Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Harga Pangan Merosot, Paris Dibanjiri Ribuan Traktor

- Jumat, 04 September 2015 11:15 WIB
362 view
 Harga Pangan Merosot, Paris Dibanjiri Ribuan Traktor
Paris (SIB)- Lebih dari 1.000 traktor milik petani berdatangan ke jalanan di ibukota Paris, Prancis. Aksi ini dilakukan para petani untuk memrotes merosotnya harga pangan. Seperti dilansir AFP, Kamis (3/9), beberapa traktor mulai tiba di Place de la Nation, wilayah timur Paris pada jam-jam sibuk pagi hari. Warga Paris diimbau untuk tidak menggunakan mobil pribadi, mengingat lalu lintas berpotensi lebih padat dari biasanya.

Dengan mengendarai traktor mereka, para petani datang dari segala penjuru Prancis secara perlahan. Aksi ini didasari kemarahan atas merosotnya harga pangan yang menurut mereka, disebabkan oleh kompetisi dengan produk asing, adanya sanksi Rusia, dan kesepakatan dari supermarket maupun distributor lokal.

Dibutuhkan waktu seminggu bagi para petani dari pinggiran Prancis ini untuk tiba di Paris. Mereka melaju dari wilayah masing-masing dengan kecepatan 35 kilometer per jam. Traktor pertama tiba dari wilayah Brittany, yang ada di barat laut negara tersebut, yang banyak memproduksi susu dan daging babi.

Serikat petani terkemuka di Prancis, FNSEA menyatakan akan ada 1.733 traktor dan juga puluhan mobil maupun bus yang ikut aksi ini. Kepolisian setempat menyebutkan, ada lebih dari 1.300 traktor yang saat ini tengah mendekati Paris.

Untungnya, banyak warga yang mematuhi imbauan polisi dan memilih menggunakan transportasi publik pada Kamis (3/9) pagi waktu setempat. "Tidak ada banyak kemacetan yang disebabkan demonstran. Hanya terbatas," tutur juru bicara pusat informasi lalu lintas Paris.

Kombinasi berbagai faktor, mulai dari kebiasaan diet konsumen, lesunya permintaan China dan embargo Rusia terhadap produk-produk Barat telah mendorong penurunan tajam harga pangan seperti daging sapi, daging babi dan susu. Delegasi sekitar 100 petani telah mendatangi kantor Parlemen Prancis pada Kamis (3/9) waktu setempat untuk menyampaikan tuntutan mereka. "Menyampaikan tuntutan dan keluhan dari dunia pertanian dan pedesaan yang berada di ambang kehancuran dan mengharapkan banyak hal dari perwakilan nasional," demikian pernyataan pihak Serikat Petani Prancis, FNSEA.

Pawai ini juga dijadikan ajang latihan menyambut unjuk rasa besar-besaran dari seluruh petani di Eropa yang akan diselenggarakan di Brussels pada Senin (7/9) mendatang. Hari itu, Menteri Pertanian Uni Eropa dijadwalkan datang untuk berdiskusi mengenai krisis sektor ternak dan susu.

Beberapa bulan belakangan, para petani ternak Perancis mengeluhkan anjloknya harga akibat persaingan asing, rendahnya permintaan akibat embargo Rusia terhadap produk Barat, dan pemerasan oleh pengecer. Akibat segala masalah ini, sekitar 10 persen peternak terancam bangkrut.

Mereka pun mulai melakukan aksi unjuk rasa sejak pertengahan Juli. Para petani ternak menutup ruas jalan rute menuju Mont Saint-Michel, salah satu situs turis terkenal. Mereka juga membuang kotoran di luar salah satu swalayan yang berperan besar dalam industri ternak di barat Perancis.

Protes kian meluas ketika para petani mulai membatasi impor dari produsen Jerman dan Spanyol. Aksi ini membuat Komisi Eropa langsung turun tangan untuk memastikan bahwa aktivitas impor produk ternak masih dapat terus berputar di seluruh pelosok Eropa. Membendung banjir protes tersebut, pemerintah mengumumkan bantuan berupa rabat pajak, pembayaran tunggakan, dan jaminan pinjaman pada akhir Juli. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru