Tachira (SIB)- Ratusan warga Kolombia terlihat mengular menyeberangi sungai Tachira di perbatasan Venezuela-Kolombia, memanggul harta benda mereka, mulai dari kulkas, ayam, kambing atau kasur. Mereka diusir paksa oleh pemerintah Venezuela dan rumah mereka diancam diratakan dengan tanah.
Seperti diberitakan Reuters, Rabu (26/8), warga Kolombia ini telah tinggal bertahun-tahun di desa miskin Ernesto Guevara di perbatasan. Mereka harus meninggalkan rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu atau seng dan kembali ke Kolombia. "Saya ingin menangis, saya kehilangan segalanya dalam semalam," kata seorang warga, Darwin Arena, 26, yang bersama istrinya susah payah membawa barang bawaan mereka dengan gerobak.
Ratusan warga ini diusir dari rumah mereka setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan perang terhadap paramiliter dan geng penyelundup di perbatasan. Perbatasan Venezuela-Kolombia memang tempat bagi para penyelundup narkotika, paramiliter, gerilyawan sayap kanan, dan gembong perdagangan manusia.
Maduro menyalahkan warga Kolombia atas resesi yang menimpa negerinya, membuat hubungan kedua negara merenggang. Ketegangan diperparah oleh terlukanya tentara Venzuela dalam baku tembak dengan penyelundup. Pekan lalu, Maduro menutup perbatasan dan memberikan aparat wewenang untuk menyisir rumah dan tempat usaha warga Kolombia di negara itu tanpa surat perintah.
Tentara Venezuela menyambangi rumah di Ernesto Guevara dan menandai aset milik warga Kolombia dengan huruf "D" untuk dihancurkan dan menjarah seluruh harta benda mereka. Ketakutan, kebanyakan warga Kolombia memilih hengkang. "Garda Nasional datang dan mengatakan kami punya 72 jam untuk pergi dan mereka akan menghancurkan rumah kammi. Apakah kami mirip paramiliter?" kata Luz Nelsi, 36, yang rumahnya ditandai huruf D besar.
Pemerintah Venezuela menolak mengomentari masalah ini. Namun Gubernur negara bagian Tachira Jose Vielma mengatakan bahwa tindakan mereka ini bukan pelanggaran HAM karena bertujuan untuk melindungi Venezuela.
Selama puluhan tahun tinggal di Ernesto Guevara, warga Kolombia di kota itu telah hidup berdampingan dengan penduduk Venezuela. Ibu rumah tangga Maria Velazco, 47, membantu kawannya seorang warga Kolombia berkemas-kemas untuk pergi. "Ini seperti saat rumah warga Yahudi ditandai dengan gambar bintang oleh Jerman," kata Velazco.
Badan bencana Kolombia mengirimkan 500 bantuan medis seperti tenda dan popok ke kota Cucuta yang terletak di perbatasan. Pemerintah Kolombia mengatakan, lebih dari 1.000 orang dideportasi paksa dari Venezuela. "Meratakan rumah, memaksa warga, memisahkan antar keluarga, tidak memperbolehkan mengambil harta mereka yang sedikit dan menandai rumah mereka untuk dihancurkan sangat tidak bisa diterima dan mengingatkan pada kisah pahit kemanusiaan yang tidak boleh terulang," kata Presiden Kolombia Juan Manuel Santos.
Disamakan Dengan Donald Trump
Presiden Venezuela Nicolas Maduro sudah biasa diserang pengritiknya dengan sebutan diktator komunis, tapi pemimpin sosialis Amerika Latin itu tidak pernah menduga akan dibandingkan dengan calon Presiden Amerika Serikat Donal Trump.
Penutupan pintu perbatasan dan pemulangan ratusan pendatang asal Kolombia oleh Venezuela baru-baru ini justru menjadi bahan kritik kelompok oposisi. Mereka membandingkan kebijakan itu dengan usul Trump soal pengusiran pendatang gelap. Trump juga mengutarakan pemikiran untuk memaksa Mesiko membayar pembangunan tembok pemisah di antara negara tersebut dengan Amerika Serikat. "Maduro sering mengkritik Donald Trump, tapi tidakannya terhadap pendatang dari Kolombia justru lebih buruk daripada usul Trump," kata politisi dari kelompok oposisi, Saverio Vivas.
Maduro menepis perbandingan dirinya dengan Donald Trump. "Mereka mengatakan Maduro sama saja dengan Donald Trump! Bayangkan saja. Saya bahkan tidak punya potongan rambut yang sama, demikian pula jumlah uang dalam rekening kami," kata dia dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi lokal pada Senin lalu.
Di sisi lain, Maduro juga menyatakan bahwa Venezuela telah menjadi "korban" kelangkaan barang-barang akibat penyelundupan oleh pedagang gelap Kolombia yang menyelinapkan segalanya dari deterjen sampai bensin di perbatasan.
Perbatasan Venezuela-Kolombia sepanjang 2.219 kilometer itu memang sering menjadi jalur penyelundupan barang serta kelompok-kelompok bersenjata ilegal. Tudingan penyelundupan sebagai sebab dari kelangkaan itu kemudian dibantah oleh kelompok oposisi. Mereka menyatakan, kebijakan kontrol harga dan mata uang dari pemerintah telah membuat bisnis penyelundupan menjadi menguntungkan. Mantan Presiden Kolombia Andres Pastrana, seorang konservatif yang sering mengkritik Maduro, baru-baru ini mengatakan bahwa pernyataan presiden Venezuela," jelas mirip seperti Trump versi Amerika Latin".
Dengan peningkatan kekecewaan terhadap kepemimpinan Maduro--yang sejauh ini gagal mengatasi kelangkaan barang, melonjaknya inflasi dan tindakan kriminal--beberapa warga mulai menganggap benar perbandingan antara presidennya dengan Trump.
"Menurut saya, keduanya orang gila. Tindakan mereka mendeportasi imigran Kolombia sangat tidak bisa dibenarkan. Saya sangat sedih melihat negara saya nampak buruk," kata Pedro Torrealba, seorang mahasiswa fakultas hukum berusia 21 tahun.
(CNN Indonesia/Ant/Rtr/d)