Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Ketegangan Reda, Korsel akan Tingkatkan Anggaran Militer

- Sabtu, 29 Agustus 2015 11:46 WIB
246 view
Ketegangan Reda, Korsel akan Tingkatkan Anggaran  Militer
Seoul (SIB)- Menyusul ketegangan yang terjadi antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) pekan lalu, Pemerintah Korsel menyatakan akan meningkatkan anggaran belanja militernya secara drastis pada 2016. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya konflik bersenjata yang hampir terjadi dengan Korut.

Dalam pertemuan dengan para anggota parlemen dari partai berkuasa Saenuri di Seoul, Menteri Keuangan Korsel Choi Kyung-hwan mengatakan bahwa ketegangan yang baru saja dilewati Korsel dengan Korut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesiagaan perang pasukan yang berada di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara. Choi juga menegaskan bahwa negaranya perlu bersiap untuk menghadapi ancaman dari sejumlah kapal selam Korut.

Meski begitu, Choi menyatakan bahwa Korsel menyatakan akan tetap mendorong upaya rekonsiliasi dengan Korut dan berusaha membangun hubungan yang erat dengan negara pimpinan Kim Jong-un itu. Keinginan itu ditunjukkan dengan dipercepatnya pembangunan Taman Perdamaian di wilayah DMZ.
“Usaha akan dilakukan untuk pembangunan Taman Perdamaian DMZ dan penyambungan kembali jalur kereta api Gyeongwon yang menghubungkan Seoul di Korsel dengan Wonsan di Korut,” kata Menteri Choi, sebagaimana dilansir Yonhap, Kamis (27/8).

Kedua negara yang bertetangga itu hampir memasuki Perang Korea kedua setelah terlibat dalam saling tembak roket dan artileri pada 20 Agustus. Peristiwa itu terjadi menyusul insiden terlukanya dua prajurit Korsel akibat ranjau darat dan tuntutan Korut agar Korsel menghentikan propagandanya. Peperangan dapat terhindarkan setelah pejabat dari Korut dan Korsel mengadakan pembicaraan tingkat tinggi untuk meredakan ketegangan.

Sementara pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un memuji kesepakatan yang dicapainya dengan Korea Selatan, pekan lalu. Kim Jong Un menyebut kesepakatan itu sebagai momen bersejarah untuk meniti jalan menuju hubungan yang lebih baik antara kedua negara.

Namun Kim Jong Un menyebut bahwa kekuatan dari militer mereka yang mampu mewujudkan kesepakatan tersebut. Pada Selasa (25/8) lalu, Korut dan Korsel sepakat untuk mengakhiri ketegangan militer yang sempat diwarnai aksi saling tembak di perbatasan.

Kedua negara sepakat untuk membuka kembali jalur dialog untuk membahas serangkaian isu dengan tujuan meningkatkan hubungan kedua negara. Kesepakatan ini memicu harapan bagi dimulainya kembali perundingan damai kedua negara yang sempat terhenti tahun 2010 lalu.

"Konferensi pers gabungan yang dilakukan menjadi momen bersejarah untuk meredakan ketegangan militer akut dan menempatkan hubungan inter-Korea yang buruk ke jalur rekonsiliasi dan kepercayaan," tutur Kim Jong Un seperti dikutip kantor berita resmi Korut, Korean Central News Agency (KCNA).

"Terima kasih luar biasa kepada kekuatan militer dengan sistem pertahanan diri yang disertai kemampuan perlindungan nuklir sebagai poros dan jajaran tak tertandingi yang bersatu di sekitar partai (Partai Pekerja Korea)," imbuhnya.

Pernyataan ini disampaikan Kim Jong Un dalam rapat Komisi Militer Pusat Partai Pekerja Korea. Forum tersebut merupakan forum yang sama yang menjadi tempat Kim Jong Un menyerukan aksi militer terhadap Korsel, pekan lalu.

Pada Jumat (28/8), Kementerian Unifikasi Korsel menuturkan, Palang Merah Korsel telah mengajukan permohonan dialog untuk membahas rencana reuni keluarga Korut-Korsel yang terpisah sejak Perang Korea tahun 1950-1953 silam. Dialog ini akan digelar di Desa Panmunjom dekat perbatasan pada 7 September mendatang. (Detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru