Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

Miliarder Mesir Berniat Beli Pulau untuk Tampung Pengungsi

*Turki Tangkap 4 Tersangka Penyelundup Manusia
- Sabtu, 05 September 2015 12:18 WIB
310 view
 Miliarder Mesir Berniat Beli Pulau untuk Tampung Pengungsi
Kairo (SIB)- Miliarder asal Mesir, Naguib Sawiris menawarkan solusi bagi para pengungsi kemanusiaan. Sawiris menawarkan diri untuk membeli sebuah pulau di wilayah Yunani atau Italia, untuk tempat tinggal ratusan ribu pengungsi. Sawiris merupakan CEO Orascom TMT, yang mengoperasikan jaringan telepon genggam di Timur Tengah dan Afrika, serta Korea. Sawiris juga memiliki stasiun televisi di Mesir dan keluarganya dikenal sebagai pemilik resor El Gouna di Laut Merah.

Seperti dilansir AFP, Jumat (4/9), Sawiris menyatakan niatnya membeli pulau di wilayah Mediterania, yang kemudian dikembangkan untuk membantu para pengungsi asal Suriah dan wilayah konflik lainnya. "Yunani atau Italia juallah sebuah pulau kepada saya, saya akan menyatakannya merdeka dan menjamu para imigran dan memberikan pekerjaan bagi mereka untuk membangun negara mereka sendiri," tulis Sawiris melalui akun Twitter-nya.

Sejak Januari lalu, lebih dari 2.300 pengungsi tewas di lautan, saat hendak mengungsi ke wilayah Eropa. Sebagian besar dari para pengungsi ini merupakan warga Suriah yang menyelamatkan diri dari konflik berkepanjangan di negara mereka. Dalam wawancara dengan televisi setempat, Sawiris menyatakan akan mendekati pemerintah Yunani dan juga Italia untuk membahas rencananya ini.

Saat ditanya apakah dirinya yakin rencananya ini bisa terwujud, Sawiris menjawab: "Tentu saja, ini mudah dicapai." Sawiris menuturkan, sebuah pulau di Yunani atau Italia berharga sekitar US$ 10 juta hingga US$ 100 juta, atau setara Rp 141 miliar hingga Rp 1,4 triliun. "Hal yang paling utama adalah investasi terhadap infrastruktur," sebutnya.

"Akan ada empat penampungan sementara sebagai tempat tinggal mereka, kemudian Anda mulai mempekerjakan orang-orang untuk membangun rumah, sekolah, universitas, rumah sakit. Dan jika ada perkembangan, siapapun yang ingin kembali (ke kampung halaman) bisa kembali," terangnya. Sawiris menjamin, mereka yang mengungsi akan diperlakukan seperti layaknya manusia. "Cara mereka diperlakukan sekarang, mereka diperlakukan seperti ternak," tandasnya.

Sementara itu otoritas Turki menangkap empat tersangka penyelundup manusia. Penangkapan ini terkait kematian 12 imigran asal Suriah, termasuk bocah 3 tahun yang fotonya terdampar di tepi pantai telah menuai keprihatinan dunia. Keempat tersangka yang ditangkap ini berkewarganegaraan Suriah dan berusia antara 30-41 tahun. Keempatnya dikenai dakwaan berlapis, salah satunya menyelundupkan imigran secara ilegal.

"Menyebabkan kematian lebih dari satu orang," demikian dilaporkan kantor berita Dogan. Keempat tersangka hadir dalam sidang yang digelar pada Kamis (3/9) waktu setempat. Tayangan televisi setempat menampilkan keempat tersangka yang menutup wajahnya, ketika dikawal keluar oleh polisi setempat.

Sedikitnya 12 imigran ditemukan tewas pada Rabu (2/9), ketika dua kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Turki. Kapal-kapal imigran ini tengah menyeberangi Laut Aegean untuk mencapai daratan Eropa. Namun mata publik tertuju pada bocah 3 tahun bernama Aylan yang jasadnya terjepret kamera wartawan, tergeletak di tepi pantai Turki. Foto Aylan menyebar luas melalui media sosial dan memicu keprihatinan publik. Kakak laki-lakinya yang berusia 4 tahun dan ibunya, Rihana juga tewas ketika kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Laporan menyebut bahwa keluarga Aylan yang berasal dari Kobane, Suriah berniat mengungsi ke Kanada.

Didesak

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Antonio Guterres, mendesak Uni Eropa  untuk menerima hingga 200.000 pengungsi sebagai bagian dari "program relokasi massal". "Orang-orang yang diketahui punya klaim perlindungan yang sah ... harus mendapatkan keuntungan dari program relokasi massal, dengan partisipasi wajib dari semua negara anggota Uni Eropa," kata Guterres dalam sebuah pernyataan.

Dia menambahkan, "Sebuah perkiraan sangat awal menunjukkan sebuah kebutuhan potensial bisa meningkatkan peluang relokasi hingga sebanyak 200.000 orang." Seruan Guterres disampaikan menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa pada Jumat malam guna membahas krisis pengungsi di benua itu.
Guterres mengatakan, "Eropa tidak bisa terus menanggapi krisis ini dengan pendekatan sedikit demi sedikit atau bertahap." "Tidak ada negara yang mampu melakukannya sendiri, dan tidak ada negara yang bisa menolak untuk melakukan bagiannya," katanya.

Desakan Guterres sesuai dengan seruan Perancis dan Jerman untuk mengikat kuota Uni Eropa demi berbagi beban masuknya migran dan pengungsi, yang telah melanda Yunani, Italia dan negara transit di Eropa tenggara dan tengah. Sebuah sumber Uni Eropa mengatakan kepada AFP bahwa Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker minggu depan akan mengungkap sebuah rencana relokasi setidaknya 120.000 lebih pengungsi. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru