Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 04 September 2026

ISIS Dikhawatirkan Susupi Pengungsi di Eropa

* Prancis: Menerima Semua Pengungsi Suriah Berarti Kemenangan Bagi ISIS
- Rabu, 09 September 2015 12:32 WIB
469 view
ISIS Dikhawatirkan Susupi Pengungsi di Eropa
SIB/Rtr
Seorang wanita mengangkat selebaran berisi slogan protes saat mengikuti aksi demo menuntut perubahan kebijakan terhadap pengungsi di Eropa, Minggu (6/9). Spanyol mengkhawatirkan gelombang pengungsi asal negara konflik Timur Tengah rawan disusupi militan I
Madrid (SIB)- Pemerintah Spanyol menyerukan pengawasan lebih ketat terhadap gelombang pengungsi besar-besaran dari Suriah ke Eropa. Spanyol khawatir gelombang pengungsi ini disusupi militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). "Kebanyakan ialah pengungsi yang melarikan diri dari perang, teror, tapi kita tidak bisa melupakan Daesh yang ada di sana dan kelompok barbar ini telah menunjukkan mereka mampu mewujudkan ancaman mereka," tutur Menteri Dalam Negeri Spanyol, Jorge Fernandez Diaz kepada ABC dan dilansir AFP, Selasa (8/9). Daesh merupakan nama Arab dari ISIS. "Bagaimana bisa kita meragukannya, bisa jadi di antara gelombang orang-orang ini yang bukan pengungsi sesungguhnya, bisa menyusupkan diri mereka. Di samping itu, jelas bahwa orang-orang ini mengungsi dari Suriah dan Daesh ada di sana," imbuhnya.

Namun Diaz menegaskan, Spanyol tidak akan mengabaikan hak para pengungsi untuk mendapatkan suaka di wilayahnya. "Spanyol tidak akan menolak hak suaka bagi siapa pun," ucapnya. "Namun pengawasan harus diperkuat untuk menyambut orang-orang ini," tambah Diaz.

Pemimpin Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker akan mengungkapkan rencana baru untuk menangani gelombang pengungsi ini pada Rabu (9/9) besok. Rencana ini termasuk aturan baru untuk merelokasi 120 ribu pengungsi yang kini ada di kawasan Uni Eropa, di bawah sistem kuota wajib.

Disebutkan bahwa dalam proposal Juncker tersebut, Jerman dan Prancis akan menampung separuh pengungsi untuk meringankan beban Yunani, Italia dan Hungaria. Sedangkan Spanyol sendiri, menurut sumber otoritas Eropa kepada AFP, akan menampung sekitar 15 ribu pengungsi.

Kemenangan Bagi ISIS
Krisis pengungsi melanda Eropa. Pemerintah Prancis mengingatkan bahwa menerima semua pengungsi yang lari dari penindasan militan ISIS di Suriah dan Irak adalah merupakan kesalahan. Karenanya, Prancis menyerukan adanya rencana aksi untuk memastikan keberagaman Timur Tengah tetap terjaga meskipun dilanda konflik. "Ini memang sangat sulit, namun jika semua pengungsi ini datang ke Eropa atau lainnya, maka Daesh telah memenangkan pertandingan," kata Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius kepada radio RTL seperti dilansir kantor berita Reuters, Selasa (8/9). Daesh merupakan nama Arab dari ISIS.

Hal tersebut disampaikan Fabius di tengah berlangsungnya pertemuan para menteri dari 60 negara, termasuk dari Irak, Yordania, Turki dan Libanon. "Tujuan dari konferensi ini adalah agar Timur Tengah tetap Timur Tengah, yang berarti sebuah wilayah keberagaman di mana ada warga Kristen, Yazidi, dan lain-lain," tutur Fabius. Dalam pertemuan yang digelar di Paris, Prancis tersebut, para menteri membahas langkah-langkah terkait gelombang pengungsi dari Irak, Suriah dan lainnya yang membanjiri Eropa saat ini.

Alasan Jerman Tampung Pengungsi Suriah
Kesediaan Jerman menerima pengungsi, terutama dari Suriah, dalam beberapa waktu terakhir ini tak lepas dari situasi darurat yang terjadi di Hongaria dan rasa solidaritas di masyarakat Jerman sendiri. Hal ini disampaikan Berthold Damshauser, pemerhati masalah sosial di Bonn, ketika ditanya tentang sikap Jerman terkait krisis pengungsi di Eropa. "Ada situasi darurat di Hongaria. Para pengungsi tidak ditangani dengan baik sehingga Pemerintah Jerman membuka jalan bagi mereka," ujar Damshauser kepada BBC Indonesia, Selasa (8/9).

Sejak pekan lalu, puluhan ribu pengungsi, sebagian besar dari Suriah yang masuk ke Eropa melalui Yunani dan Hongaria, tiba di Jerman dan disambut hangat warga setempat. Penerimaan secara terbuka sebagian masyarakat Jerman ini, menurut Damshauser, mungkin disebabkan oleh pengalaman warga Jerman pada masa lalu. Jerman kalah di Perang Dunia II dan jutaan warga Jerman menjadi pengungsi dan terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka di Jerman bagian timur.

"Jadi, Jerman pernah mengalami masalah pengungsi dan mungkin masih banyak orang yang ingat bagaimana sulitnya menjadi pengungsi," kata Damshauser. "Selain itu, saya bisa mengatakan bahwa rasa kemanusiaan di masyarakat Jerman cukup tinggi. Ada empati yang besar terhadap orang-orang yang menderita.

Ini fenomena yang menarik, yang menunjukkan kematangan dari masyarakat Jerman," katanya. Namun, Damshauser juga mengemukakan bahwa ada masyarakat di Jerman yang tidak suka pemerintah membuka diri terhadap para pendatang.

Ia menambahkan, pemerintah sendiri menegaskan menerima banyak pengungsi tidak akan menjadi kebijakan rutin. Dalam perkembangan terkait, Komisi Eropa merampungkan proposal relokasi 160.000 pengungsi ke sejumlah negara Eropa. Jika rancangan ini disetujui, akan ada sanksi bagi negara-negara Uni Eropa yang menolak menerima pengungsi. (AFP/dtc/BBC Indonesia/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru