Seoul.  “Korea Utara kemungkinan akan menuntut siaran propaganda dihentikan, dan mereka kemungkinan menemui jalan buntu dalam isu ini.” (kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru